Sebut Berita Fiktif, Kemlu Bantah Pertemuan Jokowi & Obama Pakai Broker

Sabtu, 07 November 2015 - 14:33 WIB
Sebut Berita Fiktif,...
Sebut Berita Fiktif, Kemlu Bantah Pertemuan Jokowi & Obama Pakai Broker
A A A
JAKARTA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, menyesalkan artikel berita yang berjudul ”Menunggu di Lobi Gedung Putih” yang menyebut pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Barack Obama menggunakan jasa broker. Kemlu menyebut sebagian artikel itu fiktif.

“Isu yang diangkat sangat tidak akurat, tidak berdasar dan sebagian mendekati ke arah fiktif,” kata pihak Kemlu dalam pernyataan tertulis yang diterima Sindonews, Sabtu (7/11/2015).

Kunjungan Presiden Jokowi ke AS, lanjut Kemlu, adalah atas undangan Presiden Obama yang disampaikan langsung pada saat pertemuan bilateral di sela-sela KTT APEC 2014 di Beijing pada 10 November 2014. Undangan itu kemudian ditindaklanjuti dengan undangan tertulis yang disampaikan melalui saluran diplomatik.

“Jadwal Presiden Jokowi serta perhatian beliau akan berbagai isu penting dan mendesak mengakibatkan undangan ini baru dapat dipenuhi pada tanggal 25-27 Oktober 2015,” lanjut Kemlu.

Menurut Kemlu, sama halnya dengan persiapan kunjungan Presiden RI ke negara-negara lain, persiapan kunjungan ke AS tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, parlemen, KBRI Washington D.C, Konsulat Jenderal RI di San Francisco, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, serta kalangan bisnis dan para pemangku kepentingan lainnya.

”Pemerintah RI tidak menggunakan jasa pelobi dalam mengatur dan mempersiapkan kunjungan Presiden ke AS. Kemlu juga tidak pernah mengeluarkan anggaran kementerian untuk jasa pelobi,” kata Kemlu.

“Namun memahami bahwa penggunaan jasa pelobi merupakan bagian nyata dari dunia politik di AS dan seringkali digunakan oleh pemangku kepentingan dan pemerintah negara-negara lain di dunia untuk memajukan kepentingan mereka di AS,” lanjut Kemlu.

Kemlu menyesalkan adanya tuduhantidak berdasar tentang adanya perselisihan antara Menteri Luar Negeri dan salah satu menteri lain pada saat persiapan kunjungan Presiden Jokowi ke AS. Tuduhan itu awalnya diembuskan Michael Buehler, dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies di London di situs New Mandala.
(mas)
Berita Terkait
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Amerika Serikat Dukung...
Amerika Serikat Dukung Indonesia Jadi Anggota FATF
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Indonesia
BRICS Menambah Indonesia,...
BRICS Menambah Indonesia, Waspadai Ancaman Amerika Serikat
Berita Terkini
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
30 menit yang lalu
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
1 jam yang lalu
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
1 jam yang lalu
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
2 jam yang lalu
Venezuela Diguncang...
Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
2 jam yang lalu
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
3 jam yang lalu
Infografis
4 Presiden Indonesia...
4 Presiden Indonesia Lahir Bulan Juni, Soekarno hingga Jokowi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved