Korut Kembali Luncurkan Rudal, Menlu AS Ogah Komentar
Rabu, 05 April 2017 - 13:13 WIB
Korut Kembali Luncurkan Rudal, Menlu AS Ogah Komentar
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson mengatakan, AS tidak ada lagi yang bisa dikatatakan secara terbuka tentang Korea Utara (Korut). Hal itu dikatakan setelah Korut melakukan serangkaian tes rudal terbaru bertepatan dengan persiapan Presiden Donald Trump bertemu koleganya asal China, Presiden Xi Jinping.
“Korut meluncurkan satu lagi di antara berbagai rudal balistik. Amerika Serikat telah berbicara cukup tentang Korea Utara. Kami tidak punya komentar lebih lanjut,” demikian pernyataan Tillerson yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip dari Time, Rabu (5/4/2017).
Sebelumnya, selama kunjungan diplomatik pertamanya ke Seoul dan Beijing pada Maret lalu, Tillerson menekankan bahwa kesabaran atas kebijakan strategis telah berakhir. Ini menunjukkan bahwa AS dapat mempertimbangkan berbagai tanggapan atas agresi Korut, termasuk kemungkinan serangan pre emptive.
"Kami sedang menjajaki berbagai kebijakan diplomatik baru, keamanan dan langkah-langkah ekonomi. Semua pilihan itu ada di meja," kata Tillerson.
Para pejabat Korea Selatan (Korsel) mengatakan Korut telah menembakkan rudal balistik ke perairan lepas pantai timur negara itu pada Rabu pagi waktu setempat. AS mengatakan bahwa penilaian awal menunjukkan rudal tersebut adalah rudal balistik KN-15 jarak menengah. Rudal itu terbang sekitar 37 mil dari asalnya di kota Sinpo dan turun di Laut Jepang, Associated Press melaporkan.
Uji coba terbaru ini menandai eskalasi terbaru dalam ancaman nuklir . Korut. Pyongyang sendiri telah melakukan beberapa tes rudal sejak awal tahun ini.
Sementara itu, Trump tengah bersiap bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada hari Kamis di rumahnya Mar-a-Lago estate di Florida. Keduanya diperkirakan akan membahas kerja sama menjinakkan ancaman nuklir Korut.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Trump mengatakan ia berencana untuk bernegosiasi dengan Xi Jinping untuk kerjasama lebih lanjut. Kemungkinan menggunakan perdagangan dan ancaman sanksi untuk membujuk China dalam membantu AS waspada. Namun, penyebaran sistem antiroket THAAD AS di Korea Selatan, membuat rumit diskusi.
Trump memperingatkan bahwa jika dia tidak bisa mengamankan bantuan dari Beijing, AS siap untuk menangani Korut sendiri. Namun ia menolak untuk mengungkapkan secara detil tindakan spesifik Washington yang mungkin diambil terhadap Pyongyang.
“Korut meluncurkan satu lagi di antara berbagai rudal balistik. Amerika Serikat telah berbicara cukup tentang Korea Utara. Kami tidak punya komentar lebih lanjut,” demikian pernyataan Tillerson yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip dari Time, Rabu (5/4/2017).
Sebelumnya, selama kunjungan diplomatik pertamanya ke Seoul dan Beijing pada Maret lalu, Tillerson menekankan bahwa kesabaran atas kebijakan strategis telah berakhir. Ini menunjukkan bahwa AS dapat mempertimbangkan berbagai tanggapan atas agresi Korut, termasuk kemungkinan serangan pre emptive.
"Kami sedang menjajaki berbagai kebijakan diplomatik baru, keamanan dan langkah-langkah ekonomi. Semua pilihan itu ada di meja," kata Tillerson.
Para pejabat Korea Selatan (Korsel) mengatakan Korut telah menembakkan rudal balistik ke perairan lepas pantai timur negara itu pada Rabu pagi waktu setempat. AS mengatakan bahwa penilaian awal menunjukkan rudal tersebut adalah rudal balistik KN-15 jarak menengah. Rudal itu terbang sekitar 37 mil dari asalnya di kota Sinpo dan turun di Laut Jepang, Associated Press melaporkan.
Uji coba terbaru ini menandai eskalasi terbaru dalam ancaman nuklir . Korut. Pyongyang sendiri telah melakukan beberapa tes rudal sejak awal tahun ini.
Sementara itu, Trump tengah bersiap bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada hari Kamis di rumahnya Mar-a-Lago estate di Florida. Keduanya diperkirakan akan membahas kerja sama menjinakkan ancaman nuklir Korut.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Trump mengatakan ia berencana untuk bernegosiasi dengan Xi Jinping untuk kerjasama lebih lanjut. Kemungkinan menggunakan perdagangan dan ancaman sanksi untuk membujuk China dalam membantu AS waspada. Namun, penyebaran sistem antiroket THAAD AS di Korea Selatan, membuat rumit diskusi.
Trump memperingatkan bahwa jika dia tidak bisa mengamankan bantuan dari Beijing, AS siap untuk menangani Korut sendiri. Namun ia menolak untuk mengungkapkan secara detil tindakan spesifik Washington yang mungkin diambil terhadap Pyongyang.
(ian)