Horta Serukan Australia Cabut Klaim Atas Laut Timor

Minggu, 07 Mei 2017 - 15:10 WIB
Horta Serukan Australia...
Horta Serukan Australia Cabut Klaim Atas Laut Timor
A A A
SYDNEY - Mantan presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, telah mengatakan kepada pemerintah Australia untuk meninggalkan kasus hukum "tidak berdasar" untuk memperpanjang perbatasannya ke Laut Timor. Menurutnya, kedua negara tengah berusaha untuk menegosiasikan batas maritim permanen di atas ladang minyak yang menguntungkan itu.

Berbicara di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Partai Buruh di Sydney, Horta menyebut argumen Australia bahwa perbatasan harus mengikuti batas landas kontinennya "hukum yang tidak dapat dipertahankan" yang berbatasan dengan itikad buruk.

Kedua negara tetangga telah memperjuangkan kepemilikan Celah Timor yang kaya minyak sejak kemerdekaan Timor-Leste pada tahun 2002, termasuk penyataan bahwa Australia menyadap ruang kabinet pemerintah Timur Leste pada tahun 2004 untuk mendapatkan keuntungan komersial.

Horta memperingatkan pemerintah Australia untuk tidak mengambil risiko hubungan yang baru saja diperbaiki dengan mendorong untuk mengendalikan ladang minyak Greater Sunrise yang menguntungkan.

"Kami hanya meminta hasil yang tepat," kata peraih Nobel 1996 itu seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (7/5/2017).

"Hukum laut yang mengikat konsiliasi wajib ini mengatakan bahwa kita harus bernegosiasi dengan itikad baik. Kita bisa kembali ke titik awal jika negosiator Australia kembali ke argumen landas kontinen yang tidak berkelanjutan," tuturnya.

Menteri Infrastruktur Ketenagakerjaan, Anthony Albanese, yang mengundang Ramos-Horta untuk berbicara, mendorong negosiasi yang produktif antara kedua negara.

"Tetangga yang baik memperlakukan yang kurang kuat dengan cara yang positif. Kami memiliki kewajiban kepada orang Timor Lorosae untuk memperlakukan mereka dengan adil," katanya.

Ramos-Horta berulang kali menolak posisi Australia yang telah lama berkuasa di perbatasan, dengan mengatakan bahwa perbatasan harus diambil sama baiknya antara kedua negara. "Hukum laut sangat mudah, sebuah garis tengah ditarik. Inilah hukum di tahun 1950-an dan hukum sekarang," katanya

"Australia tidak pernah menolak klaim tersebut, yang diajukan oleh mereka yang kurang diplomatis dari saya, bahwa ini adalah penguasaan terhadap sumber daya. Tapi ini mendekati sentimen kita," imbuhnya.

Lahan minyak yang disengketakan tersebut diperkirakan menyimpan sumber minyak bumi dan bahan bakar cair senilai USD 53 miliar. Perundingan rahasia antara kedua negara tersebut dimulai pada bulan Januari di pengadilan arbitrase permanen di Den Haag, yang hasilnya akan selesai pada bulan September.

Negosiasi dimulai setelah Timor-Leste memutuskan untuk menghentikan sebuah perjanjian yang telah ada yang menetapkan batas sementara 50 tahun dan akan membagi pendapatan minyak 50-50.

"Ada konsensus di kalangan ilmuwan bahwa Timor Leste dan Australia adalah bagian dari landas kontinen yang sama, jadi jika Australia bertahan dengan klaim landas kontinen, ia harus mengklaim Timor Leste. Atau sebaliknya, Timor Leste harus mengklaim seluruh Australia," kata Ramos-Horta yang ditertawakan para hadirin.

"Kami akan meninggalkan Tasmania sendirian. Mereka orang yang sangat baik," tambahnya.

Horta juga mengkritik keputusan pemerintah Australia pada tahun 2002 untuk secara diam-diam menarik diri dari resolusi perselisihan batas maritim PBB yang terdapat dalam konvensi PBB mengenai hukum laut, sehingga bisa lolos dari arbitrase yang mengikat secara hukum.

"Kita bisa bersikap sinis terhadap hukum internasional namun kenyataannya telah mencegah terjadinya perang," katanya.

"Jika masing-masing negara mengundurkan diri dari hukum internasional, maka kita akan berada dalam dunia tanpa hukum dan hanya yang terkuat yang akan menang. Sungguh luar biasa bahwa demokrasi tua yang solid seperti Australia akan menjadi yang pertama memberi contoh yang salah bagi negara-negara berkembang," sindirnya.

"Anda memiliki keraguan kuat tentang posisi hukum Anda, dan dengan pengacara internasional brilian Anda, tahu posisi Anda tidak berkelanjutan. Jadi apa yang kamu lakukan? Menarik," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
Kisah Jet Hawk Indonesia...
Kisah Jet Hawk Indonesia Kejar Jet Tempur Australia saat Krisis Timor Leste
Kunjungi PBNU, Presiden...
Kunjungi PBNU, Presiden Timor Leste Bahas Kerja Sama Kemanusiaan
Jokowi Sambut José...
Jokowi Sambut José Ramos-Horta, Sepakati Kerja Sama Indonesia - Timor Leste
Latihan Timnas Timor...
Latihan Timnas Timor Leste Jelang Menghadapi Indonesia
Momen Ngopi Santai Presiden...
Momen Ngopi Santai Presiden Timor Leste Ramos-Horta di Jaksel Bahas Kerja Sama Kreatif
Terkendala Biaya, Timor...
Terkendala Biaya, Timor Leste Mundur dari Kualifikasi Piala Asia U-17 2023
Berita Terkini
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
29 menit yang lalu
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
55 menit yang lalu
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
1 jam yang lalu
AS Serang Iran, Balas...
AS Serang Iran, Balas Jatuhnya Helikopter AH-64 Apache Dekat Selat Hormuz
1 jam yang lalu
9 Negara yang Memiliki...
9 Negara yang Memiliki Anggaran Terbesar Mengembangkan Bom Nuklir
4 jam yang lalu
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
6 jam yang lalu
Infografis
Jet Tempur F/A-18 AS...
Jet Tempur F/A-18 AS Seharga Rp1 Triliun Hilang di Laut Merah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved