Korsel: Nekat Jajal Roket Jarak Jauh, Korut Bayar Harga Mahal
Rabu, 03 Februari 2016 - 12:57 WIB
Korsel: Nekat Jajal Roket Jarak Jauh, Korut Bayar Harga Mahal
A
A
A
SEOUL - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memperingatkan Korea Utara (Korut) akan membayar harga yang mahaljika nekat meluncurkan roket jarak jauh dalam beberapa hari ke depan. Seoul mendesak Pyongyang membatalkan uji coba peluncuran roket jarak jauh itu.
Ketegangan di Semenanjung Korea terus memanas setelah Korut secara resmi memberitahu PBB bahwa mereka akan meluncurkan satelit observasi bumi antara 8 dan 25 Februari 2016. Namun, rencana peluncuran satelit itu dicurigai sebagai program rahasia Korut untuk menguji coba teknologi rudal balistik mereka.
Setelah pemberitahuan resmi Korut kepada PBB, Korsel lengsung menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional.
“Korut harus menarik rencana peluncuran (roket jarak jauh),” kata Cho Tae-yong, Wakil Kepala Kantor Kepresidenan untuk Keamanan Nasional Korsel. ”Kami tegas memperingatkan bahwa Korut akan membayar harga yang mahal,” lanjut dia tanpa merinci spesifik dari tindakan Seoul ke depan.
Menteri Pertahanan Korsel, Han Min-koo, menegaskan bahwa ancaman dari negara tetangganya tetap menjadi prioritas utama.”Ketegangan militer terus-menerus setelah uji coba keempat nuklir Korut baru-baru ini, dan ketegangan di Semenanjung Korea jauh lebih meningkat seiring dengan pemberitahuan (Korut), pada saat PBB membahas sanksi,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/2/2016).
Dalam pemberitahuannya, Korut menyatakan, tahap pertama kemungkinan roketakan jatuh di perairan lepas pantai barat Korsel. Tahap kedua, kemungkinan roket akan jatuh di perairan dekat Filipina.
Pemberitahuan Pyongyang itu telah membuat marah semua beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang. ”Jika Korea Utara melangkah ke depan dan meluncurkan roket, itu jelas akan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menimbulkan provokasi serius,” kata Perdana Menteri Jepang; Shinzo Abe.
Ketegangan di Semenanjung Korea terus memanas setelah Korut secara resmi memberitahu PBB bahwa mereka akan meluncurkan satelit observasi bumi antara 8 dan 25 Februari 2016. Namun, rencana peluncuran satelit itu dicurigai sebagai program rahasia Korut untuk menguji coba teknologi rudal balistik mereka.
Setelah pemberitahuan resmi Korut kepada PBB, Korsel lengsung menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional.
“Korut harus menarik rencana peluncuran (roket jarak jauh),” kata Cho Tae-yong, Wakil Kepala Kantor Kepresidenan untuk Keamanan Nasional Korsel. ”Kami tegas memperingatkan bahwa Korut akan membayar harga yang mahal,” lanjut dia tanpa merinci spesifik dari tindakan Seoul ke depan.
Menteri Pertahanan Korsel, Han Min-koo, menegaskan bahwa ancaman dari negara tetangganya tetap menjadi prioritas utama.”Ketegangan militer terus-menerus setelah uji coba keempat nuklir Korut baru-baru ini, dan ketegangan di Semenanjung Korea jauh lebih meningkat seiring dengan pemberitahuan (Korut), pada saat PBB membahas sanksi,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/2/2016).
Dalam pemberitahuannya, Korut menyatakan, tahap pertama kemungkinan roketakan jatuh di perairan lepas pantai barat Korsel. Tahap kedua, kemungkinan roket akan jatuh di perairan dekat Filipina.
Pemberitahuan Pyongyang itu telah membuat marah semua beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang. ”Jika Korea Utara melangkah ke depan dan meluncurkan roket, itu jelas akan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menimbulkan provokasi serius,” kata Perdana Menteri Jepang; Shinzo Abe.
(mas)