AS Belum Punya Rencana Besar Berangus ISIS di Libya
Rabu, 22 Juni 2016 - 18:46 WIB
AS Belum Punya Rencana Besar Berangus ISIS di Libya
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) sejauh ini belum memiliki sebuah rencana besar untuk membantu pemerintah Libya memerangi ISIS. Hal itu diutarakan oleh pejabat tinggi militer Letnan Jenderal Thomas Waldhauser.
Berbicara di hadapan anggota parlemen pada sidang konfirmasi sebelum Senat Komite Angkatan Bersenjata, Waldhauser mengatakan, dirinya belum melihat adanya tanda-tanda AS sedang menyiapkan sebuah rencana atau operasi besar di Libya.
"Saya tidak mengetahui adanya keseluruhan strategi besar pada saat ini," kata Waldhauser dalam pernayataannya, seperti dilansir al-Arabiya pada Rabu (22/6).
Calon Komandan pasukan AS di Afrika itu juga mengatakan, untuk saat ini keberadaan sejumlah kecil pasukan kecil yang ada di Libya sudah cukup memadai untuk mengantisipasi ancaman yang ada.
AS sendiri memang sangat hati-hati untuk kembali melakukan operasi di Libya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama saat menggulingkan rezim Muammar Qaddafi. Dimana, Presiden AS Barack Obama mengakui tidak memikirkan efek jangka panjang dari operasi tersebut.
Paska runtuhnya rezim Qaddafi, Libya justru terjebak dalam perang saudara. Perang saudara ini jugalah yang dimanfaatkan oleh ISIS untuk mengembangkan diri di negara tersebut.
Berbicara di hadapan anggota parlemen pada sidang konfirmasi sebelum Senat Komite Angkatan Bersenjata, Waldhauser mengatakan, dirinya belum melihat adanya tanda-tanda AS sedang menyiapkan sebuah rencana atau operasi besar di Libya.
"Saya tidak mengetahui adanya keseluruhan strategi besar pada saat ini," kata Waldhauser dalam pernayataannya, seperti dilansir al-Arabiya pada Rabu (22/6).
Calon Komandan pasukan AS di Afrika itu juga mengatakan, untuk saat ini keberadaan sejumlah kecil pasukan kecil yang ada di Libya sudah cukup memadai untuk mengantisipasi ancaman yang ada.
AS sendiri memang sangat hati-hati untuk kembali melakukan operasi di Libya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama saat menggulingkan rezim Muammar Qaddafi. Dimana, Presiden AS Barack Obama mengakui tidak memikirkan efek jangka panjang dari operasi tersebut.
Paska runtuhnya rezim Qaddafi, Libya justru terjebak dalam perang saudara. Perang saudara ini jugalah yang dimanfaatkan oleh ISIS untuk mengembangkan diri di negara tersebut.
(esn)