Berpikir Korut Berlutut via Ancaman Perang Nuklir, Trump Salah Besar
Senin, 25 September 2017 - 14:36 WIB
Berpikir Korut Berlutut via Ancaman Perang Nuklir, Trump Salah Besar
A
A
A
PYONGYANG - Sebuah komite parlemen Korea Utara (Korut) mengirim sebuah surat terbuka ke beberapa parlemen internasional. Isinya berupa kecaman terhadap sikap agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap pemerintah Kim Jong-un.
Surat terbuka itu dikirim pada hari Minggu oleh Komiter Urusan Luar Negeri untuk Majelis Rakyat Agung (parlemen) Korut. Surat itu diterbitkan media pemerintah Korea Utara, KCNA, tanpa merinci parlemen negara mana saja sebagai penerimanya.
Surat terbuka itu mengutuk pidato Trump di sidang Majelis Umum PBB 19 September 2017. Trump saat itu mengancam akan menghancurkan Korut secara total. Dia juga menghina pemimpin Korut Kim Jong-un dengan sebutan “manusia roket”.
Pyongyang menyatakan, komentar Trump merupakan penghinaan yang tak tertahankan bagi rakyat Korea, sebuah deklarasi perang melawan DPRK—nama resmi Korea Utara—dan ancaman serius terhadap perdamaian global.
”Jika Trump berpikir bahwa dia akan membawa DPRK, (negara) kekuatan nuklir untuk berlutut melalui ancaman perang nuklir, ini adalah salah perhitungan dan ketidaktahuan yang besar,” bunyi surat parlemen Pyongyang tersebut yang diterbitkan KCNA, Senin (25/9/2017).
“Sejak hari pertama mengantor, Trump telah melakukan praktik sewenang-wenang tingkat tinggi, membatalkan undang-undang dan kesepakatan internasional, mengutamakan kepentingannya sendiri dengan mengorbankan seluruh dunia,” lanjut surat tersebut.
Parlemen Pyongyang menyatakan kepercayaannya bahwa parlemen dari berbagai negara di dunia yang mencintai kemerdekaan, perdamaian dan keadilan akan mengambil kesempatan ini untuk memenuhi tugas dan misi mereka yang mendasar.
Lebih lanjut, parlemen Korut juga meminta parlemen-parlemen dunia untuk waspada terhadap “langkah jahat dan sembrono dari Administrasi Trump”. ”Yang mencoba mendorong dunia ke dalam bencana nuklir yang mengerikan,” imbuh surat tersebut.
Pemerintah maupun parlemen AS hingga kini belum merespons laporan tentang surat terbuka dari parlemen Pyongyang.
Surat terbuka itu dikirim pada hari Minggu oleh Komiter Urusan Luar Negeri untuk Majelis Rakyat Agung (parlemen) Korut. Surat itu diterbitkan media pemerintah Korea Utara, KCNA, tanpa merinci parlemen negara mana saja sebagai penerimanya.
Surat terbuka itu mengutuk pidato Trump di sidang Majelis Umum PBB 19 September 2017. Trump saat itu mengancam akan menghancurkan Korut secara total. Dia juga menghina pemimpin Korut Kim Jong-un dengan sebutan “manusia roket”.
Pyongyang menyatakan, komentar Trump merupakan penghinaan yang tak tertahankan bagi rakyat Korea, sebuah deklarasi perang melawan DPRK—nama resmi Korea Utara—dan ancaman serius terhadap perdamaian global.
”Jika Trump berpikir bahwa dia akan membawa DPRK, (negara) kekuatan nuklir untuk berlutut melalui ancaman perang nuklir, ini adalah salah perhitungan dan ketidaktahuan yang besar,” bunyi surat parlemen Pyongyang tersebut yang diterbitkan KCNA, Senin (25/9/2017).
“Sejak hari pertama mengantor, Trump telah melakukan praktik sewenang-wenang tingkat tinggi, membatalkan undang-undang dan kesepakatan internasional, mengutamakan kepentingannya sendiri dengan mengorbankan seluruh dunia,” lanjut surat tersebut.
Parlemen Pyongyang menyatakan kepercayaannya bahwa parlemen dari berbagai negara di dunia yang mencintai kemerdekaan, perdamaian dan keadilan akan mengambil kesempatan ini untuk memenuhi tugas dan misi mereka yang mendasar.
Lebih lanjut, parlemen Korut juga meminta parlemen-parlemen dunia untuk waspada terhadap “langkah jahat dan sembrono dari Administrasi Trump”. ”Yang mencoba mendorong dunia ke dalam bencana nuklir yang mengerikan,” imbuh surat tersebut.
Pemerintah maupun parlemen AS hingga kini belum merespons laporan tentang surat terbuka dari parlemen Pyongyang.
(mas)