Australia Diam-diam Tes Rudal Hypervelocity HIFiRE

Senin, 17 Juli 2017 - 13:35 WIB
Australia Diam-diam...
Australia Diam-diam Tes Rudal Hypervelocity HIFiRE
A A A
CANBERRA - Australia diam-diam menguji coba penerbangan rudal hypervelocity HIFiRE dengan dalih sebagai antisipasi ancaman di masa depan. Rudal ini diklaim mampu melesat 10.000km/jam, membakar setiap objek di langit dan masih bisa berubah arah.

Setiap rudal—atau pun pesawat terbang—yang mampu bergerak dengan kecepatan seperti itu akan telah hilang sebelum sistem pertahanan bisa bereaksi.

China dan Rusia selama ini juga mengklaim membuat kemajuan serupa. Teknologi rudal hypervelocity Australia disempurnakan melalui kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).

Menteri Pertahanan Australia Marise Payne dalam situs Kementerian Pertahanan Australia tertanggal 10 Juli 2017, yang dikutip SINDOnews Senin (17/7/2017), mengatakan bahwa uji coba rudal hypervelocity Hypersonic International Flight Research Experimentation (HIFiRE) berhasil dilakukan di langit Kota Woomera, Australia selatan.

Proyek rudal superkilat ini senilai AUSD54 juta atau lebih dari Rp561 miliar.

Menurut definisi, kecepatan hipersonik berada di atas Mach 5 (lima kali kecepatan suara) atau 6174km/jam.

”Penerbangan hipersonik lebih dari lima kali kecepatan suara dan berpotensi merevolusi perjalanan udara, membuatnya lebih cepat dan lebih murah untuk melakukan perjalanan keliling dunia dan ke luar angkasa,” kata Payne.

”Ada aplikasi militer utama dari teknologi ini dan dengan memahami penerbangan hipersonik, Angkatan Pertahanan Australia akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menanggapi ancaman masa depan,” lanjut Payne.

Australia dan AS sejatinya telah bekerjasama untuk proyek penerbangan hypervelocity selama hampir satu dekade. Peluncuran pertama salah satu kendaraan hipersonik ini dilakukan pada tahun 2009 yang diikuti tes-tes berikutnya termasuk pada tahun 2012 dan 2016.

Kecepatan tertinggi yang pernah dilaporkan dalam uji coba penerbangan hypervelocity mencapai Mach 8 (9878km/jam).

”Sementara ini (HIFiRE 4) adalah yang terakhir dalam rangkaian HIFiRE, Australia tetap berada di puncak penelitian, pengujian dan evaluasi hipersonik, berkat kerja tim ilmuwan pertahanan, rekan industri dan akademis mereka yang berdedikasi,” imbuh Payne.
(mas)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Kemampuan Rudal China...
Kemampuan Rudal China Melesat, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Pertahanan Misil
Berita Terkini
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
14 menit yang lalu
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
1 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
3 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
5 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
8 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
10 jam yang lalu
Infografis
7 Rudal Jelajah Terkuat...
7 Rudal Jelajah Terkuat di Dunia, Misil-Misil Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved