Putin-Xi Jinping Berpotensi Ambil Alih Kepemimpinan Dunia
Selasa, 07 Juli 2020 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
Ketegangan yang dibangun Trump dengan Putin dan Jinping kerap disebut dengan "perang dingin" antara kekuatan ekonomi besar. Konflik tersebut merupakan puncak dalam ketegangan selama tiga dekade terakhir yang klimaksnya dibangkitkan oleh Trump. "Tidak jelas bagaimana konflik tersebut akan berakhir," kata mantan asisten menteri luar negeri untuk Asia Timur dan Pasifik, Kurt Campbell. "Kita berperang saat Roma sudah terbakar."
Kekhawatirannya adalah ketika Trump kalah pada pemilu presiden mendatang. Itu akan menjadi kemenangan besar bagi Putin dan Jinping. Mereka berdua justru akan kembali menguatkan cengkeraman posisinya di geopolitik dan ekonomi global. Kekalahan Trump menjadi hasil akhir yang menyenangkan bagi mereka karena kandidat dari Partai Demokrat dikenal memiliki haluan kebijakan yang lunak terhadap China dan Rusia.
Di pihak lain, Joe Biden, kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, juga tidak memiliki rekam jejak di dunia internasional yang cukup mentereng. Meskipun, dia sudah dua kali menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Barack Obama dan berpengalaman sebagai anggota senat yang mengurusi kebijakan luar negeri. Figur Biden disebut terlalu lemah dibandingkan Putin dan Jinping yang sudah memiliki akar dan pengaruh yang kuat. (Lihat videonya: Mempelai pria Berikan Mahar Sandal Jepit dan Segelas Air Saat Ijab Kabul)
Meski demikian, Deputi Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Matthews membantahnya. “Presiden Trump merupakan negosiator kelas dunia yang konsisten memperjuangkan kepentingan AS di panggung dunia,” kata Mattews, dilansir CNN.
Hanya, banyak mantan para pejabat AS memiliki pandangan berbeda. Mereka berpikir Trump sebagai pemimpin yang dipenuhi delusi karena memiliki kemampuan membengkokkan pemimpin lain dalam agendanya. Trump dikenal presiden yang kerap mengganggu pemimpin asing lain agar menguntungkan dirinya. (Andika H Mustaqim)
Kekhawatirannya adalah ketika Trump kalah pada pemilu presiden mendatang. Itu akan menjadi kemenangan besar bagi Putin dan Jinping. Mereka berdua justru akan kembali menguatkan cengkeraman posisinya di geopolitik dan ekonomi global. Kekalahan Trump menjadi hasil akhir yang menyenangkan bagi mereka karena kandidat dari Partai Demokrat dikenal memiliki haluan kebijakan yang lunak terhadap China dan Rusia.
Di pihak lain, Joe Biden, kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, juga tidak memiliki rekam jejak di dunia internasional yang cukup mentereng. Meskipun, dia sudah dua kali menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Barack Obama dan berpengalaman sebagai anggota senat yang mengurusi kebijakan luar negeri. Figur Biden disebut terlalu lemah dibandingkan Putin dan Jinping yang sudah memiliki akar dan pengaruh yang kuat. (Lihat videonya: Mempelai pria Berikan Mahar Sandal Jepit dan Segelas Air Saat Ijab Kabul)
Meski demikian, Deputi Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Matthews membantahnya. “Presiden Trump merupakan negosiator kelas dunia yang konsisten memperjuangkan kepentingan AS di panggung dunia,” kata Mattews, dilansir CNN.
Hanya, banyak mantan para pejabat AS memiliki pandangan berbeda. Mereka berpikir Trump sebagai pemimpin yang dipenuhi delusi karena memiliki kemampuan membengkokkan pemimpin lain dalam agendanya. Trump dikenal presiden yang kerap mengganggu pemimpin asing lain agar menguntungkan dirinya. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :