Korut Anggap Pembelotan 13 Warganya sebagai Penculikan Korsel
Rabu, 13 April 2016 - 13:45 WIB
Korut Anggap Pembelotan 13 Warganya sebagai Penculikan Korsel
A
A
A
PYONGYANG - Pemerintah Korea Utara (Korut) menganggap pembelotan 13 warganya ke Seoul sebagai penculikan mengerikan yang dilakukan Korea Selatan (Kosel). Laporan pembelotan itu pun juga dianggap rekayasa Pemerintah Korsel.
Korut di bawah kepemimpinan rezim Kim Jong-un menuntut pemulangan 13 warganya. Pyongyang bahkan mengeluarkan peringatan keras terhadap Seoul.
Ke-13 warga Korut yang diklaim Korsel membelot ke Soul itu semula bekerja di sebuah restoran di China. Korut menyatakan, ke-13 warganya “terpikat” oleh pemerintah Korsel.
Sebuah pernyataan resmi dari Pemerintah Korut soal klaim pembelotan 13 orang telah disiarkan kantor berita Pemerintah Korut, KCNA, Rabu (13/4/2016).
”Kami tegas mengecam penculikan sekelompok warga DPRK sebagai kejahatan mengerikan terhadap martabat, sistem sosial, kehidupan dan keamanan warga,” bunyi pernyataan Pemerintah Korut.
”Kecuali mereka meminta maaf atas penculikan mengerikan dan mereka mengirim korban penculikan kembali, mereka (Korsel) akan menghadapi konsekuensi serius yang tak terbayangkan dan hukuman berat,” lanjut pernyataan itu.
Laporan pembelotan warga Korut sudah berkali-kali muncul. Rezim Kim Jong-un juga telah mengambil langkah-langkah yang kuat untuk membendung lonjakan pembelotan dalam beberapa tahun terakhir.
Ke-13 pembelot yang oleh Korut dianggap korban penculikan Korsel itu termasuk 12 wanita dan anak dari elite partai berkuasa Korut. Mereka adalah bagian dari upaya Korut mengirim tenaga kerja ke luar negeri untuk menghasilkan uang bagi rezim Pyongyang.
Diperkirakan bahwa ada 130 restoran Korea Utara di luar negeri, terutama di China yang menghasilkan uang sekitar USD10 juta per tahun.
Laporan pembelotan 13 warga Korut ke Korsel itu bersamaan dengan pembelotan seorang perwira intelijen Pyongyang ke Seoul. Korsel telah membenarkan laporan seorang perwira mata-mata yang ditugaskan melakukan misi intelijen terhadap Seoul, namun memilih membelot ke Korsel.
Korut di bawah kepemimpinan rezim Kim Jong-un menuntut pemulangan 13 warganya. Pyongyang bahkan mengeluarkan peringatan keras terhadap Seoul.
Ke-13 warga Korut yang diklaim Korsel membelot ke Soul itu semula bekerja di sebuah restoran di China. Korut menyatakan, ke-13 warganya “terpikat” oleh pemerintah Korsel.
Sebuah pernyataan resmi dari Pemerintah Korut soal klaim pembelotan 13 orang telah disiarkan kantor berita Pemerintah Korut, KCNA, Rabu (13/4/2016).
”Kami tegas mengecam penculikan sekelompok warga DPRK sebagai kejahatan mengerikan terhadap martabat, sistem sosial, kehidupan dan keamanan warga,” bunyi pernyataan Pemerintah Korut.
”Kecuali mereka meminta maaf atas penculikan mengerikan dan mereka mengirim korban penculikan kembali, mereka (Korsel) akan menghadapi konsekuensi serius yang tak terbayangkan dan hukuman berat,” lanjut pernyataan itu.
Laporan pembelotan warga Korut sudah berkali-kali muncul. Rezim Kim Jong-un juga telah mengambil langkah-langkah yang kuat untuk membendung lonjakan pembelotan dalam beberapa tahun terakhir.
Ke-13 pembelot yang oleh Korut dianggap korban penculikan Korsel itu termasuk 12 wanita dan anak dari elite partai berkuasa Korut. Mereka adalah bagian dari upaya Korut mengirim tenaga kerja ke luar negeri untuk menghasilkan uang bagi rezim Pyongyang.
Diperkirakan bahwa ada 130 restoran Korea Utara di luar negeri, terutama di China yang menghasilkan uang sekitar USD10 juta per tahun.
Laporan pembelotan 13 warga Korut ke Korsel itu bersamaan dengan pembelotan seorang perwira intelijen Pyongyang ke Seoul. Korsel telah membenarkan laporan seorang perwira mata-mata yang ditugaskan melakukan misi intelijen terhadap Seoul, namun memilih membelot ke Korsel.
(mas)