Media Beijing: China Murah Hati, Myanmar Jangan Dekati AS
Selasa, 10 November 2015 - 12:37 WIB
Media Beijing: China Murah Hati, Myanmar Jangan Dekati AS
A
A
A
BEIJING - Media Beijing yang berafiliasi dengan Partai Komunis China memperingatkan Myanmar agar jangan mendekati Amerika Serikat (AS). Media itu mengklaim China merupakan negara yang murah hati selama menjadi sekutu Myanmar selama ini.
Peringatan surat kabar Global Times itu muncul dalam editorialnya, Selasa (10/11/2015) setelah partai oposisi yang dipimpin Aung San Suu Kyi mengalahkan rezim junta militer dalam Pemilu bersejarah Myanmar.
Beijing telah menjadi sekutu terdekat Yangon selama tahun-tahun atau selama junta militer berkuasa. Peringatan media China itu muncul setelah Suu Kyi dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) bersumpah untuk lebih mewakili kehendak rakyat Myanmar.
“Pemerintah sipil Myanmar telah bergerak menuju Pemilu terbuka dan bekerja untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat, hubungan dengan China telah bergeser dari hal normal,” bunyi editorial Global Times.
“Bergerak lebih dekat ke AS akan menjadi langkah dungu (yang) akan merusak ruang strategis dan sumber daya untuk memperoleh kebijakan damai dari China,” lanjut editorial itu. ”China telah menawarkan strategis murah hati dan baik.”
Sebelum Myanmar menggelar Pemilu bersejarah, ada langkah besar yang telah dilakukan Presiden Myanmar, Thein Sein, yakni menghentikan pembangunan bendungan besar Myitsone yang didukung China.
Namun, media China itu menyatakan proyek bendungan senilai USD3,6 miliar itu merupakan gangguan kedua belah pihak yang tidak melayani kepentingan rakyat Myanmar.
Awal tahun ini, Beijing juga menegur keras Myanmar setelah pesawat militernya menjatuhkan bom di wilayah China yang menewaskan lima orang warga warga China. Myanmar saat itu mengklaim sedang mengejar pemberontak etnis Kokang.
Peringatan surat kabar Global Times itu muncul dalam editorialnya, Selasa (10/11/2015) setelah partai oposisi yang dipimpin Aung San Suu Kyi mengalahkan rezim junta militer dalam Pemilu bersejarah Myanmar.
Beijing telah menjadi sekutu terdekat Yangon selama tahun-tahun atau selama junta militer berkuasa. Peringatan media China itu muncul setelah Suu Kyi dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) bersumpah untuk lebih mewakili kehendak rakyat Myanmar.
“Pemerintah sipil Myanmar telah bergerak menuju Pemilu terbuka dan bekerja untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat, hubungan dengan China telah bergeser dari hal normal,” bunyi editorial Global Times.
“Bergerak lebih dekat ke AS akan menjadi langkah dungu (yang) akan merusak ruang strategis dan sumber daya untuk memperoleh kebijakan damai dari China,” lanjut editorial itu. ”China telah menawarkan strategis murah hati dan baik.”
Sebelum Myanmar menggelar Pemilu bersejarah, ada langkah besar yang telah dilakukan Presiden Myanmar, Thein Sein, yakni menghentikan pembangunan bendungan besar Myitsone yang didukung China.
Namun, media China itu menyatakan proyek bendungan senilai USD3,6 miliar itu merupakan gangguan kedua belah pihak yang tidak melayani kepentingan rakyat Myanmar.
Awal tahun ini, Beijing juga menegur keras Myanmar setelah pesawat militernya menjatuhkan bom di wilayah China yang menewaskan lima orang warga warga China. Myanmar saat itu mengklaim sedang mengejar pemberontak etnis Kokang.
(mas)