Mantan Penasihat Pentagon Tuding 2 Kemungkinan Pelaku Peledakan Nord Stream

Selasa, 04 Oktober 2022 - 18:21 WIB
loading...
Mantan Penasihat Pentagon...
Mantan penasihat Pentagon dan purnawirawan Kolonel Angkatan Darat AS Douglas Macgregor. Foto/federalnewsnetwork.com
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dan Inggris adalah penyebab paling mungkin di balik serangan pekan lalu di jalur pipa Nord Stream.

Tudingan itu diungkap mantan penasihat Pentagon dan purnawirawan Kolonel Angkatan Darat AS Douglas Macgregor.

Dia berpendapat taktik sabotase akan membantu memastikan Jerman tidak dapat mundur dari mempersenjatai pasukan Ukraina melawan Rusia.

Baca juga: Zelensky Respons Tegas Proposal Perdamaian Elon Musk

Berbicara dalam wawancara dengan pembawa acara podcast Andrew Napolitano, Macgregor menepis anggapan bahwa Rusia bertanggung jawab atas ledakan yang menyebabkan kebocoran di saluran Nord Stream, yang membawa gas alam melintasi Laut Baltik ke Jerman.

“Rusia tidak melakukan ini,” ujar dia, mencatat bahwa ekonomi Rusia sangat bergantung pada ekspor energi.

Baca juga: Elon Musk Usulkan Rencana Perdamaian Ukraina, Apa Saja Isinya?

Dia menegaskan, "Gagasan bahwa mereka melakukannya, saya pikir, tidak masuk akal."

Macgregor merupakan penasihat khusus menteri pertahanan (menhan) di era Presiden AS Donald Trump saat itu.

Dia menunjukkan bahwa bahan peledak yang setara dengan ribuan pon TNT harus digunakan untuk menembus jaringan pipa.

"Anda memiliki beberapa inci beton di sekitar berbagai paduan logam untuk memindahkan gas alam, jadi itu bukan sesuatu yang Anda bisa menjatuhkan granat di ujung pancing dan mengganggu," papar dia, dilansir RT.

Mempertimbangkan tingkat kecanggihan yang diperlukan untuk melakukan serangan semacam itu, Macgregor menjelaskan, “Anda harus melihat siapa aktor negara yang memiliki kemampuan melakukan ini, dan itu berarti operasi khusus Angkatan Laut Kerajaan (Inggris), Angkatan Laut Amerika Serikat.”

Dia mencatat bahwa mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Polandia Radoslaw Sikorski bereaksi terhadap serangan Nord Stream dengan mengatakan, "Terima kasih, AS."

“Ledakan pipa terjadi pada saat para pemimpin Jerman mulai memberi kesan bahwa mereka tidak lagi akan mengikuti perang proksi di Ukraina ini," ujar Macgregor.

Dia menambahkan, “Sangat jelas bahwa kita telah mengambil alih opsi Berlin. Berlin menjauh dari aliansi ini. (Kanselir Jerman) Olaf Scholz berkata, 'Saya tidak akan mengirim peralatan lagi. Saya tidak akan mengirim tank apa pun.'”

“Sekarang Scholz terikat karena Amerika Serikat telah merampas pilihannya untuk keluar. Siapa yang akan memasok dia gas dan minyak serta batubara dan segala sesuatu yang lain jika dia bail out? Ke mana dia berpaling sekarang?” papar dia.

Namun, Macgregor mengatakan strategi seperti itu bisa menjadi bumerang karena konsekuensi dari krisis Ukraina menyebabkan lebih banyak penderitaan di antara rakyat Jerman.

Sama seperti rakyat Italia memilih pemimpin mereka, partai yang berkuasa di Scholz mungkin jatuh, menurut dia.

“Saya pikir kita berada di jalan yang sangat licin dan berbahaya yang tidak pernah kita inginkan, yang merupakan jalan menuju akhir NATO,” ungkap dia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay: Lebih dari Olahraga, Ini Hari Bersejarah!
Rekomendasi
Cara Efisien Pengurusan...
Cara Efisien Pengurusan Paspor dan Visa untuk Perjalanan Bisnis Perusahaan
Tarif Listrik Juli-September...
Tarif Listrik Juli-September Tak Naik, Cek Harga per kWh Semua Golongan
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Prabowo Potong Tumpeng dan Serahkan ke Kapolri
Berita Terkini
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Infografis
5 Badan Intelijen Terbaik...
5 Badan Intelijen Terbaik pada 2025, Nomor 2 Paling Kejam dan Kontroversial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved