Survei: Warga Filipina Lebih Percaya AS Ketimbang China
Selasa, 18 Oktober 2016 - 15:45 WIB
Survei: Warga Filipina Lebih Percaya AS Ketimbang China
A
A
A
MANILA - Sebuah hasil survei yang dilakukan terhadap warga Filipina menunjukkan jika mereka lebih percaya Amerika Serikat (AS) ketimbang China. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan retorika Presiden Rodrigo Duterte yang anti AS dan mendadak merapat ke China.
Menurut survei yang dilakukan oleh Social Weather Stations, 55 persen warga Filipina sedikit percaya kepada AS ketimbang China berbanding 11 persen dengan mereka yang ragu terhadap AS. Survei ini dilakukan sejak 24 hingga 27 September.
Sementara lebih dari tiga per empat, atau 76 persen, dari 1.200 responden sangat percaya kepada AS berbanding 22 persen dengan mereka yang merasakan hal yang sama terhadap China. Jajak pendapat ini tidak meminta responden untuk menjelaskan pandangan mereka seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/10/2016).
Duterte menunjungi China pada hari ini didampingi oleh setidaknya 200 delegasi bisnis, saat ia melihat peluang untuk membuka aliansi komersial baru dengan Beijing. Duterte menyatakan hal itu bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Filipina dan diversifikasi kebijakan luar negeri yang terlalu bergantung dengan Washington.
Duterte telah mencerca dengan garang AS sebagai sekutu lamanya dan bekas penjajah. Ia mengeluhkan sikap Presiden Barack Obama yang terlalu mendikte terkait perang anti narkoba yang diterapkan oleh Duterte. Ia bahkan sempat mencerca Obama dengan kata-kata 'pergilah ke neraka.'
Menurut survei yang dilakukan oleh Social Weather Stations, 55 persen warga Filipina sedikit percaya kepada AS ketimbang China berbanding 11 persen dengan mereka yang ragu terhadap AS. Survei ini dilakukan sejak 24 hingga 27 September.
Sementara lebih dari tiga per empat, atau 76 persen, dari 1.200 responden sangat percaya kepada AS berbanding 22 persen dengan mereka yang merasakan hal yang sama terhadap China. Jajak pendapat ini tidak meminta responden untuk menjelaskan pandangan mereka seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/10/2016).
Duterte menunjungi China pada hari ini didampingi oleh setidaknya 200 delegasi bisnis, saat ia melihat peluang untuk membuka aliansi komersial baru dengan Beijing. Duterte menyatakan hal itu bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Filipina dan diversifikasi kebijakan luar negeri yang terlalu bergantung dengan Washington.
Duterte telah mencerca dengan garang AS sebagai sekutu lamanya dan bekas penjajah. Ia mengeluhkan sikap Presiden Barack Obama yang terlalu mendikte terkait perang anti narkoba yang diterapkan oleh Duterte. Ia bahkan sempat mencerca Obama dengan kata-kata 'pergilah ke neraka.'
(ian)