Pengamat Jerman Sebut Toleransi di Indonesia Mulai Memudar

Rabu, 10 Mei 2017 - 16:44 WIB
Pengamat Jerman Sebut...
Pengamat Jerman Sebut Toleransi di Indonesia Mulai Memudar
A A A
BERLIN - Pengamat dari Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP), Jerman, Felix Heiduk menyebut toleransi di Indonesia perlahan-lahan memudar. Pernyataan Heiduk ini datang setelah adanya vonis yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
"Kita harus mengucapkan selamat tinggal pada mitos selalu ada Islam yang toleran dan pluralistik di Indonesia. Memang benar ada Islam yang lebih terbuka dipraktekkan di banyak bagian negara ini dibandingkan dengan sebagian besar dunia Arab," ucap Heiduk.
"Tapi selalu ada kelompok yang mengikuti interpretasi yang lebih ketat. Hanya sejauh ini mereka bukan berasal dari kekuatan sosial atau politik yang dominan," sambungnya, seperti dilansir Der Spiegel pada Rabu (10/5).
Dia kemudian mengatakan, agama saat ini sudah menjadi komoditas di Indonesia, khususnya di dunia politik. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya pihak yang sukses di pemilihan umum di daerah saat mengusung isu agama.
"Kita dapat mengamati sebuah Islamisasi masyarakat Indonesia sejak tahun 80-an. Dalam perjalanan ini, pemahaman ortodoks tentang Islam semakin penting. Pada tingkat lokal, dalam beberapa tahun terakhir, politisi dari semua jenis, dari sekuler formal sampai partai Islam, telah semakin menggunakan peta agama untuk memobilisasi pemilih. Misalnya dengan menjanjikan penutupan bar dan larangan minum alkohol. Begitu banyak yang sukses. Oleh karena itu, agama kemudian diisyaratkan oleh elit politik," ucapnya.
Terkait dengan Ahok, dia mengatakan para lawan politiknya telah menggunakan video rekaman pernyataan Ahok soal ayat al-Quran untuk menyerang dia. Dimana, pada akhirnya Ahok divonis dua tahun penjara atas bukti video tersebut.
"Di Video yang dimanipulasi seolah-olah Ahok mengkritik al-Quran secara langsung. De facto, dia mengkritik instruktur melawan aktivis agama yang menentangnya. Apalagi, dalam kasusnya, paraglip penghujatan sangat samar-samar diformulasikan dalam hukum pidana Indonesia dan oleh karena itu dapat diinstruksikan dengan baik. Dengan keputusan melawan Ahok, sekarang jelas hakim juga tunduk pada tekanan jalanan dan kelompok garis keras," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Bayern München Ikat...
Bayern München Ikat Leon Goretzka Hingga 2026
Produksi Makanan Crispy...
Produksi Makanan Crispy dari Ulat Jerman
Banjir Rendam Kota Koblenz,...
Banjir Rendam Kota Koblenz, Jerman
Hasil EURO 2024: Langsung...
Hasil EURO 2024: Langsung Tancap Gas, Jerman Bantai Skotlandia 5-1
Pangeran Jerman Dituntut...
Pangeran Jerman Dituntut Ayahnya karena Jual Kastil Keluarga Hanya Rp17.000
Balas Tindakan Berlin,...
Balas Tindakan Berlin, Teheran Usir Dua Diplomat Jerman
Berita Terkini
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
18 menit yang lalu
Ditangkap Pasukan Indonesia,...
Ditangkap Pasukan Indonesia, Ulama Palestina Sheikh Miqdad Dituduh Rencanakan Pengeboman 7 Negara
51 menit yang lalu
3 Tentara AS Tewas Diserang...
3 Tentara AS Tewas Diserang Rudal Iran, Trump Salahkan Yordania
1 jam yang lalu
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
2 jam yang lalu
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
3 jam yang lalu
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
4 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved