Perang Dingin AS-China Telah Dimulai
Jum'at, 10 Juli 2020 - 12:07 WIB
loading...
A
A
A
Ketegangan China melawan AS juga berimbas pada intervensi politik dalam negeri. Departemen Kehakiman AS menyelidiki pendanaan ilegal yang dilakukan agen rahasia China kepada Komite Nasional Demokrat (DNC) sebelum pemilu 1996.
Selain itu, China juga diduga membangun kedekatan dengan Partai Demokrat sebagai musuh utama Trump. Kedutaan Besar China di Washington juga menjadi alat bagi Beijing untuk mengoordinasikan dukungan bagi Partai Demokrat. Tentunya China memiliki kepentingan untuk menggusur Trump dari Gedung Putih dengan melakukan segala upaya agar dia tidak lagi berkuasa.
Konflik paling nyata AS-China terasa di Asia. Kedua negara itu berlomba dalam memperkuat pengaruh dalam diplomasi hingga perdagangan di Asia. Medan konfliknya bukan saja di Korea Utara, tetapi juga semakin intens di Laut China Selatan. AS membangun aliansi agar melawan dan mengusir China dari Kepulauan Spratly yang diklaim Beijing. (Baca juga: Tak Miliki Jaringan Listrik dan Internet, Jangan Anaktirikan Madrasah)
Permusuhan kedua negara juga berimbas kepada aplikasi media sosial. Ketika sudah lama Beijing memblokade berbagai situs media sosial asal AS, seperti Facebook, Twitter, hingga YouTube, AS pun mempertimbangkan akan menutup aplikasi asal China. Berbagai kekhawatiran adalah upaya pemerintah China mengontrol data pengguna aplikasi media sosial, seperti TikTok ataupun WeChat.
AS telah menuding China agar perempuan Uighur melakukan sterilisasi, melobi Eropa untuk melarang perusahaan keamanan China Nuctech, tidak memberikan visa bagi pejabat china yang bertanggung jawab atas Undang-undang keamanan baru Hong Kong dan memberikan hanya visa kerja selama 90 hari kepada jurnalis China. Konflik AS-China telah menjadi pertarungan ekonomi global dan geopolitik.
Selain itu, China juga diduga membangun kedekatan dengan Partai Demokrat sebagai musuh utama Trump. Kedutaan Besar China di Washington juga menjadi alat bagi Beijing untuk mengoordinasikan dukungan bagi Partai Demokrat. Tentunya China memiliki kepentingan untuk menggusur Trump dari Gedung Putih dengan melakukan segala upaya agar dia tidak lagi berkuasa.
Konflik paling nyata AS-China terasa di Asia. Kedua negara itu berlomba dalam memperkuat pengaruh dalam diplomasi hingga perdagangan di Asia. Medan konfliknya bukan saja di Korea Utara, tetapi juga semakin intens di Laut China Selatan. AS membangun aliansi agar melawan dan mengusir China dari Kepulauan Spratly yang diklaim Beijing. (Baca juga: Tak Miliki Jaringan Listrik dan Internet, Jangan Anaktirikan Madrasah)
Permusuhan kedua negara juga berimbas kepada aplikasi media sosial. Ketika sudah lama Beijing memblokade berbagai situs media sosial asal AS, seperti Facebook, Twitter, hingga YouTube, AS pun mempertimbangkan akan menutup aplikasi asal China. Berbagai kekhawatiran adalah upaya pemerintah China mengontrol data pengguna aplikasi media sosial, seperti TikTok ataupun WeChat.
AS telah menuding China agar perempuan Uighur melakukan sterilisasi, melobi Eropa untuk melarang perusahaan keamanan China Nuctech, tidak memberikan visa bagi pejabat china yang bertanggung jawab atas Undang-undang keamanan baru Hong Kong dan memberikan hanya visa kerja selama 90 hari kepada jurnalis China. Konflik AS-China telah menjadi pertarungan ekonomi global dan geopolitik.
Lihat Juga :