PBB: 1.325 Tewas Akibat Kekerasan di Irak Selama Agustus
Rabu, 02 September 2015 - 02:59 WIB
PBB: 1.325 Tewas Akibat Kekerasan di Irak Selama Agustus
A
A
A
BAGHDAD - Sebanyak 1.325 warga Irak tewas dan 1.811 lainnya terluka akibat serangan teroris dan aksi kekerasan sepanjang Agustus 2015. Demikian diungkapkan Misi Bantuan PBB untuk Irak (UNAMI) dalam sebuah pernyataan, Selasa (1/9/2015).
Menurut UNAMI, seperti dikutip dari Xinhua, sebanyak 585 warga sipil, termasuk 20 polisi dan 740 personel pasukan keamanan Irak tewas. Sementara 1.103 warga sipil lainnya, termasuk 44 polisi dan 708 anggota keamanan, terluka.
Jumlah korban ini juga termasuk korban yang berasal dari Provinsi Anbar, wilayah yang masih terus bergolak akibat agresi ISIS. Di Provinsi Anbar, dilaporkan terdapat 187 korban sipil, yang terdiri dari 39 tewas dan 148 luka-luka. Informasi ini didapat dari Direktorat Kesehatan provinsi Anbar.
"Jumlah korban yang diperoleh dari Direktorat Kesehatan Anbar mungkin tidak mencerminkan jumlah korban sebenarnya. Secara umum, UNAMI kesulitan untuk memverifikasi jumlah korban di daerah konflik. Angka-angka yang dilaporkan harus dianggap sebagai minimum absolut," sebut pernyataan UNAMI.
Menurut UNAMI, ibukota Irak, Baghdad adalah provinsi terparah dengan 1.069 korban sipil, termasuk 318 tewas dan 751 luka-luka. Selain Baghdad, korban juga berasal dari provinsi lain, seperti Diyala, Nineveh, Salahudin, dan Kirkuk.
“Melihat jumlah korban yang terus meningkat, serta jumlah pengungsi yang melarikan diri dari perang,
keberhasilan pelaksanaan rencana reformasi pemerintah sangat penting untuk memulihkan ketertiban, legalitas dan keadilan sosial di negara itu,” lanjut pernyataan tersebut.
Situasi keamanan di Irak memburuk sejak Juni 2014, ketika bentrokan berdarah pecah antara pasukan keamanan Irak dan ratusan militan ISIS. Hingga kini, ISIS telah berhasil menguasai sejumlah wilayah di Irak.
Menurut UNAMI, seperti dikutip dari Xinhua, sebanyak 585 warga sipil, termasuk 20 polisi dan 740 personel pasukan keamanan Irak tewas. Sementara 1.103 warga sipil lainnya, termasuk 44 polisi dan 708 anggota keamanan, terluka.
Jumlah korban ini juga termasuk korban yang berasal dari Provinsi Anbar, wilayah yang masih terus bergolak akibat agresi ISIS. Di Provinsi Anbar, dilaporkan terdapat 187 korban sipil, yang terdiri dari 39 tewas dan 148 luka-luka. Informasi ini didapat dari Direktorat Kesehatan provinsi Anbar.
"Jumlah korban yang diperoleh dari Direktorat Kesehatan Anbar mungkin tidak mencerminkan jumlah korban sebenarnya. Secara umum, UNAMI kesulitan untuk memverifikasi jumlah korban di daerah konflik. Angka-angka yang dilaporkan harus dianggap sebagai minimum absolut," sebut pernyataan UNAMI.
Menurut UNAMI, ibukota Irak, Baghdad adalah provinsi terparah dengan 1.069 korban sipil, termasuk 318 tewas dan 751 luka-luka. Selain Baghdad, korban juga berasal dari provinsi lain, seperti Diyala, Nineveh, Salahudin, dan Kirkuk.
“Melihat jumlah korban yang terus meningkat, serta jumlah pengungsi yang melarikan diri dari perang,
keberhasilan pelaksanaan rencana reformasi pemerintah sangat penting untuk memulihkan ketertiban, legalitas dan keadilan sosial di negara itu,” lanjut pernyataan tersebut.
Situasi keamanan di Irak memburuk sejak Juni 2014, ketika bentrokan berdarah pecah antara pasukan keamanan Irak dan ratusan militan ISIS. Hingga kini, ISIS telah berhasil menguasai sejumlah wilayah di Irak.
(esn)