Suap Penyelundup, Babak Baru 'Panas'-nya Hubungan RI-Australia

Senin, 15 Juni 2015 - 11:14 WIB
Suap Penyelundup, Babak...
Suap Penyelundup, Babak Baru 'Panas'-nya Hubungan RI-Australia
A A A
CANBERRA - Laporan suap pejabat Australia pada para penyelundup manusia agar membawa para pencari suaka ke wilayah Indonesia telah memicu “perang pernyataan diplomatik”. Laporan suap itu juga menjadi babak baru “panas”-nya hubungan Indonesia dan Australia yang mulai membaik usai eksekusi gembong narkoba dua Bali Nine.

Di Australia sendiri, kubu oposisi mendukung Indonesia agar Perdana Menteri Tony Abbott menjelaskan soal laporan suap itu. Laporan itu menyebut seorang pejabat Australia menyuap para penyelundup manusia masing-masing US$5 ribu agar membawa 65 pencari suaka ke wilayah Indonesia.

Salah satu politisi oposisi yang juga senator Australia, Glenn Lazarus, mengatakan, PM Abbott harus mengundurkan diri jika laporan suap itu benar. (Baca juga: Pejabat Australia yang Nyuap, RI yang Disalahkan)

Juru bicara oposisi dari Partai Buruh, Richard Marles, pada Senin (15/6/2015), menyerukan penyelidikan atas laporan suap tersebut. ”Jika ini terjadi, ada pertanyaan serius tentang dasar hukum atas hal itu,” kata Marles, seperti dikutip Reuters.

Menurutnya, tuduhan suap itu sudah “melelahkan” hubungan Australia dan tetangganya, Indonesia, yang sebenarnya sudah mulai membaik setelah sempat memanas akibat eksekusi dua gembong narkoba Bali Nine asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

PM Australia, Tony Abbott, telah menolak merepons tuntutan Indonesia agar menjelaskan soal laporan suap pejabat Australia pada para penyelundup manusia. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop justru menyalahkan Indonesia dalam masalah ini. ( Baca:Abbott Tak Sudi Merespons RI soal Suap Penyelundup Manusia)

Bishop menyalahkan Indonesia yang ia anggap tidak bisa mengamankan wilayah perbatasannya dari aksi para penyelundup manusia.

”Cara terbaik untuk Indonesia adalah untuk menyelesaikan masalah itu dengan melakukan Operation Sovereign Borders untuk menegakkan kedaulatan atas perbatasannya,” ujar Bishop.

”Operation Sovereign Borders diperlukan karena kapal Indonesia dengan kru Indonesia meninggalkan wilayah Indonesia, dengan maksud untuk melanggar kedaulatan kami, memfasilitasi para sindikat penyelundup manusia secara ilegal,” ujar Bishop yang menyalahkan Indonesia atas masuknya para penyelundup manusia.
(mas)
Berita Terkait
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
KJRI Melbourne Benarkan...
KJRI Melbourne Benarkan Ada WNI yang Ditangkap Karena Ngutil Tas Mewah
Kerjasama dengan UNICEF,...
Kerjasama dengan UNICEF, Australia Bantu Penanganan Covid-19 Indonesia
Wasit Yordania Adham...
Wasit Yordania Adham Makhadmeh Pimpin Laga Timnas Indonesia vs Australia
Peringkat Timnas Indonesia...
Peringkat Timnas Indonesia Terpaut Jauh dari Australia, Shin Tae-yong: Kami Tidak Gentar
Berita Terkini
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
12 menit yang lalu
Pentagon Mengungkap...
Pentagon Mengungkap Kumpulan Data UFO Baru, Apakah Banyak Kejutan?
2 jam yang lalu
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
3 jam yang lalu
Jenazah Ayatollah Khamenei...
Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
7 jam yang lalu
PM Pakistan: Perjanjian...
PM Pakistan: Perjanjian Damai Iran dan AS Terwujud dalam 24 Jam Mendatang
8 jam yang lalu
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
9 jam yang lalu
Infografis
7 Kolonel TNI AL Pecah...
7 Kolonel TNI AL Pecah Bintang, Ada Dankopaska Koarmada RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved