Pengungsi Rohingya: Militer Myanmar Bunuh 7 Anak Saya

Sabtu, 10 Desember 2016 - 16:19 WIB
Pengungsi Rohingya:...
Pengungsi Rohingya: Militer Myanmar Bunuh 7 Anak Saya
A A A
DHAKA - Seorang pengungsi Rohingya mengungkapkan bahwa ia telah kehilangan 7 anaknya akibat kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Myanmar. Ia sendiri bahkan menjadi korban perkosaan dan terpaksa mengungsi ke Bangladesh.

Noor Ayesha menjaga dengan ketat anaknya yang masih hidup ketika perahu yang mereka tumpangi menyebrangi perairan Bangladesh. Aisyah terpaksa meninggalkan kampung halamannya dengan sejuta kisah pilu. Rumahnya dibom, suaminya mati, tujuh anaknya dibunuh dan para prajurit Myanmar memperkosanya.

"Sekitar 20 dari mereka (tentara Myanmar) muncul di depan rumah saya," kata wanita Rohingya berusia 40 tahun itu. Ia kembali mengingat persitiwa di pagi hari pada bulan Oktober ketika desanya diserang oleh ratusan pasukan pemerintah Myanmar.

"Mereka memerintahkan kami semua untuk keluar ke halaman. Mereka memisahkan lima anak-anak kami dan memaksa mereka ke dalam salah satu kamar kami dan mengenakan kait dari luar. Kemudian mereka menembakkan gun-bomb ke ruangan itu," tuturnya seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (10/12/2016).

"Lima dari anak-anak saya dibakar sampai mati oleh tentara. Mereka membunuh dua anak perempuan saya setelah memperkosa mereka. Mereka juga membunuh suami saya dan memperkosa saya," ungkapnya.

Ayesha mengatakan hanya satu anaknya yang selamat dari kegilaan tersebut. Dilnawaz Begum (5) selamat setelah bersembunyti di rumah tetangga ketika tentara tiba di desa Kyat Yoe Pyin, Maungdaw, Rakhine.

Pengakuan Ayesha adalah salah satu dari gelombang laporan pembunuhan di luar hukum, pembakaran dan kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh tentara Myanmar di barat laut negara itu. Pemerintah Myanmar menyangkal tuduhan itu, tetapi PBB mengatakan laporan pemerkosaan dan kekerasan seksual menjadi bagian dari polsa yang lebih luas dari kekerasan bermotif etnis terhadap komunitas Rohingya.

Sekitar satu juta warga etnis Rohingya diperkirakan hidup di negara bagian Rakhine. Aksi kekerasan komunal pada 2012 menyebabkan lebih dari 100.000 dari mereka mencari perlindungan di tempat lain atau menetap di kamp-kamp pengungsian yang sangat ketat.

Rakhine sebagian besar telah ditutup untuk wartawan dan pengamat hak asasi manusia. PBB memperkirakan sekitar 30.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa bulan terakhir, dan citra satelit yang dihasilkan oleh Human Rights Watch menunjukkan 1.250 struktur telah diratakan dalam periode yang sama di desa-desa Rohingya, termasuk 245 di Kyet Yoe Pyin, desa Ayesha.
(ian)
Berita Terkait
Bangladesh Pindahkan...
Bangladesh Pindahkan Ratusan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil
Peringati Eksodus ke...
Peringati Eksodus ke Bangladesh, Pengungsi Rohingya Lakukan Aksi Bungkam
Tentara Myanmar Akui...
Tentara Myanmar Akui Pembunuhan Massal dan Pemerkosaan pada Rohingya
7 Fakta Coxs Bazar Kamp...
7 Fakta Coxs Bazar Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, Hidup Tanpa Status Kewarganegaraan di Negara Orang
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Pemimpin Tertinggi Rohingya...
Pemimpin Tertinggi Rohingya Ditembak Mati di Bangladesh usai Salat
Berita Terkini
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
15 menit yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
1 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
2 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
3 jam yang lalu
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
4 jam yang lalu
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
5 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved