Serangan Senjata Kimia di Suriah, Menhan Inggris Salahkan Rusia
Minggu, 09 April 2017 - 12:26 WIB
Serangan Senjata Kimia di Suriah, Menhan Inggris Salahkan Rusia
A
A
A
LONDON - Rusia yang harus disalahkan untuk setiap kematian warga sipil dalam serangan senjata kimia pekan lalu di Suriah. Hal itu dikatakan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Michael Fallon.
Dalam tulisan di Sunday Times, Fallon mengatakan Kremlin bertanggung jawab secara proxy sebagai pendukung utama dari rezim Presiden Bashar al-Assad. Ia menyebut serangan senjata kimia pada Selasa lalu adalah serangan barbar, tidak bermoral dan ilegal.
"Kejahatan perang terbaru ini terjadi di bawah pengawasan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah memiliki setiap kesempatan untuk menarik tuas dan menghentikan perang sipil ini," tulis Fallon
"Rusia harus menunjukkan tekad yang diperlukan untuk membawa rezim ini ke bawah," imbuhnya seperti dikutip dari BBC, Minggu (9/4/2017).
Ia pun menyebut respon serangan udara dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat tepat.
"Dengan mengirimkan rudal Tomahawk untuk menyerang lapangan terbang, pesawat terbang dan peralatan yang diyakini terlibat, itu telah mengirimkan sinyal yang kuat kepada rezim Suriah untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan gas di masa depan," tegas Fallon.
"Sangat dan tepat tindakan AS itu, meskipun juga terbatas. Kita sekarang membutuhkan solusi jangka panjang untuk konflik ini," tulisnya lagi.
Fallon mengatakan Suriah membutuhkan pemerintahan di mana Assad tidak memainkan peran. Ia mengaku untuk mencapai itu tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Assad harus lengser dan pencarian stabilitas dimulai.
"Seseorang yang menggunakan bom barel dan bahan kimia untuk membunuh rakyatnya sendiri tidak bisa menjadi pemimpin masa depan Suriah," tegasnya.
Sedikitnya 89 orang, termasuk 33 anak-anak dan 18 wanita, tewas dalam serangan yang diduga menggunakan gas saraf di kota yang dikuasai pemberontak Khan Sheikhoun, Selasa. Angka-angka itu berasal dari otoritas kesehatan oposisi yang menguasai Idlib. Namun pemerintah Suriah membantah menggunakan gas saraf.
Pada hari Jumat, AS melakukan serangan rudal ke sebuah pangkalan udara Suriah yang diduga menyimpan senjata kimia. Sedikitnya enam orang dilaporkan tewas.
Sebagai tanggapan, sekutu Suriah Rusia menuduh AS mendorong "teroris" dengan tindakan sepihak. Moskow berjanji untuk memperkuat pertahanan anti-pesawat Suriah dan mematikan hotline dengan AS yang dirancang untuk menghindari tabrakan antara pasukan mereka di udara negara itu.
Dalam tulisan di Sunday Times, Fallon mengatakan Kremlin bertanggung jawab secara proxy sebagai pendukung utama dari rezim Presiden Bashar al-Assad. Ia menyebut serangan senjata kimia pada Selasa lalu adalah serangan barbar, tidak bermoral dan ilegal.
"Kejahatan perang terbaru ini terjadi di bawah pengawasan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah memiliki setiap kesempatan untuk menarik tuas dan menghentikan perang sipil ini," tulis Fallon
"Rusia harus menunjukkan tekad yang diperlukan untuk membawa rezim ini ke bawah," imbuhnya seperti dikutip dari BBC, Minggu (9/4/2017).
Ia pun menyebut respon serangan udara dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat tepat.
"Dengan mengirimkan rudal Tomahawk untuk menyerang lapangan terbang, pesawat terbang dan peralatan yang diyakini terlibat, itu telah mengirimkan sinyal yang kuat kepada rezim Suriah untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan gas di masa depan," tegas Fallon.
"Sangat dan tepat tindakan AS itu, meskipun juga terbatas. Kita sekarang membutuhkan solusi jangka panjang untuk konflik ini," tulisnya lagi.
Fallon mengatakan Suriah membutuhkan pemerintahan di mana Assad tidak memainkan peran. Ia mengaku untuk mencapai itu tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Assad harus lengser dan pencarian stabilitas dimulai.
"Seseorang yang menggunakan bom barel dan bahan kimia untuk membunuh rakyatnya sendiri tidak bisa menjadi pemimpin masa depan Suriah," tegasnya.
Sedikitnya 89 orang, termasuk 33 anak-anak dan 18 wanita, tewas dalam serangan yang diduga menggunakan gas saraf di kota yang dikuasai pemberontak Khan Sheikhoun, Selasa. Angka-angka itu berasal dari otoritas kesehatan oposisi yang menguasai Idlib. Namun pemerintah Suriah membantah menggunakan gas saraf.
Pada hari Jumat, AS melakukan serangan rudal ke sebuah pangkalan udara Suriah yang diduga menyimpan senjata kimia. Sedikitnya enam orang dilaporkan tewas.
Sebagai tanggapan, sekutu Suriah Rusia menuduh AS mendorong "teroris" dengan tindakan sepihak. Moskow berjanji untuk memperkuat pertahanan anti-pesawat Suriah dan mematikan hotline dengan AS yang dirancang untuk menghindari tabrakan antara pasukan mereka di udara negara itu.
(ian)