Polisi Pakistan Selamatkan 24 Orang Korban
Rabu, 25 Januari 2017 - 23:23 WIB
Polisi Pakistan Selamatkan 24 Orang Korban
A
A
A
PAKISTAN - ”Kami akan mengambil ginjalmu dan Anda akan menerima 300.000 rupee (Rp38 juta).” Itulah kalimat dari geng perdagangan organ yang masih diingat Sadi Ahmed. Selama tiga bulan, Ahmed disandera geng tersebut.
Pada Oktober tahun lalu dia merupakan satu dari 24 orang yang diselamatkan polisi di Rawalpindi, Pakistan. Sebanyak 24 orang itu ditahan di satu gedung di pinggiran kota, menunggu ginjal mereka diambil. Kini, tiga orang tersangka anggota geng itu akan segera diadili bulan depan. Mereka semua menyangkal terlibat dalam perdagangan dan pencangkokan ginjal ilegal tersebut.
Polisi menyatakan, para korban dibujuk ke Rawalpindi dengan harapan mendapatkan pekerjaan. Mereka bahkan dikelabui dengan dibawa ke gedung pengadilan dengan alasan untuk mengurus surat dan dokumen. Faktanya, geng itu membuat dokumen palsu untuk mengelabui para korban yang kemudian disekap selama beberapa bulan.
Ahmed menjelaskan pada BBC bahwa dia dibawa ke gedung pertokoan dan teleponnya disita. Dia segera menyadari tidak akan mendapatkan pekerjaan apa pun. “Ada 20 hingga 25 orang lainnya yang duduk. Saya diminta diam dan duduk di sana. Sekitar 10 menit kemudian, agen datang dan mengatakan agar saya berkemas untuk mengikuti tes. Saya bertanya, Apa jenis tes yang ingin Anda lakukan pada saya? Apa tipe pekerjaan yang Anda tawarkan?,” tutur Ahmed.
Anggota geng itu pun menyatakan hendak melakukan tes pada ginjalnya. Ahmed pun dijanjikan mendapatkan Rp38 juta untuk ginjal tersebut. “Saya dipukuli, tidak diizinkan keluar, kami dikunci. Kami diancam bahwa polisi akan memukuli kami dan kami akan dibunuh,” papar Ahmed.
Saat polisi menggerebek gedung tersebut, Ahmed baru akan dipindahkan menuju rumah sakit terdekat yang disebut Kidney Centre. Karena penggerebekan itu, Ahmed pun selamat dari aksi ilegal geng tersebut. Meski bahagia karena dapat bebas dari sekapan geng tersebut, dia harus membayar utang yang menumpuk saat istri dan empat anaknya ditinggalkannya.
“Saya hanya memiliki rumah dan itu telah disita karena utang saya. Kami sekarang tidak memiliki uang sedikit pun. Kami telah kehilangan rumah kami,” paparnya. Petugas kepolisian Yasir Mehmood menjelaskan, para korban sangat lemah dan sangat sedih saat polisi menemukan mereka.
Para korban disekap di dalam ruangan tertutup. Sekretaris Jenderal Pakistan Transplantation Society Dr Mirza Naqi Zafar mengungkapkan, meski ada larangan untuk bisnis cangkok organ pada 2010, terjadi peningkatan perdagangan organ ilegal dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini diperkirakan sebanyak 100 pencangkokan organ ilegal terjadi setiap bulan di Pakistan. Dia menyatakan, operasi ilegal itu terkait dengan wisata cangkok oleh para pasien asing kaya yang datang ke Pakistan untuk mendapatkan organ dengan harga lebih murah. Kondisi ini terjadi karena sangat terbatasnya organ untuk cangkok secara global. Para pelaku perdagangan organ ilegal itu pun memanfaatkan kesenjangan antara permintaan dan suplai tersebut.
