Pentagon Kembali Hidupkan Program Pelatihan bagi Pemberontak Suriah
Rabu, 09 Maret 2016 - 23:04 WIB
Pentagon Kembali Hidupkan Program Pelatihan bagi Pemberontak Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Seorang petinggi militer Amerika Serikat (AS) meminta izin kepada pemerintahan Obama untuk memulai kembali program pelatihan dan pemberian perlengkapan tempur kepada pemberontak Suriah yang memerangi Negara Islam (ISIS). Program ini sebelumnya sempat dijalankan, namun menemui kegagalan.
"Saya sudah meminta izin untuk me-restart upaya dengan menggunakan pendekatan yang berbeda," kata Komandan CentCom, Jenderal Lloyd Austin, kepala pasukan AS di Timur Tengah, kepada sidang Kongres, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (9/3/2016).
"Pelatihan ini akan lebih pendek. Tapi sekali lagi, saya pikir mereka akan dapat sangat memungkinkan pasukan setelah mereka diperkenalkan kembali," katanya.
Selama sidang, Austin mengatakan, program baru akan memperhitungkan pelajaran kegagalam sebelumnya. "Bagian dari itu (kegagalan) itu karena kami mencoba mengambil sejumlah besar orang dari pertempuran dan menjaga mereka dalam pelatihan untuk jangka waktu yang lama. Kami sudah menyesesuaikan pendekatan kami," kata Austin.
Sebelumnya, AS sudah mengucurkan dana USD500 juta untuk program tersebut pada bulan Juli lalu. Namun, 54 anggota pelatihan itu dibunuh atau disandera oleh Front al-Nusra, bahkan sebelum bertempur dengan ISIS. Sedangkan sisanya dilaporkan melarikan diri. Pemerintahan Obama pun mengumumkan berencana menghentikan program tersebut pada Oktober lalu dan fokus mendukung pasukan sudah terlibat dalam pertempuran melawan ISIS.
"Saya sudah meminta izin untuk me-restart upaya dengan menggunakan pendekatan yang berbeda," kata Komandan CentCom, Jenderal Lloyd Austin, kepala pasukan AS di Timur Tengah, kepada sidang Kongres, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (9/3/2016).
"Pelatihan ini akan lebih pendek. Tapi sekali lagi, saya pikir mereka akan dapat sangat memungkinkan pasukan setelah mereka diperkenalkan kembali," katanya.
Selama sidang, Austin mengatakan, program baru akan memperhitungkan pelajaran kegagalam sebelumnya. "Bagian dari itu (kegagalan) itu karena kami mencoba mengambil sejumlah besar orang dari pertempuran dan menjaga mereka dalam pelatihan untuk jangka waktu yang lama. Kami sudah menyesesuaikan pendekatan kami," kata Austin.
Sebelumnya, AS sudah mengucurkan dana USD500 juta untuk program tersebut pada bulan Juli lalu. Namun, 54 anggota pelatihan itu dibunuh atau disandera oleh Front al-Nusra, bahkan sebelum bertempur dengan ISIS. Sedangkan sisanya dilaporkan melarikan diri. Pemerintahan Obama pun mengumumkan berencana menghentikan program tersebut pada Oktober lalu dan fokus mendukung pasukan sudah terlibat dalam pertempuran melawan ISIS.
(ian)