Tragis, Teror Berdarah Tepat di Hari Revolusi Prancis

Jum'at, 15 Juli 2016 - 11:27 WIB
Tragis, Teror Berdarah...
Tragis, Teror Berdarah Tepat di Hari Revolusi Prancis
A A A
NICE - Teror berdarah di Nice, Prancis pada hari Kamis menjadi insiden tragis. Sebab, serangan dengan truk sarat senjata dan granat terhadap kerumunan massa itu terjadi di Hari Bastille yang juga dikenal sebagai Hari Revolusi Prancis 14 Juli 1789.

Serangan mengerikan dengan truk itu menewaskan sekitar 80 orang. Sopir truk yang diketahui pria asal Tunisia ikut mengumbar tembakan dengan senapan otomatis sebelum akhirnya ditembak mati.

Baca:
Teror Berdarah Hantam Prancis, 80 Orang Dilaporkan Tewas

Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan, tak dipungkiri lagi bahwa serangan mematikan di Nice terhadap massa yang menonton kembang api dalam perayaan Bastille Day adalah “serangan teroris”.

“Serangan itu asali dari teroris, tak bisa dipungkiri,” kata Hollande dalam pidato nasional yang disiarkan stasiun televisi Prancis. Menurutnya, beberapa anak termasuk bagian dari korban tewas yang datang bersama keluarganya untuk merayakan Hari Nasional Prancis.

Baca:
Nice, Sasaran Teror Berdarah dan Cap Kota Flamboyan

Perayaan Bastille Day sejatinya menjadi peringatan rakyat Prancis terhadap nilai-nilai dari Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan). Perayaan diwarnai dengan akrobat jet tempur dari angkatan bersenjata Prancis di Champs Elysees serta penyalaan kembang api yang spektakuler.

”Prancis dihantam pada hari nasional ... simbol kebebasan,” ujar Hollande, seperti dikutip AFP, Jumat (15/7/2016).

Hollande mengumumkan bahwa dia akan memperpanjang status darurat di Prancis darurat selama tiga bulan ke depan setelah serangan terbaru ini.

Baca juga:
Teror Truk Prancis, Orang-orang Berlari di Atas Mayat

Prancis seperti diketahui telah berada dalam status darurat sejak serangan di Paris 13 November Paris dan serangan di kantor majalah Charlie Hebdo bulan Januari.

Pemimpin wilayah Nice, Christian Estrosi, mengaku sudah memperingatkan jauh hari sebelumnya perihal risiko serangan militan di wilayah tersebut, menyusul serangan di Paris dan Brussels selama 18 bulan terakhir.
(mas)
Berita Terkait
Lyon Jadi Pelabuhan...
Lyon Jadi Pelabuhan Baru Jerome Boateng
8 Bukti Prancis Kehilangan...
8 Bukti Prancis Kehilangan Pengaruh Neokolonialisme di Afrika
Prancis Imbau Warganya...
Prancis Imbau Warganya Segera Tinggalkan Pakistan
Pelaku Penyanderaan...
Pelaku Penyanderaan di Bank Prancis Masuk dalam Daftar Pemantauan
Gerakan Boikot Produk...
Gerakan Boikot Produk Prancis Raih Momentum di Bangladesh
5 Alasan PM Prancis...
5 Alasan PM Prancis Sebastien Lecornu Mundur, dari Defisit Anggaran hingga Rasio Utang Capai 113 Persen
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
5 jam yang lalu
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
6 jam yang lalu
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
7 jam yang lalu
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
8 jam yang lalu
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
9 jam yang lalu
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
10 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved