Jenderal AS Curiga Rusia Ikut Campur Perang Libya
Selasa, 14 Maret 2017 - 11:46 WIB
Jenderal AS Curiga Rusia Ikut Campur Perang Libya
A
A
A
WASHINGTON - Kepala Komando Afrika Pentagon Jenderal Thomas D Waldhauser curiga Rusia berupaya intervensi atau ikut campur dalam perang Libya. Kecurigaan ini bersamaan dengan laporan tentang pengerahan pasukan khusus Rusia di wilayah Mesir yang dekat perbatasan Libya.
Sebuah laporan baru dari sumber-sumber keamanan Mesir mengungkapkan bahwa lusinan pasukan khusus dikerahkan Rusia di dekat perbatasan Mesir-Libya untuk menolong pasukan loyalis pemimpin militer Libya (LNA) Jenderal Khalifa Haftar yang mulai kewalahan menghadapi serangan Brigade Defense Benghazi (BDB).
Baca juga:
Rusia Terindikasi Kerahkan Pasukan Khusus di Dekat Libya
Jenderal Waldhauser memperingatkan Senat AS bahwa Moskow berusaha untuk “men-Suriah-kan” Libya. Seperti diketahui, Rusia berhasil menolong pasukan rezim Suriah yang nyaris dikalahkan pemberontak atau oposisi yang didukung Barat. Pentagon curiga, cara yang sama akan dilakukan Rusia di Libya.
”Rusia sedang mencoba untuk mempengaruhi keputusan akhir tentang siapa dan entitas mana yang menjadi penanggung jawab pemerintah di Libya,” katanya, seperti dikutip dari Fox News, Selasa (14/3/2017).
Laporan lain yang dilansir Reuters menyatakan, pasukan khusus Rusia yang dikerahkan di dekat Libya itu merupakan tentara bayaran dari kontraktor pertahanan swasta RSB Group milik Oleg Krinitsyn.
Krinitsyn pernah mengaku bahwa pihaknya tidak bekerja dengan Kementerian Pertahanan Rusia, tetapi berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri Rusia.
RSB Group pernah mengirim para kontraktornya ke Libya timur tahun lalu. Namun, mereka menariknya kembali pada bulan Februari lalu setelah menyelesaikan misi.
Tugas para kontraktor keamanan itu adalah untuk menghapus bahan-bahan senjata dan peledak dari fasilitas industri di dekat Kota Benghazi, daerah kekuasaan Jenderal Haftar yang telah dibebaskan dari pemberontak Islamis.
Krinitsyn tidak mengatakan siapa menyewa perusahaannya. Tapi, dia menegaskan bahwa operasi perusahaannya telah disetujui oleh pemerintah Libya yang didukung PBB.
Awal bulan ini Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah mengadakan pembicaraan di Moskow dengan Fayez Seraj, kepala pemerintahan Libya yang didukung PBB. Dalam pertemuan itu, Rusia menegaskan dukungannya untuk mewujudkan pemerintahan bersatu di negara kaya minyak tersebut.
”Moskow menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan semua pihak di Libya dengan tujuan mencari solusi yang dapat diterima bersama untuk menciptakan situasi stabil di Libya sebagai negara yang bersatu, berdaulat dan independen,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.
Sebuah laporan baru dari sumber-sumber keamanan Mesir mengungkapkan bahwa lusinan pasukan khusus dikerahkan Rusia di dekat perbatasan Mesir-Libya untuk menolong pasukan loyalis pemimpin militer Libya (LNA) Jenderal Khalifa Haftar yang mulai kewalahan menghadapi serangan Brigade Defense Benghazi (BDB).
Baca juga:
Rusia Terindikasi Kerahkan Pasukan Khusus di Dekat Libya
Jenderal Waldhauser memperingatkan Senat AS bahwa Moskow berusaha untuk “men-Suriah-kan” Libya. Seperti diketahui, Rusia berhasil menolong pasukan rezim Suriah yang nyaris dikalahkan pemberontak atau oposisi yang didukung Barat. Pentagon curiga, cara yang sama akan dilakukan Rusia di Libya.
”Rusia sedang mencoba untuk mempengaruhi keputusan akhir tentang siapa dan entitas mana yang menjadi penanggung jawab pemerintah di Libya,” katanya, seperti dikutip dari Fox News, Selasa (14/3/2017).
Laporan lain yang dilansir Reuters menyatakan, pasukan khusus Rusia yang dikerahkan di dekat Libya itu merupakan tentara bayaran dari kontraktor pertahanan swasta RSB Group milik Oleg Krinitsyn.
Krinitsyn pernah mengaku bahwa pihaknya tidak bekerja dengan Kementerian Pertahanan Rusia, tetapi berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri Rusia.
RSB Group pernah mengirim para kontraktornya ke Libya timur tahun lalu. Namun, mereka menariknya kembali pada bulan Februari lalu setelah menyelesaikan misi.
Tugas para kontraktor keamanan itu adalah untuk menghapus bahan-bahan senjata dan peledak dari fasilitas industri di dekat Kota Benghazi, daerah kekuasaan Jenderal Haftar yang telah dibebaskan dari pemberontak Islamis.
Krinitsyn tidak mengatakan siapa menyewa perusahaannya. Tapi, dia menegaskan bahwa operasi perusahaannya telah disetujui oleh pemerintah Libya yang didukung PBB.
Awal bulan ini Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah mengadakan pembicaraan di Moskow dengan Fayez Seraj, kepala pemerintahan Libya yang didukung PBB. Dalam pertemuan itu, Rusia menegaskan dukungannya untuk mewujudkan pemerintahan bersatu di negara kaya minyak tersebut.
”Moskow menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan semua pihak di Libya dengan tujuan mencari solusi yang dapat diterima bersama untuk menciptakan situasi stabil di Libya sebagai negara yang bersatu, berdaulat dan independen,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.
(mas)