Obama: Tanpa Kesepakatan Nuklir Iran, Timur Tengah Perang Lagi
Kamis, 06 Agustus 2015 - 09:10 WIB
Obama: Tanpa Kesepakatan Nuklir Iran, Timur Tengah Perang Lagi
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, telah memperingatkan bahwa tanpa kesepakatan nuklir Iran, akan ada perang lagi di Timur Tengah. Menurutnya, mereka yang pernah memilih untuk perang di Irak kini menentang diplomasi dengan Iran.
”Pilihan yang kita hadapi pada akhirnya antara diplomasi dan semacam perang, mungkin tidak besok, mungkin tidak tiga bulan dari sekarang, tapi segera. Aksi militer akan jauh lebih efektif daripada kesepakatan ini dalam mencegah Iran untuk memperoleh senjata nuklir,” kata Presiden Obama.
Obama berpendapat bahwa, kesepakatan dengan Iran adalah solusi terbaik untuk mencegah negara itu memperoleh senjata nuklir dan untuk mencegah perang. Jika kesepakatan nuklir Iran ditolak oleh Kongres AS, maka hal itu buruk bagi keamanan AS. (Baca juga: Jika Kongres AS "Bunuh" Kesepakatan Nuklir Iran, Israel Hujan Roket)
“Banyak orang yang berpendapat untuk perang di Irak (dulu), sekarang membuat kasus terhadap kesepakatan nuklir Iran,” ujar Presiden AS yang masa kecilnya pernah tinggal di Menteng, Jakarta itu.
“Sekarang, ketika saya mencalonkan diri sebagai presiden delapan tahun lalu, sebagai calon yang menentang keputusan untuk pergi berperang di Irak. Saya mengatakan kemudian bahwa Amerika tidak hanya harus mengakhiri perang itu, kami harus mengakhiri pola pikir yang membuat kami ada di tempat pertama dari mereka yang menyerukan perang,” ucap Obama, seperti dilansir Russia Today, semalam.
Presiden Obama menambahkan bahwa kebijakan sanksi sepihak tidak hanya tidak akan bekerja, tetapi dapat menyebabkan efek yang merugikan bagi AS itu sendiri. Obama mencontohkan kasus itu terhadap China.
”Ketika kita harus memotong China dari sistem keuangan Amerika. Dan karena mereka berada sebagai pembeli utama dari utang kami, tindakan tersebut bisa memicu gangguan parah pada perekonomian kita sendiri, dan dengan cara, menimbulkan pertanyaan internasional tentang peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.”
Obama mencatat, Israel sebagai negara yang blak-blakan menentang kesepakatan nuklir Iran. Padahal, sikap Israel itu, menurut Obama, bisa membahayakan keamanan Israel.
”Pilihan yang kita hadapi pada akhirnya antara diplomasi dan semacam perang, mungkin tidak besok, mungkin tidak tiga bulan dari sekarang, tapi segera. Aksi militer akan jauh lebih efektif daripada kesepakatan ini dalam mencegah Iran untuk memperoleh senjata nuklir,” kata Presiden Obama.
Obama berpendapat bahwa, kesepakatan dengan Iran adalah solusi terbaik untuk mencegah negara itu memperoleh senjata nuklir dan untuk mencegah perang. Jika kesepakatan nuklir Iran ditolak oleh Kongres AS, maka hal itu buruk bagi keamanan AS. (Baca juga: Jika Kongres AS "Bunuh" Kesepakatan Nuklir Iran, Israel Hujan Roket)
“Banyak orang yang berpendapat untuk perang di Irak (dulu), sekarang membuat kasus terhadap kesepakatan nuklir Iran,” ujar Presiden AS yang masa kecilnya pernah tinggal di Menteng, Jakarta itu.
“Sekarang, ketika saya mencalonkan diri sebagai presiden delapan tahun lalu, sebagai calon yang menentang keputusan untuk pergi berperang di Irak. Saya mengatakan kemudian bahwa Amerika tidak hanya harus mengakhiri perang itu, kami harus mengakhiri pola pikir yang membuat kami ada di tempat pertama dari mereka yang menyerukan perang,” ucap Obama, seperti dilansir Russia Today, semalam.
Presiden Obama menambahkan bahwa kebijakan sanksi sepihak tidak hanya tidak akan bekerja, tetapi dapat menyebabkan efek yang merugikan bagi AS itu sendiri. Obama mencontohkan kasus itu terhadap China.
”Ketika kita harus memotong China dari sistem keuangan Amerika. Dan karena mereka berada sebagai pembeli utama dari utang kami, tindakan tersebut bisa memicu gangguan parah pada perekonomian kita sendiri, dan dengan cara, menimbulkan pertanyaan internasional tentang peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.”
Obama mencatat, Israel sebagai negara yang blak-blakan menentang kesepakatan nuklir Iran. Padahal, sikap Israel itu, menurut Obama, bisa membahayakan keamanan Israel.
(mas)