Timur Tengah

Pemilihan Presiden jadi harapan kaum perempuan Iran

Rabu,  12 Juni 2013  −  13:06 WIB
Pemilihan Presiden jadi harapan kaum perempuan Iran
Iran (Ilustrasi)

Sindonews.com - Pemilihan presiden Iran menawarkan secercah harapan bagi aktivis untuk menghidupkan kembali hak-hak perempuan, setelah terpinggirkan selama delapan tahun kepemimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Para aktivis hal itu bisa terwujud, meski dalam kampanye pendek para Capres Iran cenderung membahas kondisi ekonomi yang terpukul akibat sanksi internasional dan inflasi tinggi dari sector pendapatan minyak.

Mereka juga optimistis, hak-hak perempuan Iran bisa diperoleh, meski para Capres reformis Iran yang kerap menyuarakan hak-hak perempuan sudah mengundurkan diri dari pertaruangan. Suara perempuan Iran penting, karena jumlah kaum perempuan di negeri para Mullah itu mencapai 35 juta jiwa.

Pemilu ini memberikan kesempatan, kata aktivis Minoo Mortazi, dikutip AFP pada Rabu (12/6/2013). Dia mendesak para perempuan tidak memilih presiden dengan emosi.

Mortazi tanpa menyebut nama Capres, ada kandidat yang bisa mewujudkan harapannya itu. ”Ada calon yang menjanjikan situasi yang lebih baik untuk ibu rumah tangga, katanya. Secara bertahap (kandidat) akan membangun platform yang memungkinkan perempuan untuk mencapai (hak) yang lebih tinggi.

Kendati demikian, beberapa perempuan Iran tetap saja pesimistis dengan pemilihan presiden 14 Juni. Maryam, 28, seorang karyawan perusahaan swasta, mengatakan ia melihat tidak ada gunanya ikut Pemilu. ”Karena perempuan tidak memiliki suara dalam rezim,” ujarnya.

Capres moderat Iran, Hassan Rowhani, yang juga sedang didukung oleh kubu reformis, telah bersumpah bahwa diskriminasi terhadap perempuan tidak akan ditoleransi oleh pemerintahannya, jika ia terpilih. ”Hari ini kita perlu gerakkan masyarakat untuk mencapai perkembangan. Untuk itu kita perlu memperhatikan perempuan," kata Rowhani selama kampanyenya.


(esn)

views: 1.567x
shadow