Turki Tuding Ekstremis Kurdi Dalang Serangan Bom, 22 Orang Ditahan

Senin, 14 November 2022 - 16:00 WIB
loading...
Turki Tuding Ekstremis...
Anggota polisi bekerja di lokasi setelah ledakan di jalan pejalan kaki Istiklal yang ramai di Istanbul, Turki, pada 13 November 2022. Foto/REUTERS
A A A
ANKARA - Pemerintah Turki menyalahkan ekstremis Kurdi pada Senin (14/11/2022) atas ledakan yang menewaskan enam orang di jalan perbelanjaan utama Istanbul.

Otoritas mengatakan polisi telah menahan 22 tersangka, termasuk orang yang menanam bom.

Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan perintah untuk menyerang Istiklal Avenue diberikan di Kobani, kota di Suriah utara.

Wilayah Suriah utara merupakan tempat pasukan Turki melakukan operasi terhadap milisi YPG Kurdi Suriah dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Menlu Rusia Sergei Lavrov: AS Dorong Militerisasi Asia Tenggara

Soylu menambahkan pembom telah melewati Afrin, wilayah lain di Suriah utara.

Enam warga Turki, masing-masing dua anggota dari tiga keluarga, tewas dalam serangan itu. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Laporan berita televisi menunjukkan gambar seseorang, yang tampaknya seorang wanita, meninggalkan paket di bawah petak bunga yang ditinggikan di Istiklal Avenue yang bersejarah.

Baca juga: Jepang Siap Tampung Kapal Selam Nuklir Australia, Sebut Aliansi AUKUS Penting

Istiklal Avenue merupakan tempat populer bagi pembeli dan turis dengan jalur trem yang membentang di sepanjang jalan.

Lima puluh orang dipulangkan dari rumah sakit setelah serangan Minggu, yang memicu kekhawatiran bahwa Turki dapat dihantam dengan lebih banyak pemboman dan serangan, seperti yang dideritanya antara pertengahan 2015 dan 2017.

Istanbul telah menjadi sasaran serangan bom di masa lalu oleh Kurdi, dan ekstremis kiri.

Satu cabang dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) mengklaim pemboman kembar di luar stadion sepak bola Istanbul pada Desember 2016 yang menewaskan 38 orang dan melukai 155 orang lainnya.

“Dari mereka yang terluka pada Minggu, dua dari lima orang yang dirawat dalam perawatan intensif berada dalam kondisi kritis,” ungkap kantor Gubernur Istanbul.

Mereka termasuk di antara 31 orang terluka yang masih dirawat di rumah sakit.

Ratusan orang melarikan diri dari jalan setelah ledakan pada Minggu, ketika ambulans dan polisi bergegas masuk.

Daerah itu, di distrik Beyoglu di kota terbesar Turki, telah ramai seperti biasa pada akhir pekan.

Rekaman video yang diperoleh Reuters menunjukkan momen ledakan terjadi pada pukul 16.13. (1313 GMT), mengirimkan puing-puing ke udara dan meninggalkan beberapa orang tergeletak di tanah, sementara yang lain terhuyung-huyung.

Ankara mengatakan YPG, yang didukung Amerika Serikat (AS) dalam konflik di Suriah, adalah sayap PKK.

Turki telah melakukan tiga serangan di Suriah utara terhadap YPG, termasuk pada 2019, merebut ratusan kilometer tanah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan tahun ini bahwa Turki akan kembali menargetkan YPG.

PKK telah memimpin pemberontakan melawan negara Turki sejak 1984 dan lebih dari 40.000 orang tewas dalam bentrokan.

PKK dianggap sebagai organisasi teroris oleh Turki, Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Kecaman atas serangan itu dan belasungkawa bagi para korban mengalir dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Mesir, Ukraina, dan Yunani.

Otoritas Turki mengaitkan dukungan untuk YPG oleh Washington dan lainnya dengan ledakan itu.

Direktur komunikasi kepresidenan, Fahrettin Altun, mengatakan serangan semacam itu “adalah hasil langsung dan tidak langsung dari dukungan yang diberikan beberapa negara kepada organisasi teroris.”

Soylu menyamakan belasungkawa AS dengan "pembunuh yang tiba sebagai salah satu yang pertama di tempat kejadian."

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Mungkinkah Turki Serius...
Mungkinkah Turki Serius Hidupkan Kembali Kekuasaan Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem?
Turki Ingin Rebut dan...
Turki Ingin Rebut dan Bebaskan Yerusalem, Israel Beri Respons Sinis
Wardatina Mawa Dikabarkan...
Wardatina Mawa Dikabarkan Dilamar Pria Turki, Begini Klarifikasi Lengkapnya
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Iran: Israel Ingin Sabotase...
Iran: Israel Ingin Sabotase Perjanjian Damai Iran-AS
Rekomendasi
Widyawati Pantau Tio...
Widyawati Pantau Tio Pakusadewo dari Grup WA, Bersyukur Kondisinya Kini Membaik
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Prabowo Gandeng Imperial...
Prabowo Gandeng Imperial College London Bangun 10 Universitas Kedokteran di Indonesia
Berita Terkini
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Infografis
13 Orang Meninggal Akibat...
13 Orang Meninggal Akibat Insiden Pemusnahan Amunisi di Garut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved