Tuntut Persamaan, UEA Minta Diizinkan Bangun Proyek Nuklir
Jum'at, 16 Oktober 2015 - 21:25 WIB
Tuntut Persamaan, UEA Minta Diizinkan Bangun Proyek Nuklir
A
A
A
WASHINGTON - Anggota Parlemen Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, seorang pejabat senior Uni Emirat Arab menuntut persamaan hak untuk memperkaya uranium seperti Iran. Menurut Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen AS, Rep. Ed Royce, Dubes UEA untuk Amerika Serikat, Yousef al-Otaiba, lewat sambungan telepon mengatakan bahwa negaranya tidak lagi terikat dengan perjanjian nuklir yang telah ditandatangani dengan AS sebelumnya.
"Dia mengatakan kepada saya, 'musuh terburuk' Anda telah mendapatkan hak untuk memperkaya uranium. Sekarang, teman Anda menginginkan hak yang sama dan kami bukanlah satu-satunya negara yang menginginkan hal itu'," ujar anggota Parlemen AS, Ed Royce, seperti dikutip dari laman The Washington Post, Jumat (16/10/2015).
Dalam perjanjian yang ditandatangani oleh UEA, AS setuju untuk berbagi bahan, teknologi dan peralatan untuk memproduksi energi nuklir. Dalam perjanjian yang dikenal dengan sebutan Perjanjian 123 itu, UEA berjanji untuk tidak memperkaya uranium atau memproses ulang bahan bakar bekas untuk mengambil plutonium, dua hal yang dibutuhkan untuk membuat senjata atom.
Menanggapi hal ini, pihak Kedubes UEA membantahnya dan mengatakan bahwa pihaknya masih konsisten dengan isi Perjanjian 123. "Pemerintah UEA secara resmi belum mengubah pandangan atau perspektif tentang Perjanjian 123 atau komitmennya," begitu pernyataan pihak Kedubes UEA melalui e-mail.
UEA sendiri sebelumnya mengaku senang dengan kesepakatan nuklir internasional antar Iran dan enam negara terkuat di dunia.
"Dia mengatakan kepada saya, 'musuh terburuk' Anda telah mendapatkan hak untuk memperkaya uranium. Sekarang, teman Anda menginginkan hak yang sama dan kami bukanlah satu-satunya negara yang menginginkan hal itu'," ujar anggota Parlemen AS, Ed Royce, seperti dikutip dari laman The Washington Post, Jumat (16/10/2015).
Dalam perjanjian yang ditandatangani oleh UEA, AS setuju untuk berbagi bahan, teknologi dan peralatan untuk memproduksi energi nuklir. Dalam perjanjian yang dikenal dengan sebutan Perjanjian 123 itu, UEA berjanji untuk tidak memperkaya uranium atau memproses ulang bahan bakar bekas untuk mengambil plutonium, dua hal yang dibutuhkan untuk membuat senjata atom.
Menanggapi hal ini, pihak Kedubes UEA membantahnya dan mengatakan bahwa pihaknya masih konsisten dengan isi Perjanjian 123. "Pemerintah UEA secara resmi belum mengubah pandangan atau perspektif tentang Perjanjian 123 atau komitmennya," begitu pernyataan pihak Kedubes UEA melalui e-mail.
UEA sendiri sebelumnya mengaku senang dengan kesepakatan nuklir internasional antar Iran dan enam negara terkuat di dunia.
(ian)