Kamis, Rusia Berhenti Bombardir Aleppo Selama 8 Jam
Selasa, 18 Oktober 2016 - 10:04 WIB
Kamis, Rusia Berhenti Bombardir Aleppo Selama 8 Jam
A
A
A
MOSKOW - Militer Rusia dan Suriah akan menghentikan serangan di Aleppo selama delapan jam pada hari Kamis. Penghentian serangan ini agar memungkinkan warga sipil dan pemberontak meninggalkan kota. Begitu pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.
Meski begitu Moskow mengesampingkan kemungkinan gencatan senjata, langkah yang dituntut oleh pemerintah Barat. Moskow mengatakan gencatan senjata hanya akan memberikan pemberontak Islamis kesempatan berkumpul kembali.
"Mengingat situasi, gencatan senjata sepihak tidak masuk akal, karena Jabhat al-Nusra dan kelompok yang bersekutu dengan itu sekali lagi akan diberikan nafas, akan berkumpul kembali dan mengembalikan kemampuan militer mereka," kata pejabat senior Departemen Pertahanan Letnan Jenderal Sergei Rudskoy seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/10/2016).
Rudskoy mengatakan Rusia telah bekerja dengan kekuatan lain untuk mencapai kesepakatan damai untuk Aleppo, tetapi itu akan memakan waktu. Jadi diputuskan untuk memulai jeda kemanusiaan.
"Jeda ini dimaksudkan pertama dan terutama agar warga sipil dapat bergerak bebas, untuk evakuasi yang sakit dan terluka, dan juga untuk menghilangkan pemberontak. Pada 20 Oktober dari 08.00 sampai 16.00, jeda kemanusiaan akan dilaksanakan di wilayah Aleppo. Untuk periode itu, angkatan udara Rusia dan pasukan pemerintah Suriah akan menghentikan serangan udara dan menembak dari senjata lainnya," katanya.
PBB menyambut baik keputusan Rusia ini. Lembaga internasional itu telah lama menyerukan jeda kemanusiaan selama 48 jam setiap minggu dalam pertempuran.
"Setiap berkurangnya kekerasan, mengurangi pertempuran, setiap jeda yang benar-benar diterapkan, akan sangat disambut baik. Kami harus menggunakan jeda untuk melakukan apa pun yang harus kita lakukan, apa pun yang kita bisa. Jelas ada kebutuhan untuk jeda lebih lama untuk mendapatkan truk batuan," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric wartawan.
Meski begitu Moskow mengesampingkan kemungkinan gencatan senjata, langkah yang dituntut oleh pemerintah Barat. Moskow mengatakan gencatan senjata hanya akan memberikan pemberontak Islamis kesempatan berkumpul kembali.
"Mengingat situasi, gencatan senjata sepihak tidak masuk akal, karena Jabhat al-Nusra dan kelompok yang bersekutu dengan itu sekali lagi akan diberikan nafas, akan berkumpul kembali dan mengembalikan kemampuan militer mereka," kata pejabat senior Departemen Pertahanan Letnan Jenderal Sergei Rudskoy seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/10/2016).
Rudskoy mengatakan Rusia telah bekerja dengan kekuatan lain untuk mencapai kesepakatan damai untuk Aleppo, tetapi itu akan memakan waktu. Jadi diputuskan untuk memulai jeda kemanusiaan.
"Jeda ini dimaksudkan pertama dan terutama agar warga sipil dapat bergerak bebas, untuk evakuasi yang sakit dan terluka, dan juga untuk menghilangkan pemberontak. Pada 20 Oktober dari 08.00 sampai 16.00, jeda kemanusiaan akan dilaksanakan di wilayah Aleppo. Untuk periode itu, angkatan udara Rusia dan pasukan pemerintah Suriah akan menghentikan serangan udara dan menembak dari senjata lainnya," katanya.
PBB menyambut baik keputusan Rusia ini. Lembaga internasional itu telah lama menyerukan jeda kemanusiaan selama 48 jam setiap minggu dalam pertempuran.
"Setiap berkurangnya kekerasan, mengurangi pertempuran, setiap jeda yang benar-benar diterapkan, akan sangat disambut baik. Kami harus menggunakan jeda untuk melakukan apa pun yang harus kita lakukan, apa pun yang kita bisa. Jelas ada kebutuhan untuk jeda lebih lama untuk mendapatkan truk batuan," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric wartawan.
(ian)