Saudi Bela Diri terkait Rencana Eksekusi 14 Warga Syiah

Sabtu, 05 Agustus 2017 - 11:38 WIB
Saudi Bela Diri terkait...
Saudi Bela Diri terkait Rencana Eksekusi 14 Warga Syiah
A A A
RIYADH - Pemerintah Arab Saudi, yang menghadapi kritik terkait rencana eksekusi mati terhadap 14 warga Syiah, mengeluarkan pernyataan langka yang membela sistem peradilannya.

Ke-14 terdakwa dihukum mati atas demonstrasi dengan kekerasan yang melawan aparat keamanan Arab Saudi. Namun, pengadilan Saudi menyatakan belasan terdakwa bersalah atas tuduhan terlibat aksi terorisme.

Pembelaan atas kritik itu disampaikan juru bicara Kementerian Kehakiman Mansour al-Qafari. Menurutnya, semua terdakwa yang diadili di Arab Saudi menerima proses hukum secara adil.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan hari Jumat (4/8/2017) oleh kantor berita negara Saudi Press Agency (SPA), al-Qafari mengatakan bahwa kasus-kasus yang terkait dengan terorisme dan putusan hukuman mati telah ditinjau oleh pengadilan banding dan pengadilan tertinggi, dengan total 13 hakim meninjau kasus tersebut sebelum eksekusi dilakukan.

Rencana eksekusi terhadap 14 warga Syiah Saudi itu dikritik kelompok hak asasi manusia (HAM) Reprieve. Menurut kelompok HAM tersebut, penghakiman awal terhadap 14 terdakwa berasal dari sebuah pengadilan kontraterorisme yang "tertutup".

Sebelumnya, kalangan ulama Sunni ultrakonservatif di Arab Saudi menyebut para demonstran Syiah bersekutu dengan rival Kerajaan Arab Saudi, yakni Iran.

Sementara itu, kelompok HAM mendesak Kanada untuk membekukan penjualan senjata ke Saudi. Alasannya, kendaraan lapis baja buatan Kanada digunakan aparat keamanan Saudi untuk melakukan kekerasan terhadap warga sipil di wilayah Qatif, timur Saudi.

The Globe and Mailnewspaper merupakan media pertama yang merilis foto-foto kendaraan lapis baja buatan Kanada digunakan pasukan Saudi untuk menindak warga sipil di Qatif, wilayah yang didominasi warga Syiah.

”Bendera merah yang diangkat oleh laporan terbaru menuntut tidak kurang dari penghentian semua kontrak ekspor militer dengan Arab Saudi,” kata Cesar Jaramillo, direktur eksekutif Project Ploughshares, sebuah kelompok anti-perang Kanada.

”Jika pelanggaran dengan peralatan militer buatan Kanada dikonfirmasi, penskorsan kemudian harus menyebabkan pembatalan kontrak semacam itu,” lanjut Jaramillo kepada DWin melalui email, yang dilansir Sabtu (5/8/2017).
(mas)
Berita Terkait
Begini Suasana Perayaan...
Begini Suasana Perayaan Hari Valentine di Arab Saudi
Arab Saudi Segera Buka...
Arab Saudi Segera Buka Toko Alkohol Pertama
Pangeran Badr bin Abdul...
Pangeran Badr bin Abdul Mohsin yang Memajukan Tradisi dan Budaya Saudi Meninggal pada Usia 75 Tahun
Anak Muda Saudi Ini...
Anak Muda Saudi Ini Ubah Gurun Pasir Jadi Ladang Pertanian yang Menarik Wisatawan Asing
3 Alasan PM Netanyahu...
3 Alasan PM Netanyahu Meminta Raja Salman Mendirikan Negara Palestina di Arab Saudi
Arab Saudi Bertambah...
Arab Saudi Bertambah Kaya Raya, Ternyata Ini 3 Penyebabnya
Berita Terkini
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
4 menit yang lalu
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
1 jam yang lalu
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
1 jam yang lalu
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
3 jam yang lalu
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
4 jam yang lalu
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
4 jam yang lalu
Infografis
Arab Saudi Kecam Rencana...
Arab Saudi Kecam Rencana Israel Bangun 1000 Unit Pemukiman Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved