Rusia Dukung Perundingan Damai Suriah Oleh PBB
Senin, 06 Februari 2017 - 04:43 WIB
Rusia Dukung Perundingan Damai Suriah Oleh PBB
A
A
A
MOSKOW - Rusia memberikan dukungannya terhadap kelanjutan pembicaraan damai Suriah di bawah naungan PBB. Pembicaraan damai ini terhenti cukup lama dan sempat diragukan kelanjutannya sampai akhirnya Moskow menginisiasi pembicaraan damai di Astana, Kazakhstan, pada bulan lalu.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, pembicaraan Astana antara perwakilan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan kelompok oposisi adalah langkah terobosan dalam upaya menyelesaikan krisis. Namun, pembicaraan tersebut tidak dipimpin oleh PBB.
"Kami tidak berencana untuk mengganti pembicaraan Jenewa dengan format Astana," katanya dalam wawancara yang dimuat di situs web kementerian seperti dikutip dari Reuters, Senin (6/2/2017).
Lavrov juga menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Moskow berada dalam posisi untuk memecahkan isu-isu bilaterla, meningkatkan hubungan dan mengkoordinasikan upaya-upaya untuk memerangi terorisme internasional. Namun, ia menegaskan, bahwa semua itu harus atas dasar saling menghormati.
Sejatinya pembicaraan damai yang diprakarsai oleh PBB ini dihelat pada 8 Februari. Namun pekan lalu Lavrov mengatakan bahwa pembicaraan itu telah ditunda. Pembicaraan itu pun dijadwal ulang menjadi tanggal 20 Februari.
Utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengatakan ia telah memutuskan untuk menunda untuk mengambil keuntungan dari negosiasi antara pemerintah Suriah dan oposisi di Astana, Kazakhstan, yang diselenggarakan oleh Moscow, Ankara dan Teheran.
Pembicaraan Astana yang berakhir bulan lalu berakhir dengan Rusia, Turki dan Iran setuju untuk memantau gencatan senjata yang ditengahi oleh Moskow dan Ankara sejak 30 Desember lalu.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, pembicaraan Astana antara perwakilan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan kelompok oposisi adalah langkah terobosan dalam upaya menyelesaikan krisis. Namun, pembicaraan tersebut tidak dipimpin oleh PBB.
"Kami tidak berencana untuk mengganti pembicaraan Jenewa dengan format Astana," katanya dalam wawancara yang dimuat di situs web kementerian seperti dikutip dari Reuters, Senin (6/2/2017).
Lavrov juga menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Moskow berada dalam posisi untuk memecahkan isu-isu bilaterla, meningkatkan hubungan dan mengkoordinasikan upaya-upaya untuk memerangi terorisme internasional. Namun, ia menegaskan, bahwa semua itu harus atas dasar saling menghormati.
Sejatinya pembicaraan damai yang diprakarsai oleh PBB ini dihelat pada 8 Februari. Namun pekan lalu Lavrov mengatakan bahwa pembicaraan itu telah ditunda. Pembicaraan itu pun dijadwal ulang menjadi tanggal 20 Februari.
Utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengatakan ia telah memutuskan untuk menunda untuk mengambil keuntungan dari negosiasi antara pemerintah Suriah dan oposisi di Astana, Kazakhstan, yang diselenggarakan oleh Moscow, Ankara dan Teheran.
Pembicaraan Astana yang berakhir bulan lalu berakhir dengan Rusia, Turki dan Iran setuju untuk memantau gencatan senjata yang ditengahi oleh Moskow dan Ankara sejak 30 Desember lalu.
(ian)