Putin-Xi Jinping Berpotensi Ambil Alih Kepemimpinan Dunia
Selasa, 07 Juli 2020 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
Khusus Putin, dia selalu ingin membalas dendam kepada AS. Menurut David, Putin perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa mewujudkan “dendamnya” kepada AS. “Putin yakin AS menghancurkan Uni Soviet. Dia sangat suka jika AS menderita,” kata David. (Baca juga: Dua Kapal Induknya Diancam Rudal Pembunuh China, Ini Respons AS)
Tak ingin terlihat kalah dari Putin, sentimen anti-Rusia juga dimainkan Trump beberapa waktu lalu. Gedung Putih menuding Rusia membayar gerilyawan Taliban untuk membunuh tentara AS di Afganistan. Kedutaan Besar Rusia di AS dan Taliban pun membantah tudingan tersebut.
Tak kelewatan, Trump juga tetap memainkan sentimen anti-China pada kampanye dan kebijakan menjelang pemilu presiden mendatang. Mulai dari menyalahkan virus corona dari China, perang dagang, hingga larangan penerbangan dari China. Sinofobia menjadi isu atraktif bagi Trump untuk menggaet dukungan publik AS.
"Sentimen negatif itu merupakan akibat kerusakan parah di AS sehingga perlunya strategi bertahan menjadikan hal buruk sebagai hal baik," kata Jude Blanchette, pakar China di Center for Strategic and International Studies.
Gerakan yang dibangun Trump ternyata cukup efektif. Jajak pendapat pada April lalu oleh Pew Research menyebutkan dua pertiga rakyat AS memiliki pandangan negatif terhadap China. "Trump memang tidak ingin dirinya disalahkan karena kegagalan di level domestik dan internasional," ujar pakar kawasan Asia-Pasifik di Council on Foreign Relations. (Baca juga: Putin: Amandemen Konstitusi Membuat Rusia Hindari Kesalahan Soviet)
Padahal, apa pun yang dilakukan Trump memang berdampak penting ke seluruh dunia. Rusaknya hubungan AS dengan China dan Rusia juga berdampak dengan terguncangnya geopolitik dan ekonomi global.
Namun, Jinping telah berhasil menerapkan undang-undang keamanan baru di Hong Kong yang dikecam dunia internasional. Dia justru meminta AS dan aliansinya tidak mencampuri urusan dalam negeri China. Di luar negeri, Jinping telah membagikan utang ke negara-negara berkembang dan miskin dengan menghidupkan kembali Jalur Sutra. Investasi China juga menyebar ke seluruh dunia.
Tak ingin terlihat kalah dari Putin, sentimen anti-Rusia juga dimainkan Trump beberapa waktu lalu. Gedung Putih menuding Rusia membayar gerilyawan Taliban untuk membunuh tentara AS di Afganistan. Kedutaan Besar Rusia di AS dan Taliban pun membantah tudingan tersebut.
Tak kelewatan, Trump juga tetap memainkan sentimen anti-China pada kampanye dan kebijakan menjelang pemilu presiden mendatang. Mulai dari menyalahkan virus corona dari China, perang dagang, hingga larangan penerbangan dari China. Sinofobia menjadi isu atraktif bagi Trump untuk menggaet dukungan publik AS.
"Sentimen negatif itu merupakan akibat kerusakan parah di AS sehingga perlunya strategi bertahan menjadikan hal buruk sebagai hal baik," kata Jude Blanchette, pakar China di Center for Strategic and International Studies.
Gerakan yang dibangun Trump ternyata cukup efektif. Jajak pendapat pada April lalu oleh Pew Research menyebutkan dua pertiga rakyat AS memiliki pandangan negatif terhadap China. "Trump memang tidak ingin dirinya disalahkan karena kegagalan di level domestik dan internasional," ujar pakar kawasan Asia-Pasifik di Council on Foreign Relations. (Baca juga: Putin: Amandemen Konstitusi Membuat Rusia Hindari Kesalahan Soviet)
Padahal, apa pun yang dilakukan Trump memang berdampak penting ke seluruh dunia. Rusaknya hubungan AS dengan China dan Rusia juga berdampak dengan terguncangnya geopolitik dan ekonomi global.
Namun, Jinping telah berhasil menerapkan undang-undang keamanan baru di Hong Kong yang dikecam dunia internasional. Dia justru meminta AS dan aliansinya tidak mencampuri urusan dalam negeri China. Di luar negeri, Jinping telah membagikan utang ke negara-negara berkembang dan miskin dengan menghidupkan kembali Jalur Sutra. Investasi China juga menyebar ke seluruh dunia.
Lihat Juga :