Dr Naqi Zafar memaparkan, pasar gelap mematok harga untuk pencangkokan organ itu antara USD50.000 hingga USD60.000 per pasien. Jika para donor dibayar atas organ mereka, maka mereka hanya mendapatkan bagian yang sangat kecil dari nilai perdagangan itu.
Pada Oktober tahun lalu dia merupakan satu dari 24 orang yang diselamatkan polisi di Rawalpindi, Pakistan. Sebanyak 24 orang itu ditahan di satu gedung di pinggiran kota, menunggu ginjal mereka diambil. Kini, tiga orang tersangka anggota geng itu akan segera diadili bulan depan. Mereka semua menyangkal terlibat dalam perdagangan dan pencangkokan ginjal ilegal tersebut.
Polisi menyatakan, para korban dibujuk ke Rawalpindi dengan harapan mendapatkan pekerjaan. Mereka bahkan dikelabui dengan dibawa ke gedung pengadilan dengan alasan untuk mengurus surat dan dokumen. Faktanya, geng itu membuat dokumen palsu untuk mengelabui para korban yang kemudian disekap selama beberapa bulan.
Ahmed menjelaskan pada BBC bahwa dia dibawa ke gedung pertokoan dan teleponnya disita. Dia segera menyadari tidak akan mendapatkan pekerjaan apa pun. “Ada 20 hingga 25 orang lainnya yang duduk. Saya diminta diam dan duduk di sana. Sekitar 10 menit kemudian, agen datang dan mengatakan agar saya berkemas untuk mengikuti tes. Saya bertanya, Apa jenis tes yang ingin Anda lakukan pada saya? Apa tipe pekerjaan yang Anda tawarkan?,” tutur Ahmed.
Anggota geng itu pun menyatakan hendak melakukan tes pada ginjalnya. Ahmed pun dijanjikan mendapatkan Rp38 juta untuk ginjal tersebut. “Saya dipukuli, tidak diizinkan keluar, kami dikunci. Kami diancam bahwa polisi akan memukuli kami dan kami akan dibunuh,” papar Ahmed.
Saat polisi menggerebek gedung tersebut, Ahmed baru akan dipindahkan menuju rumah sakit terdekat yang disebut Kidney Centre. Karena penggerebekan itu, Ahmed pun selamat dari aksi ilegal geng tersebut. Meski bahagia karena dapat bebas dari sekapan geng tersebut, dia harus membayar utang yang menumpuk saat istri dan empat anaknya ditinggalkannya.
“Saya hanya memiliki rumah dan itu telah disita karena utang saya. Kami sekarang tidak memiliki uang sedikit pun. Kami telah kehilangan rumah kami,” paparnya. Petugas kepolisian Yasir Mehmood menjelaskan, para korban sangat lemah dan sangat sedih saat polisi menemukan mereka.
Para korban disekap di dalam ruangan tertutup. Sekretaris Jenderal Pakistan Transplantation Society Dr Mirza Naqi Zafar mengungkapkan, meski ada larangan untuk bisnis cangkok organ pada 2010, terjadi peningkatan perdagangan organ ilegal dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini diperkirakan sebanyak 100 pencangkokan organ ilegal terjadi setiap bulan di Pakistan. Dia menyatakan, operasi ilegal itu terkait dengan wisata cangkok oleh para pasien asing kaya yang datang ke Pakistan untuk mendapatkan organ dengan harga lebih murah. Kondisi ini terjadi karena sangat terbatasnya organ untuk cangkok secara global. Para pelaku perdagangan organ ilegal itu pun memanfaatkan kesenjangan antara permintaan dan suplai tersebut.
Dr Naqi Zafar memaparkan, pasar gelap mematok harga untuk pencangkokan organ itu antara USD50.000 hingga USD60.000 per pasien. Jika para donor dibayar atas organ mereka, maka mereka hanya mendapatkan bagian yang sangat kecil dari nilai perdagangan itu.
(esn)