AS: Tahanan di Korut Terlihat seperti 'Kerangka Berjalan'

Kamis, 31 Agustus 2017 - 15:55 WIB
AS: Tahanan di Korut...
AS: Tahanan di Korut Terlihat seperti 'Kerangka Berjalan'
A A A
WASHINGTON - Para pemimpin kamp penjara di Korea Utara (Korut) dituduh menyiksa dan membuat tahanan kelaparan hingga terlihat seperti “kerangka berjalan”. Tuduhan ini muncul dalam laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Departemen itu menyatakan, penyiksaan juga membuat beberapa tahanan meninggal dan lumpuh.

Laporan tersebut diklaim sebagai data yang dikumpulkan dari enam kamp penjara, yang beberapa di antaranya menampung sebanyak 50.000 tahanan, di mana sebagian besar merupakan tahanan politik.

Komisi Penyelidikan PBB untuk Hak Asasi Manusia juga menyuguhkan informasi yang dipublikasikan pada hari Jumat yang merinci perjuangan sehari-hari para tahanan untuk mendapatkan makanan yang layak di kamp-kamp penjara Korut.

”Kelaparan terjadi di antara para tahanan, didorong untuk menangkap dan memakan tikus, katak dan ular,” bunyi laporan Departemen Luar Negeri AS, seperti dilansir dari New York Post, Kamis (31/8/2017).

Seorang mantan penjaga kamp, yang diidentifikasi bernama Ahn Myong-chol, mengatakan bahwa narapidana tampak seperti ”kerangka berjalan”, ”kurcaci”, dan “lumpuh di dalam kain lap”. Menurutnya, sekitar 1.500 sampai 2.000 tahanan di antaranya meninggal karena kekurangan gizi setiap tahunnya.

Jun Heo, yang pernah dikirim ke salah satu kamp penjara Korut saat masih remaja, sebelumnya mengatakan kepada Fox News bahwa dia akan dipukuli dan disiksa terus-menerus. Tangisan dan jeritan menjadi “latar belakang” yang konstan dan tahanan dipaksa melakukan kerja paksa selama 14 jam berturut-turut.

Ahn mengamini laporan pemukulan brutal di kamp penjara itu. Dia dan penjaga lainnya didorong untuk menyerang para tahanan berulang kali sebagai hukuman.

Para tahanan pada umumnya dipaksa kerja intensif di penambangan batubara dan pembuatan semen. Banyak dari mereka sering meninggal karena kecelakaan kerja.

Laporan departemen Luar Negeri AS menambahkan, ada sebuah laporan yang belum dikonfirmasi mengindikasikan lokasi uji coba nuklir sedang dibangun di sebuah kompleks penjara.

Kekejaman di kamp-kamp penjara rezim Pyongyang telah jadi sorotan media-media internasional sejak awal tahun ini setelah mahasiswa AS, Otto Warmbier, dibebaskan dalam keadaan koma setelah lebih dari setahun menjalani hukuman kerja paksa. Warmbier dihukum kerja paksa selama 15 tahun atas tuduhan mencuri poster propaganda politik dari sebuah hotel di Pyongyang.

Warmbier meninggal setelah menderita kerusakan otak parah. Pemerintah Korea Utara membantah memperlakukannya dengan kejam atau menyiksa Warmbier selama berada di penjara.
(mas)
Berita Terkait
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
5 Rudal Korea Utara...
5 Rudal Korea Utara yang Ditakuti Amerika Serikat
Korea Utara Marah Korea...
Korea Utara Marah Korea Selatan dan Amerika Serikat Mulai Latihan Militer
Korut Ancam Akhiri Amerika...
Korut Ancam Akhiri Amerika Serikat dengan Senjata Nuklir
Amerika Serikat Prediksi...
Amerika Serikat Prediksi Korea Utara Siap Tes Nuklir Bulan Ini
5 Negara Sahabat China,...
5 Negara Sahabat China, 3 di Antaranya Musuh Amerika Serikat
Berita Terkini
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
1 jam yang lalu
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
2 jam yang lalu
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
3 jam yang lalu
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
4 jam yang lalu
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
4 jam yang lalu
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
4 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved