Pangeran Mahkota Saudi: 95% Tersangka Korupsi Setuju Serahkan Aset
Jum'at, 24 November 2017 - 16:01 WIB
Pangeran Mahkota Saudi: 95% Tersangka Korupsi Setuju Serahkan Aset
A
A
A
RIYADH - Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan, 95 persen tersangka korupsi yang ditangkap menyetujui kesepakatan yang dibuat, yakni menyerahkan aset kepada pemerintah.
Ada sekitar 200 tersangka korupsi yang ditangkap dalam operasi “pembersihan” koruptor yang dilakukan Komite Pemberantasan Korupsi. Ke-200 tersangka itu terdiri dari miliarder, pangeran, menteri, mantan menteri dan sejumlah pejabat.
”Kami menunjukkan kepada mereka semua file yang kami miliki dan segera setelah mereka melihatnya, sekitar 95 persen menyetujui penyelesaian,” kata Mohammed bin Salman dalam wawancaranya dengan New York Times.
Aset yang setuju diserahkan kepada pemerintah itu berupa uang tunai maupun saham perusahaan mereka. Aset-aset tersangka korupsi itu diserahkan ke ke Departemen Keuangan Saudi.
”Sekitar 1 persen mampu membuktikan bahwa mereka bersih dan kasus mereka digugurkan di sana. Sekitar 4 persen mengatakan bahwa mereka tidak korupsi dan dengan pengacara mereka ingin pergi ke pengadilan,” ujar putra Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini, yang dilansir Reuters, Jumat (24/11/2017).
Pangeran Mohammed mengulangi perkiraan resmi sebelumnya bahwa pemerintah pada akhirnya dapat memulihkan sekitar USD100 miliar (Rp1.350 triliun) “uang haram” para tersangka korupsi melalui kesepakatan tersebut.
Dua pekan lalu, pemerintah Saudi mengatakan bahwa mereka telah memeriksa 208 orang yang ditangkap atas dugaan korupsi, suap dan pencucian uang. Dari ratusan orang itu, tujuh orang dibebaskan karena tidak cukup bukti.
Puluhan orang, termasuk pangeran, pejabat tinggi dan pengusaha papan atas hingga kini diyakini masih berada di hotel mewah Ritz Carlton di Riyadh saat barang-barang mereka “diproses”.
Lebih dari 2.000 rekening bank dibekukan selama penyelidikan. Langkah itu menyebabkan kekhawatiran bahwa tindakan keras tersebut dapat merusak ekonomi pihak tersangka.
Namun pemerintah bersikeras bahwa perusahaan pengusaha yang ditahan akan terus beroperasi secara normal.
”Kami memiliki ahli yang memastikan tidak ada bisnis yang bangkrut dalam proses ini,” papar Pangeran Mohammed.
Dia menolak anggapan bahwa tindakan keras ini bertujuan untuk konsolidasi kekuasaan. Menurutnya, anggapan seperti itu menggelikan.
Pangeran Mohammed menegaskan bahwa orang-orang terkemuka yang berada di hotel Ritz Carlton telah secara terbuka berjanji setia kepadanya dan reformasi yang dia canangkan. ”Mayoritas keluarga kerajaan ada di belakang (saya),” ujarnya.
”Di bawah hukum Saudi, jaksa penuntut umum independen. Kami tidak dapat mengganggu pekerjaannya, raja dapat memecatnya, tapi dia sedang dalam proses bekerja,” imbuh dia.
Ada sekitar 200 tersangka korupsi yang ditangkap dalam operasi “pembersihan” koruptor yang dilakukan Komite Pemberantasan Korupsi. Ke-200 tersangka itu terdiri dari miliarder, pangeran, menteri, mantan menteri dan sejumlah pejabat.
”Kami menunjukkan kepada mereka semua file yang kami miliki dan segera setelah mereka melihatnya, sekitar 95 persen menyetujui penyelesaian,” kata Mohammed bin Salman dalam wawancaranya dengan New York Times.
Aset yang setuju diserahkan kepada pemerintah itu berupa uang tunai maupun saham perusahaan mereka. Aset-aset tersangka korupsi itu diserahkan ke ke Departemen Keuangan Saudi.
”Sekitar 1 persen mampu membuktikan bahwa mereka bersih dan kasus mereka digugurkan di sana. Sekitar 4 persen mengatakan bahwa mereka tidak korupsi dan dengan pengacara mereka ingin pergi ke pengadilan,” ujar putra Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini, yang dilansir Reuters, Jumat (24/11/2017).
Pangeran Mohammed mengulangi perkiraan resmi sebelumnya bahwa pemerintah pada akhirnya dapat memulihkan sekitar USD100 miliar (Rp1.350 triliun) “uang haram” para tersangka korupsi melalui kesepakatan tersebut.
Dua pekan lalu, pemerintah Saudi mengatakan bahwa mereka telah memeriksa 208 orang yang ditangkap atas dugaan korupsi, suap dan pencucian uang. Dari ratusan orang itu, tujuh orang dibebaskan karena tidak cukup bukti.
Puluhan orang, termasuk pangeran, pejabat tinggi dan pengusaha papan atas hingga kini diyakini masih berada di hotel mewah Ritz Carlton di Riyadh saat barang-barang mereka “diproses”.
Lebih dari 2.000 rekening bank dibekukan selama penyelidikan. Langkah itu menyebabkan kekhawatiran bahwa tindakan keras tersebut dapat merusak ekonomi pihak tersangka.
Namun pemerintah bersikeras bahwa perusahaan pengusaha yang ditahan akan terus beroperasi secara normal.
”Kami memiliki ahli yang memastikan tidak ada bisnis yang bangkrut dalam proses ini,” papar Pangeran Mohammed.
Dia menolak anggapan bahwa tindakan keras ini bertujuan untuk konsolidasi kekuasaan. Menurutnya, anggapan seperti itu menggelikan.
Pangeran Mohammed menegaskan bahwa orang-orang terkemuka yang berada di hotel Ritz Carlton telah secara terbuka berjanji setia kepadanya dan reformasi yang dia canangkan. ”Mayoritas keluarga kerajaan ada di belakang (saya),” ujarnya.
”Di bawah hukum Saudi, jaksa penuntut umum independen. Kami tidak dapat mengganggu pekerjaannya, raja dapat memecatnya, tapi dia sedang dalam proses bekerja,” imbuh dia.
(mas)