Miliarder AS Kembali Usulkan Proposal Perdamaian untuk Ukraina dan Rusia

Kamis, 20 Oktober 2022 - 13:27 WIB
loading...
Miliarder AS Kembali...
Manajer dana lindung nilai miliarder Amerika Serikat (AS) Bill Ackman. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Ukraina harus mengakui Crimea sebagai bagian dari Rusia dan menolak tawarannya untuk bergabung dengan NATO demi perdamaian.

Ide itu diungkapkan manajer dana lindung nilai miliarder Amerika Serikat (AS) Bill Ackman.

Seperti halnya CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk sebelumnya, Ackman segera dikritik secara online karena menyarankan Kiev harus siap membuat konsesi untuk mengakhiri permusuhan.

“Crimea adalah bagian dari Rusia sampai tahun 1954 dan sebagian besar terdiri dari etnis Rusia, yang tampaknya mengapa dunia tidak berbuat banyak ketika Rusia mencaploknya kembali pada 2014,” ujar Ackman, CEO Pershing Square Capital Management, mentweet pada Senin.

Baca juga: Cerita Munculnya Jenderal Armagedon Rusia, dari Era Soviet hingga Perang Ukraina

Dia menambahkan perbatasan harus kembali ke tempat semula sebelum 24 Februari, ketika Rusia meluncurkan operasi militernya di negara tetangga dan sebelum empat bekas wilayah Ukraina memilih bergabung dengan Rusia.

Dia menambahkan Barat kemudian harus membantu Kiev dengan pemulihannya, sementara negara itu harus tetap berada di luar NATO.

“Ribuan nyawa akan diselamatkan dan sumber daya dapat diinvestasikan untuk membangun kembali (Ukraina) daripada dalam perang yang hanya akan menyebabkan lebih banyak kehancuran dan kematian,” tulis miliarder itu.

Baca juga: Putin Umumkan 4 Langkah Keamanan Baru di Rusia, Semua Terkait Perang

Dia menambahkan, “Jika ada jalan yang layak menuju perdamaian, kita harus mengejarnya. Setiap hari konflik berlanjut, risiko bagi dunia meningkat.”

Setelah menerima kritik online, Ackman mengklarifikasi pendiriannya pada Selasa. “Kemarin, saya menyarankan bahwa penyelesaian damai yang wajar mungkin adalah kembali ke perbatasan pada (24 Februari), Rencana Marshall untuk membangun kembali (Ukraina), dan keputusan (Ukraina) untuk tidak bergabung dengan NATO. Kemudian pisau keluar. Saya dituduh sebagai penolong dan lebih buruk,” tulis dia.

“Saya bertanya: apakah (Ukraina) lebih baik dalam perang berkepanjangan yang berlanjut yang menyebabkan 1.000 lebih kematian (Ukraina) dan meratakan negara atau apakah semacam penyelesaian yang dinegosiasikan masuk akal? … Saya sama sekali bukan ahli. Saya sedih melihat kematian dan kehancuran tanpa tanggal akhir yang jelas atau kesempatan untuk resolusi,” ungkap dia.

“Dalam penyelesaian yang dirundingkan, kedua belah pihak harus mengakui sesuatu atau tidak ada kesempatan untuk penyelesaian. Apa yang paling tidak dapat diterima oleh kedua belah pihak yang dapat diterima oleh keduanya? Apa yang saya lewatkan dalam analisis saya? Apa ide yang lebih baik yang Anda miliki?” bantah Ackman.

Komentar Ackman datang ketika lebih banyak tokoh masyarakat di Barat telah membuat saran untuk kemungkinan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

Kapitalis ventura dan pengusaha teknologi David Sacks mentweet pada Minggu bahwa AS harus mengusulkan gencatan senjata berdasarkan garis 23 Februari dan menjamin Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.

Musk menawarkan visinya sendiri tentang penyelesaian damai bulan ini, yang mencakup Ukraina yang mengakui Crimea sebagai wilayah Rusia.

Pejabat Kiev dan Barat dengan cepat mengecam Musk atas apa yang mereka anggap sebagai rencana yang sangat menguntungkan Moskow.

Negara-negara Barat tampaknya lebih suka melihat perang terus berlanjut antara Ukraina dan Rusia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
Iran Tinjau Lagi Perundingan...
Iran Tinjau Lagi Perundingan dengan AS setelah Eskalasi Terbaru
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Taiwan Luncurkan Puluhan...
Taiwan Luncurkan Puluhan Rudal HIMARS ke Arah China
Diserang AS Lagi, Iran...
Diserang AS Lagi, Iran Tutup Selat Hormuz Tembak 2 Kapal Tanker
Rekomendasi
Kejagung Geledah 6 Lokasi...
Kejagung Geledah 6 Lokasi terkait Korupsi MBG, Sasar Kantor dan Rumah Tersangka di Jakarta hingga Bandung
Canangkan Sensus Ekonomi...
Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Sulawesi Selatan, Kepala BPS RI Gaungkan Rumus TIR
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Berita Terkini
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
Iran Tinjau Lagi Perundingan...
Iran Tinjau Lagi Perundingan dengan AS setelah Eskalasi Terbaru
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved