Rusia Nilai Strategi Baru AS di Afghanistan Buntu

Jum'at, 25 Agustus 2017 - 04:26 WIB
Rusia Nilai Strategi...
Rusia Nilai Strategi Baru AS di Afghanistan Buntu
A A A
MOSKOW - Rusia menilai strategi Amerika Serikat (AS) untuk konflik di Afghanistan sebagai strategi yang buntu karena bergantung pada penggunaan kekuatan militer. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov ragu strategi baru Washington itu akan sukses.

”Penekanan utama pada strategi baru yang diumumkan oleh Washington dilakukan dengan penyelesaian melalui penggunaan kekuatan,” kata Lavrov dalam konferensi pers Kamis sore. ”Kami percaya bahwa ini adalah pendekatan buntu,” katanya lagi.

Strategi baru itu memungkinkan kontak dengan Taliban tanpa syarat. Lavrov menganggap hal itu kesalahan fatal yang membahayakan rencana perdamaian internasional yang dibentuk di Dewan Keamanan PBB.

”Jika saya mendapati strategi baru AS, ini memungkinkan kontak dengan Taliban tanpa mereka memenuhi syarat apapun,” ujar Lavrov.

”Saya tidak berpikir bahwa hal itu sejalan dengan kepentingan bersama kami untuk mengikuti garis negosiasi dan terkoordinasi yang disetujui oleh Dewan Keamanan PBB. Tapi saya berharap bahwa dalam kerangka kontak tingkat ahli yang kami miliki dengan rekan-rekan Amerika kami, kami akan dapat mengklarifikasi kontradiksi ini,” imbuh diplomat top Moskow ini, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (25/8/2017).

Lavrov mencatat bahwa Dewan Keamanan PBB, dengan persetujuan pemerintah Afghanistan, memutuskan untuk mengizinkan Taliban memasuki proses negosiasi dalam kondisi yang mencakup pemutusan hubungan teroris, mengakhiri perlawanan bersenjata, dan menghormati konstitusi Afghanistan.

”Kami menjaga kontak dengan Taliban sesuai dengan kriteria ini, mendesak mereka untuk mematuhi tuntutan Dewan Keamanan PBB,” papar Lavrov.

Strategi baru Washington diumumkan oleh Presiden Donald Trump di Pangkalan Myer-Henderson Hall pada hari Senin. Keputusan Trump ini mengejutkan, karena sebelumnya dia mendukung penarikan pasukan AS dari Afghanistan, namun kini justru mengikuti strategi pendahulunya.

“Mengakhiri keterlibatan militer 16 tahun di negara tersebut dengan sebuah penarikan pasukan yang tergesa-gesa hanya akan bermain ke tangan teroris,” kata Trump saat mengumumkan strategi barunya.
(mas)
Berita Terkait
Negara yang Pernah Diinvasi...
Negara yang Pernah Diinvasi Amerika Serikat
Rusia Ragukan Rencana...
Rusia Ragukan Rencana AS Percepat Penarikan Tentara dari Afghanistan
Rusia Bantah Laporan...
Rusia Bantah Laporan Moskow Imingi Militan Hadiah untuk Bunuh Tentara AS
Gedung Putih Bantah...
Gedung Putih Bantah Trump Telah Diberitahu Soal Rusia 'Buru' Tentara AS di Afghanistan
Taliban Bantah Ditawari...
Taliban Bantah Ditawari Hadiah oleh Rusia untuk Bunuh Tentara AS
Biden: Jika Benar, Laporan...
Biden: Jika Benar, Laporan NYT Soal Tentara Rusia Benar-benar Mengerikan
Berita Terkini
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
46 menit yang lalu
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
1 jam yang lalu
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
3 jam yang lalu
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
5 jam yang lalu
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
6 jam yang lalu
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
10 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved