Tentara AS Coba Berikan Dokumen Rahasia Militer ke ISIS
Minggu, 23 Juli 2017 - 04:51 WIB
Tentara AS Coba Berikan Dokumen Rahasia Militer ke ISIS
A
A
A
WASHINGTON - Seorang tentara Amerika telah didakwa mencoba memberikan dukungan material dan rahasia militer kepada ISIS. Ia pun terancam penjara selama 20 tahun dan denda sebesar Rp3,3 miliar.
Ikaika Erik Kang, seorang sersan militer pengendali lalu lintas udara sersan militer, dituduh mencoba untuk memberikan dokumen militer yang diklasifikasikan sebagai rahasia. Ia juga mencoba untuk memberikan sebuah pesawat tak berawak dan pelatihan untuk orang-orang yang dipercaya sebagai pendukung ISIS namun sebenarnya adalah seorang agen FBI yang menyamar.
Dia juga dikatakan telah bersumpah setia kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pendiri dan pemimpin ISIS. "Kejahatan yang dituduhkan kepadanya terjadi di Hawaii, tempat ia ditugaskan, antara 21 Juni dan 8 Juli 2017," kata Departemen Kehakiman AS seperti dikutip dari Independent, Minggu (23/7/2017).
Kasus ini sekarang akan maju ke persidangan penuh, dengan sebuah sidang pendahuluan yang akan diadakan di ibu kota Hawaii, Honolulu, awal pekan depan. Kang menghadapi empat tuduhan memberikan dukungan material kepada organisasi teroris asing.
Kang (34) ditangkap pada 8 Juli lalu menyusul penyelidikan selama setahun oleh FBI dan Divisi Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS, termasuk agen rahasia yang menyamar sebagai anggota ISIS.
Pengacaranya, Birney Bervar, mengklaim bahwa Kang menderita gangguan stres pasca-trauma yang telah gagal ditangani oleh tentara AS. Pengendali lalu lintas udara itu telah melayani tugas ke Irak pada tahun 2011 dan Afghanistan pada tahun 2014.
Selain membantu membeli pesawat tak berawak untuk ISIS, Kang juga dituduh menyediakan pakaian dan peralatan militer kepada agen yang menyamar dan membiarkan dirinya difilmkan memberikan pelatihan teknik senjata dan tempur.
Dia dikatakan telah diberitahu bahwa kaset tersebut akan digunakan oleh ISIS sebagai video pelatihan.
AS memimpin sebuah koalisi internasional melawan ISIS, dengan jumlah serangan udara dilakukan terhadap kelompok militan dan afiliasinya meningkat sejak Donald Trump menjadi Presiden AS pada bulan Januari.
Bom telah difokuskan pada kubu ISIS di Suriah dan Irak namun juga menargetkan gerilyawan di Yaman dan Somalia.
Tentara Irak, dengan dukungan koalisi, melakukan terobosan signifikan pada awal Juli ini dengan merebut kembali kota Mosul yang merupakan benteng terakhir ISIS di Irak.
Ikaika Erik Kang, seorang sersan militer pengendali lalu lintas udara sersan militer, dituduh mencoba untuk memberikan dokumen militer yang diklasifikasikan sebagai rahasia. Ia juga mencoba untuk memberikan sebuah pesawat tak berawak dan pelatihan untuk orang-orang yang dipercaya sebagai pendukung ISIS namun sebenarnya adalah seorang agen FBI yang menyamar.
Dia juga dikatakan telah bersumpah setia kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pendiri dan pemimpin ISIS. "Kejahatan yang dituduhkan kepadanya terjadi di Hawaii, tempat ia ditugaskan, antara 21 Juni dan 8 Juli 2017," kata Departemen Kehakiman AS seperti dikutip dari Independent, Minggu (23/7/2017).
Kasus ini sekarang akan maju ke persidangan penuh, dengan sebuah sidang pendahuluan yang akan diadakan di ibu kota Hawaii, Honolulu, awal pekan depan. Kang menghadapi empat tuduhan memberikan dukungan material kepada organisasi teroris asing.
Kang (34) ditangkap pada 8 Juli lalu menyusul penyelidikan selama setahun oleh FBI dan Divisi Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS, termasuk agen rahasia yang menyamar sebagai anggota ISIS.
Pengacaranya, Birney Bervar, mengklaim bahwa Kang menderita gangguan stres pasca-trauma yang telah gagal ditangani oleh tentara AS. Pengendali lalu lintas udara itu telah melayani tugas ke Irak pada tahun 2011 dan Afghanistan pada tahun 2014.
Selain membantu membeli pesawat tak berawak untuk ISIS, Kang juga dituduh menyediakan pakaian dan peralatan militer kepada agen yang menyamar dan membiarkan dirinya difilmkan memberikan pelatihan teknik senjata dan tempur.
Dia dikatakan telah diberitahu bahwa kaset tersebut akan digunakan oleh ISIS sebagai video pelatihan.
AS memimpin sebuah koalisi internasional melawan ISIS, dengan jumlah serangan udara dilakukan terhadap kelompok militan dan afiliasinya meningkat sejak Donald Trump menjadi Presiden AS pada bulan Januari.
Bom telah difokuskan pada kubu ISIS di Suriah dan Irak namun juga menargetkan gerilyawan di Yaman dan Somalia.
Tentara Irak, dengan dukungan koalisi, melakukan terobosan signifikan pada awal Juli ini dengan merebut kembali kota Mosul yang merupakan benteng terakhir ISIS di Irak.
(ian)