Analis: Ketakutan Jet Tempur Siluman F-35, Alasan Korut Tembakkan Banyak Rudal
Jum'at, 04 November 2022 - 14:24 WIB
loading...
A
A
A
“Korut tidak memiliki banyak minyak yang dibutuhkan untuk pesawat, sehingga pelatihan juga tidak dilakukan dengan baik,” imbuh dia.
Pyongyang menyebut latihan gabungan "Vigilant Storm adalah latihan militer agresif dan provokatif yang menargetkan Korea Utara.
Bahkan nama itu menyinggung Korea Utara, yang mengklaim itu terkait dengan "Operation Desert Storm [Operasi Badai Gurun]", serangan militer pimpinan AS di Irak pada 1990 hingga 1991 setelah invasi ke Kuwait.
Militer AS dan Korea Selatan telah berlatih bersama selama bertahun-tahun, dan latihan gabungan telah lama membuat marah Pyongyang, yang menganggapnya sebagai latihan untuk perang.
Pyongyang telah berulang kali membenarkan peluncuran misilnya sebagai "tindakan balasan" yang diperlukan untuk apa yang disebutnya sebagai kebijakan "bermusuhan" Amerika.
Pendukungnya di Beijing dan Moskow setuju, dan telah memblokir upaya pimpinan AS untuk memberikan sanksi kepada Pyongyang di PBB atas tes rudalnya, dengan mengatakan Washington bertanggung jawab karena memprovokasi Korea Utara dengan latihan tersebut.
"Tetapi rezim Kim mengancam perdamaian regional dengan senjata ilegal terutama karena tujuan revisionisnya terhadap Korea Selatan, bukan karena tindakan tertentu yang dilakukan atau tidak dilakukan Washington," kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul.
Pyongyang menyebut latihan gabungan "Vigilant Storm adalah latihan militer agresif dan provokatif yang menargetkan Korea Utara.
Bahkan nama itu menyinggung Korea Utara, yang mengklaim itu terkait dengan "Operation Desert Storm [Operasi Badai Gurun]", serangan militer pimpinan AS di Irak pada 1990 hingga 1991 setelah invasi ke Kuwait.
Militer AS dan Korea Selatan telah berlatih bersama selama bertahun-tahun, dan latihan gabungan telah lama membuat marah Pyongyang, yang menganggapnya sebagai latihan untuk perang.
Pyongyang telah berulang kali membenarkan peluncuran misilnya sebagai "tindakan balasan" yang diperlukan untuk apa yang disebutnya sebagai kebijakan "bermusuhan" Amerika.
Pendukungnya di Beijing dan Moskow setuju, dan telah memblokir upaya pimpinan AS untuk memberikan sanksi kepada Pyongyang di PBB atas tes rudalnya, dengan mengatakan Washington bertanggung jawab karena memprovokasi Korea Utara dengan latihan tersebut.
"Tetapi rezim Kim mengancam perdamaian regional dengan senjata ilegal terutama karena tujuan revisionisnya terhadap Korea Selatan, bukan karena tindakan tertentu yang dilakukan atau tidak dilakukan Washington," kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul.
(min)
Lihat Juga :