Diduga Ingin Gabung Kelompok Teroris, Australia Tahan 7 Remaja
Kamis, 20 Agustus 2015 - 19:26 WIB
Diduga Ingin Gabung Kelompok Teroris, Australia Tahan 7 Remaja
A
A
A
SYDNEY - Pihak berwenang Australia berhasil mencegah tujuh remaja yang ingin pergi meninggalkan negara itu dan diduga ingin ikut bertempur di Timur Tengah. Mereka berhasil dicegah oleh petugas di Bandara Internasional Sydney pada awal bulan ini.
Perdana Menteri Australia, Tony Abbot menduga, para remaja ini ingin bergabung dengan kelompok teroris di Timur Tengah. Di Australia, bergabung atau membantu kelompok militan di salah satu kelompok yang bertikai di Timur Tengah adalah tindak kejahatan.
"Kejadian ini menunjukkan jika kelompok teroris terus menebar daya pikatnya untuk mendapatkan anggota baru," kata Abbot, seperti dikutip dari BBC, Kamis (20/8/2015).
Namun Abbot tidak memberi tahu dimana keberadaan para pemuda tersebut dan tidak mengungkapkan apakah pemerintah Australia menahan paspor mereka. Dia juga tidak mengkonfirmasi terkait dugaan kewarganegaraan ganda dari salah satu pemuda atau dakwaan yang dikenakan kepada mereka.
Sementara itu, Kepala Imigrasi Australia, Peter Dutton mengatakan, tujuh remaja yang diyakini mempunyai hubungan satu sama lain itu, mencoba meninggalkan Australia dalam dua grup dalam waktu yang berbeda.
Grup pertama terdiri dari lima orang. Mereka berumur antara 20 hingga 30 tahun. Mereka diturunkan dari penerbangan pada minggu lalu untuk diwawancarai dan dipulangkan oleh pihak berwenang. "Mereka kembali mencoba untuk terbang meninggalkan Australia lagi pada keesokan harinya," tambahnya.
Pemerintah Australia bersikap waspada terhadap serangan yang mungkin saja dilakukan oleh kelompok muslim radikal. Mereka juga mewaspadai warganya yang kedapatan baru pulang dari Timur Tengah. Desember lalu, negara ini melarang warganya untuk bepergian ke Provinsi Raqqa di Suriah, provinsi yang dikuasai oleh ISIS.
Perdana Menteri Australia, Tony Abbot menduga, para remaja ini ingin bergabung dengan kelompok teroris di Timur Tengah. Di Australia, bergabung atau membantu kelompok militan di salah satu kelompok yang bertikai di Timur Tengah adalah tindak kejahatan.
"Kejadian ini menunjukkan jika kelompok teroris terus menebar daya pikatnya untuk mendapatkan anggota baru," kata Abbot, seperti dikutip dari BBC, Kamis (20/8/2015).
Namun Abbot tidak memberi tahu dimana keberadaan para pemuda tersebut dan tidak mengungkapkan apakah pemerintah Australia menahan paspor mereka. Dia juga tidak mengkonfirmasi terkait dugaan kewarganegaraan ganda dari salah satu pemuda atau dakwaan yang dikenakan kepada mereka.
Sementara itu, Kepala Imigrasi Australia, Peter Dutton mengatakan, tujuh remaja yang diyakini mempunyai hubungan satu sama lain itu, mencoba meninggalkan Australia dalam dua grup dalam waktu yang berbeda.
Grup pertama terdiri dari lima orang. Mereka berumur antara 20 hingga 30 tahun. Mereka diturunkan dari penerbangan pada minggu lalu untuk diwawancarai dan dipulangkan oleh pihak berwenang. "Mereka kembali mencoba untuk terbang meninggalkan Australia lagi pada keesokan harinya," tambahnya.
Pemerintah Australia bersikap waspada terhadap serangan yang mungkin saja dilakukan oleh kelompok muslim radikal. Mereka juga mewaspadai warganya yang kedapatan baru pulang dari Timur Tengah. Desember lalu, negara ini melarang warganya untuk bepergian ke Provinsi Raqqa di Suriah, provinsi yang dikuasai oleh ISIS.
(esn)