AS Desak China untuk Ambil Tindakan terhadap Korut
Minggu, 02 April 2017 - 23:26 WIB
AS Desak China untuk Ambil Tindakan terhadap Korut
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) akan "memberikan tekanan" kepada China untuk mengambil tindakan terhadap program senjata nuklir Korea Utara (Korut). Hal itu diungkapkan Duta Besar AS untuk PBB, beberapa hari sebelum kunjungan presiden China.
"Satu-satunya negara yang dapat menghentikan Korut adalah China dan mereka tahu itu. Kami akan terus menekan Cina untuk memiliki tindakan," kata Duta Besar Nikki Haley seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (2/4/2017).
Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada 6 dan 7 April di resort pribadinya di Mar-a-Lago, Florida. Pertemuan ini dilakukan di tengah hubungan berbatu AS-China atas program nuklir dan rudal Korut, perdagangan dan isu-isu lainnya.
Pada hari Kamis, Trump menyebut itu adalah pertemuan yang sangat sulit. Hal itu merujuk pada sengketa atas kebijakan perdagangan kedua negara yang paling kuat di dunia dan ekonomi terkemuka.
Namun, Haley menekankan bahwa poin utama dalam pertemuan itu adalah terkait nuklir Korut. "Pada pertemuan di Florida, percakapan yang paling penting akan bagaimana kita berurusan dengan nonproliferasi dari Korut," katanya.
Beijing sendiri semakin frustrasi dengan kegiatan nuklir dan rudal Pyongyang. Beijing kemudian mengumumkan penghentian semua impor batubara dari Korut sampai akhir tahun yang menjadi sumber penting dari mata uang asing.
Haley menganggap tindakan, yang sesuai dengan sanksi PBB terhadap Korut atas program rudal dan program nuklirnya, tidak cukup. Menurutnya penghentian impor batubara itu adalah sebuah cara lain.
"Pada titik tertentu, kita perlu melihat tindakan definitif oleh China mengutuk Korut dan tidak hanya menelepon mereka untuk keluar dari program itu," katanya.
"Satu-satunya negara yang dapat menghentikan Korut adalah China dan mereka tahu itu. Kami akan terus menekan Cina untuk memiliki tindakan," kata Duta Besar Nikki Haley seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (2/4/2017).
Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada 6 dan 7 April di resort pribadinya di Mar-a-Lago, Florida. Pertemuan ini dilakukan di tengah hubungan berbatu AS-China atas program nuklir dan rudal Korut, perdagangan dan isu-isu lainnya.
Pada hari Kamis, Trump menyebut itu adalah pertemuan yang sangat sulit. Hal itu merujuk pada sengketa atas kebijakan perdagangan kedua negara yang paling kuat di dunia dan ekonomi terkemuka.
Namun, Haley menekankan bahwa poin utama dalam pertemuan itu adalah terkait nuklir Korut. "Pada pertemuan di Florida, percakapan yang paling penting akan bagaimana kita berurusan dengan nonproliferasi dari Korut," katanya.
Beijing sendiri semakin frustrasi dengan kegiatan nuklir dan rudal Pyongyang. Beijing kemudian mengumumkan penghentian semua impor batubara dari Korut sampai akhir tahun yang menjadi sumber penting dari mata uang asing.
Haley menganggap tindakan, yang sesuai dengan sanksi PBB terhadap Korut atas program rudal dan program nuklirnya, tidak cukup. Menurutnya penghentian impor batubara itu adalah sebuah cara lain.
"Pada titik tertentu, kita perlu melihat tindakan definitif oleh China mengutuk Korut dan tidak hanya menelepon mereka untuk keluar dari program itu," katanya.
(ian)