Sekjen PBB Malu Belum Bisa Damaikan Palestina-Israel
Sabtu, 06 Februari 2016 - 21:39 WIB
Sekjen PBB Malu Belum Bisa Damaikan Palestina-Israel
A
A
A
LONDON - Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon mengaku malu karena proses perdamaian Israel-Palestina tidak ada kemajuan. Terlebih, masa jabatan Ki-moon sebagai Sekjen PBB akan berakhir pada akhir tahun ini.
"Saya merasa bersalah, merasa malu kurangnya kemajuan dalam proses perdamaian Israel-Palestina," tuturnya dalam sebuah acara di London, Inggris, seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Sabtu (6/2/2016).
Proses perdamaian menemui jalan buntu sejak misi perdamaian Amerika Serikat (AS) runtuh pada bulan April 2014 lalu. Situasi semakin tidak mengenakkan bagi Ki-moon setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menudingnya "membela terorisme". Netanyahu menyatakan hal itu setelah Ki-moon mengatakan dapat mengerti jika Palestina menolak kekuasaan militer Israel.
"Pada dasarnya terserah kepada pemimpin Israel dan Palestina untuk mengakhiri konflik. Saya tidak bekerja untuk negara tertentu atau kebijakan tertentu tapi untuk orang-orang di wilayah ini," tegasnya.
Saat ini, Palestina dan Israel terlibat ketegangan yang telah terjadi sejak empat bulan lalu. Dua puluh lima orang Israel dan satu warga negara AS tewas dalam serangkaian serangan tunggal yang dilakukan oleh warga Palestina. Sementara setidaknya 160 warga Palestina tewas oleh tembakan militer Israel. Kebanyakan mereka yang tewas diduga sebagai pelaku penyerangan.
"Saya merasa bersalah, merasa malu kurangnya kemajuan dalam proses perdamaian Israel-Palestina," tuturnya dalam sebuah acara di London, Inggris, seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Sabtu (6/2/2016).
Proses perdamaian menemui jalan buntu sejak misi perdamaian Amerika Serikat (AS) runtuh pada bulan April 2014 lalu. Situasi semakin tidak mengenakkan bagi Ki-moon setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menudingnya "membela terorisme". Netanyahu menyatakan hal itu setelah Ki-moon mengatakan dapat mengerti jika Palestina menolak kekuasaan militer Israel.
"Pada dasarnya terserah kepada pemimpin Israel dan Palestina untuk mengakhiri konflik. Saya tidak bekerja untuk negara tertentu atau kebijakan tertentu tapi untuk orang-orang di wilayah ini," tegasnya.
Saat ini, Palestina dan Israel terlibat ketegangan yang telah terjadi sejak empat bulan lalu. Dua puluh lima orang Israel dan satu warga negara AS tewas dalam serangkaian serangan tunggal yang dilakukan oleh warga Palestina. Sementara setidaknya 160 warga Palestina tewas oleh tembakan militer Israel. Kebanyakan mereka yang tewas diduga sebagai pelaku penyerangan.
(ian)