Rusia Pecat Komandan Armada Laut Hitam setelah Krimea Dihajar Ukraina

Kamis, 18 Agustus 2022 - 06:01 WIB
loading...
Rusia Pecat Komandan Armada Laut Hitam setelah Krimea Dihajar Ukraina
Armada kapal perang Rusia mengikuti parade saat matahari terbenam di pelabuhan Sevastopol, Laut Hitam, Krimea, 27 Juli 2019. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Rusia telah mengganti komandan Armada Laut Hitam yang berbasis di Krimea, menurut laporan kantor berita negara pada Rabu (17/8/2022).

Langkah itu terjadi setelah serangkaian ledakan mengguncang semenanjung Krimea yang dicaplok Rusia pada tahun 2014. Krimea sebelumnya dianggap sebagai pangkalan belakang yang aman untuk perang yang dilancarkan Rusia di Ukraina.

Moskow menyalahkan penyabotase atas ledakan yang menghancurkan gudang amunisi di Krimea utara pada Selasa.

“Kepulan asap kemudian terlihat membubung di pangkalan militer Rusia kedua di Krimea tengah,” ungkap laporan surat kabar Kommersant Rusia.

Baca juga: China Blak-blakan Akui Latihan Militer Bersama Rusia Tahun Ini

Ukraina belum secara resmi mengaku tanggung jawab tetapi telah mengisyaratkan hal itu.

Kemampuan Ukraina yang tampak untuk menyerang lebih dalam ke wilayah yang diduduki Rusia, dengan beberapa senjata atau melalui sabotase, menunjukkan pergeseran dalam konflik.

Baca juga: Laboratorium Senjata Era Soviet di Rusia Perbarui Fasilitas Pengujian

Ledakan juga menghancurkan pesawat tempur di pangkalan udara Angkatan Laut Rusia di Krimea pekan lalu.

Pada Rabu, kantor berita Rusia RIA mengutip sumber yang mengatakan Komandan Armada Laut Hitam Rusia, Igor Osipov, telah diganti dengan komandan baru, Viktor Sokolov.

Jika dikonfirmasi, langkah itu akan menandai salah satu pemecatan paling menonjol terhadap seorang pejabat militer sejauh ini dalam perang, di mana Rusia telah menderita kerugian besar dalam hal personel dan peralatan.

RIA mengutip sumber yang mengatakan komandan baru itu diperkenalkan kepada anggota dewan militer armada di pelabuhan Sevastopol, Krimea.

Armada Laut Hitam, yang memiliki sejarah terhormat di Rusia, telah mengalami beberapa penghinaan sejak Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai “operasi militer khusus” pada 24 Februari.

Pada April, Ukraina menyerang kapal andalannya, Moskva, kapal penjelajah besar, dengan rudal Neptunus.

Itu menjadi kapal perang terbesar yang tenggelam dalam pertempuran selama 40 tahun terakhir.

Krimea, yang direbut Rusia dari Ukraina pada tahun 2014 dan telah diperkuat secara ekstensif sejak saat itu, menyediakan rute pasokan utama bagi pasukan Rusia di Ukraina selatan, di mana Kiev merencanakan serangan balasan dalam beberapa pekan mendatang.

Intelijen militer Ukraina mengatakan setelah ledakan baru-baru ini di Krimea, pasukan Rusia segera memindahkan beberapa pesawat dan helikopter mereka lebih dalam ke semenanjung dan ke lapangan terbang di dalam Rusia. Reuters tidak dapat memverifikasi informasi secara independen.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak Kiev menjauhi pangkalan militer Rusia dan gudang amunisi dan mengatakan ledakan itu bisa disebabkan oleh berbagai penyebab, termasuk ketidakmampuan.

"Tetapi mereka semua memiliki arti yang sama, penghancuran logistik penjajah, amunisi mereka, peralatan militer dan lainnya, dan pos komando, menyelamatkan nyawa orang-orang kami," ujar dia dalam pidato malam pada Selasa.

Pada Rabu, dinas keamanan FSB Rusia mengatakan telah menahan enam anggota dari apa yang disebutnya sel teroris di Krimea, meskipun tidak mengatakan apakah mereka dicurigai terlibat dalam ledakan tersebut.

Armada Laut Hitam Rusia juga dituding memblokade pelabuhan Ukraina sejak awal perang, menghalangi ekspor biji-bijian penting, yang baru sekarang mulai bergerak lagi di bawah perjanjian yang ditengahi oleh Turki dan PBB.

Tiga kapal lainnya meninggalkan Ukraina pada Rabu, menurut Kementerian Infrastruktur di halaman Facebook-nya.

"Pagi ini, tiga kapal dengan produk makanan Ukraina meninggalkan pelabuhan Chornomorsk dan Odesa... Lebih dari 33.000 ton produk pertanian ada di dalamnya," papar pernyataan itu.

Perang telah menyebabkan jutaan orang melarikan diri, membunuh ribuan orang dan memperdalam keretakan geopolitik antara Barat dan Rusia.

Rusia mengatakan tujuan operasinya adalah demiliterisasi tetangganya dan melindungi komunitas berbahasa Rusia.

Ukraina, yang melepaskan diri dari kekuasaan Moskow ketika Uni Soviet bubar pada 1991, menuduh Rusia melancarkan perang penaklukan ala kekaisaran.

Pavlo Kyrylenko, gubernur wilayah Donetsk timur, yang telah menyaksikan beberapa pertempuran paling sengit, mengatakan pada Rabu pagi bahwa dua warga sipil tewas dan tujuh orang terluka dalam penembakan oleh pasukan Rusia dalam 24 jam terakhir.

Pemerintah Ukraina telah memerintahkan evakuasi massal di Donetsk, tetapi bagi satu pasangan di peternakan kecil di dekat kota Kramatorsk, pergi bukanlah pilihan.

“Nenek tidak bisa diangkut, usianya hampir 100 tahun,” ujar Nataliia Ataiantz (47) saat memeriksa wanita tua itu.

Bagi suaminya, Oleksandr, gagasan untuk pergi adalah "menakutkan". “Orang tua kami dimakamkan di sini. Dan ini tanah kita juga... kemana kita harus pergi, ke luar negeri?” pungkas dia.

(sya)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1411 seconds (10.177#12.26)