Marawi, Kota Islam Filipina dan Perdamaian yang Tercabik-cabik

Senin, 29 Mei 2017 - 17:40 WIB
Marawi, Kota Islam Filipina...
Marawi, Kota Islam Filipina dan Perdamaian yang Tercabik-cabik
A A A
ILIGAN - Marawi sebelumnya dikenal dengan nama Dansalan, sebuah Ibu Kota Provinsi Lanao, Filipina, yang terpecah dari 1907-1940. Kota itu kemudian resmi berganti nama menjadi “Kota Islam Marawi” setelah diusulkan melalui RUU Parlemen 261 di era rezim Marcos.

Lebih dari 90 persen dari 100 juta orang Filipina adalah warga Kristen. Tapi di Marawi, warga Muslim menjadi mayoritas. Pada tahun 1980 Marawi resmi diproklamirkan menjadi ”Kota Islam” dan jadi satu-satunya kota di Filipina dengan sebutan seperti itu.

Meski menjadi Kota Islam, Marawi juga menjadi rumah yang damai bagi komunitas Kristen. Selama puluhan tahun, perdamaian tecipta di kota ini.

Namun, perdamaian di Kota Islam Marawi tercabik-cabik sejak pekan lalu. Kelompok milisi Maute yang telah menjadi sayap kelompok Islamic State (ISIS) di Filipina tiba-tiba menyerbu kota itu. Serbuan itu sebagai balas dendam setelah tempat persembunyian pemimpin mereka, Isnilon Hapilon, diserang pasukan Filipina.

Sejak serbuan kelompok Maute itu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan status darurat militer di kota Islam tersebut. Pasukan Filipina kemudian dikerahkan untuk mengusir kelompok Maute. Pertempuran pun tak terhindarkan.

Hingga Senin (29/5/2017) hari ini, korban jiwa sudah mencapai sekitar 100 orang. Para korban berasal dari warga sipil, kelompok Maute juga dari pasukan Filipina.

Dalam beberapa hari terakhir, Marawi berubah menjadi kota horor. Kelompok Maute dilaporkan mengeksekusi sejumlah warga sipil dan menyandera banyak warga, termasuk dari komunitas Kristen.

Pastor Teresito "Chito" Sugarno dan selusin pengikutnya menjadi bagian dari sandera kelompok milisi bersenjata itu.

Uskup Edwin Dela Pena, salah satu pemimpin gereja di Marawi yang menerima telepon dari salah satu sandera. ”Dia (Pastor Chito) hanya diberi beberapa baris (kalimat) untuk disampaikan, dan itu hanya menggemakan tuntutan para penculik, agar pasukan mundur,” kata Dela Pena. “Jika permintaan itu tidak dipenuhi, dia diberi tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Bagi komunitas Kristen di Marawi, apa yang terjadi saat ini bukan gesekan dengan komunitas Muslim.

”Kami tidak menganggap diri kami Muslim atau Kristen, kami hanya berteman,” kata Dela Pena, yang telah tinggal selama 17 tahun di Marawi, namun dia berada di luar kota itu saat kekerasan pecah.

Perdamaian yang jadi kebanggaan warga Marawi, kata Dela Pena, hancur. Perdamaian mulai tercabik setelah tentara Filipina mengebom basis kelompok Maute yang jaraknya sekitar 50 km (30 mil) dari Marawi.

”Mereka mengatakan bahwa mereka memadati seluruh perkemahan, namun orang-orang ini memindahkan basis operasi mereka dari hutan ke pusat kota, ke Kota Marawi,” katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara dari Kota Iligan, yang berjarak 37 km dari Marawi.

Kelompok Maute datang dan merekrut orang-orang di Marawi, khususnya anak-anak muda untuk melawan tentara Filipina. Meski demikian, warga Muslim di Marawi yang tak terpengaruh provokasi kelompok itu masih merawat perdamaian. Para warga Muslim bahkan tergerak menyelamatkan para warga Kristen untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
(mas)
Berita Terkait
Diskusi Peta dan Kemunculan...
Diskusi Peta dan Kemunculan Bangsa Filipina dengan Pembicara Sejarawan Ternama
Presiden Filipina Duterte...
Presiden Filipina Duterte Bersaing dengan Putrinya Perebutkan Kursi Wapres
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
Musuh Sekaligus Pengkritik...
Musuh Sekaligus Pengkritik Perang Narkoba Duterte Maju Pilpres Filipina
Duterte Incar Kursi...
Duterte Incar Kursi Wapres Filipina setelah Lengser
Rencanakan Pemboman,...
Rencanakan Pemboman, 'Calon Pengantin' Perempuan Diciduk Tentara Filipina
Berita Terkini
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
1 jam yang lalu
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
2 jam yang lalu
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
3 jam yang lalu
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
4 jam yang lalu
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
5 jam yang lalu
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
5 jam yang lalu
Infografis
Slavko Vincic, Wasit...
Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 yang Pelit Kartu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved