Popularitas Partainya Erdogan Merosot karena Covid-19 dan Tekanan Ekonomi
Rabu, 08 Juli 2020 - 10:23 WIB
loading...
A
A
A
Pada bulan April, sebuah jajak pendapat Reuters memperkirakan ekonomi Turki akan berkontraksi tahun ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade ketika pandemi virus corona baru (Covid-19) memangkas produksi hingga pertengahan tahun.
Sebelum wabah Covid-19 muncul, pemerintah memperkirakan ekonomi tumbuh 5 persen tahun ini setelah pulih dari resesi tahun lalu. Turki saat ini memiliki jumlah kasus infeksi Covid-19 tertinggi ke-14 di dunia.
”Keuangan Ankara melemah sebelum pandemi — tetapi kombinasi utang luar negeri, krisis kesehatan masyarakat, dan seorang presiden yang memilih untuk melindungi reputasinya daripada kemampuan rakyatnya mengantisipasi bencana,” demikian bunyi artikel Foreign Policy yang dilansir Al Arabiya.
Turki baru-baru ini juga aktif melibatkan diri dalam perang yang sedang berlangsung di Libya ketika Ankara tengah berupaya untuk mengamankan pasokan gas alam di Mediterania Timur. Militer Turki dikerahkan untuk mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang didukung internasional melawan pasukan Khalifa Haftar yang didukung berbagai negara Teluk dan juga Rusia.
Didukung oleh tentara bayaran Suriah yang dikirim ke Libya oleh Turki, GNA telah mengambil alih sejumlah wilayah dalam beberapa bulan terakhir yang dikuasai Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar.
Benghazi tetap menjadi basis LNA, yang didukung oleh parlemen Libya yang berbasis di Tobruk dan negara-negara asing termasuk Mesir, Rusia, Prancis, dan Uni Emirat Arab.
Sebelum wabah Covid-19 muncul, pemerintah memperkirakan ekonomi tumbuh 5 persen tahun ini setelah pulih dari resesi tahun lalu. Turki saat ini memiliki jumlah kasus infeksi Covid-19 tertinggi ke-14 di dunia.
”Keuangan Ankara melemah sebelum pandemi — tetapi kombinasi utang luar negeri, krisis kesehatan masyarakat, dan seorang presiden yang memilih untuk melindungi reputasinya daripada kemampuan rakyatnya mengantisipasi bencana,” demikian bunyi artikel Foreign Policy yang dilansir Al Arabiya.
Turki baru-baru ini juga aktif melibatkan diri dalam perang yang sedang berlangsung di Libya ketika Ankara tengah berupaya untuk mengamankan pasokan gas alam di Mediterania Timur. Militer Turki dikerahkan untuk mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang didukung internasional melawan pasukan Khalifa Haftar yang didukung berbagai negara Teluk dan juga Rusia.
Didukung oleh tentara bayaran Suriah yang dikirim ke Libya oleh Turki, GNA telah mengambil alih sejumlah wilayah dalam beberapa bulan terakhir yang dikuasai Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar.
Benghazi tetap menjadi basis LNA, yang didukung oleh parlemen Libya yang berbasis di Tobruk dan negara-negara asing termasuk Mesir, Rusia, Prancis, dan Uni Emirat Arab.
Lihat Juga :