Kamboja Melarang Ekspor Susu Manusia ke Amerika

Selasa, 28 Maret 2017 - 16:43 WIB
Kamboja Melarang Ekspor...
Kamboja Melarang Ekspor Susu Manusia ke Amerika
A A A
PHNOM PENH - Pemerintah Kamboja secara resmi melarang penjualan dan ekspor susu manusia dari para perempuan lokal ke Amerika Serikat (AS). Alasannya, ekspor iru telah memicu para perempuan Kamboja beralih ke perdagangan air susu ibu (ASI) yang kontroversial.

Perdangan ASI telah memikat para perempuan Kamboja demi meningkatkan pendapatan. Ekspor ASI dari para kaum perempuan Kamboja selama ini melibatkan Ambrosia Labs yang berbasis di Utah, AS. Ambrosia mengklaim sebagai perusahaan pertama untuk sumber produk susu manusia dari luar negeri dan mendistribusikannya di AS.

Susu yang diekspor selama ini dipompa oleh para perempuan Kamboja dari keluarga miskin di Ibu Kota Phnom Penh dan kemudian dikirim ke AS. Susu itu dijual seharga USD20 per 147 ml.

Pelanggan perusahaan adalah ibu-ibu Amerika yang ingin melengkapi nutrisi bayi mereka atau para ibu yang tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup.

Pada hari Selasa (28/3/2017), kabinet Kamboja memerintahkan Kementerian Kesehatan untuk mengambil tindakan untuk segera guna mencegah penjualan dan ekspor ASI dari ibu-ibu Kamboja.

”Meskipun Kamboja miskin dan (hidup) sulit, tidak harus pada tingkat untuk menjual susu dari ibu,” bunyi surat perintah kabinet Kamboja, seperti dikutip AFP.

Sementara itu, pihak Ambrosia Labs telah membela usahanya. Perusahaan ini mendorong para perempuan Kamboja untuk terus menyusui dan mereka menerima tambahan ASI dari perempuan Kamboja untuk mengisi kekurangan “bank susu” di AS.

Tapi UNICEF—badan PBB untuk anak-anak—mengutuk perdagangan ASI tersebut. UNICEF mengatakan, ASI berlebih harus tetap terjaha di Kamboja, karena banyak bayi di sana kekurangan nutrisi yang tepat.

Chea Sam, seorang ibu 30 tahun yang pernah bekerja untuk Ambrosia Labs, mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa dia telah menjual ASI-nya selama tiga bulan setelah kelahiran anaknya.

Dari penjualan itu, dia mendapat USD7,5 hingga USD10 per hari. Menurutnya, sekitar 20 ibu-ibu lainnya juga melakukan yang sama.

”Kami menyesal bahwa perdagangan ini telah dilarang. Ini telah membantu mata pencaharian kami,” ujarnya kepada AFP.
(mas)
Berita Terkait
AS Kecewa Fasilitas...
AS Kecewa Fasilitas Militernya Dihancurkan Kamboja
Perang Thailand-Kamboja...
Perang Thailand-Kamboja Meluas dari Darat ke Laut, Ini Analisisnya
Cairkan Hubungan, FBI...
Cairkan Hubungan, FBI Buka Kantor di Markas Pusat Kepolisian Kamboja
Perang Thailand-Kamboja:...
Perang Thailand-Kamboja: Sekutu AS Bersenjata Kuat vs Musuh Lemah Tapi Didukung China
Dijatuhi Embargo, PM...
Dijatuhi Embargo, PM Kamboja Perintahkan Senjata AS Dihancurkan
AS Hajar Kamboja dengan...
AS Hajar Kamboja dengan Embargo Senjata Gara-gara China
Berita Terkini
Iran Kritik Oman soal...
Iran Kritik Oman soal Pengumuman Koridor Pelayaran Selatan di Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Israel Akui Hamas Pertahankan...
Israel Akui Hamas Pertahankan Sebagian Besar Kekuatan Militernya Meskipun Perang
2 jam yang lalu
Iran Tak Punya Rencana...
Iran Tak Punya Rencana Negosiasi dan akan Terus Balas Serangan AS
3 jam yang lalu
Bom AS Meledak di Dekat...
Bom AS Meledak di Dekat Rumah Sakit Kanker Iran, 211 Pasien Mengungsi
4 jam yang lalu
Wapres AS Vance Tuding...
Wapres AS Vance Tuding Para Pejabat Israel Berusaha Perpanjang Perang Iran: Pergi ke Neraka
5 jam yang lalu
Apa Arti Las Malvinas...
Apa Arti 'Las Malvinas Son Argentinas'? Slogan yang Dikibarkan Timnas Argentina Ternyata Menyimpan Luka Sejarah 200 Tahun
6 jam yang lalu
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved