AS Tuding Rusia dan Iran Lakukan Perdagangan Manusia dan Kerja Paksa
Rabu, 20 Juli 2022 - 14:11 WIB
loading...
Ilustrasi
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menempatkan Rusia pada daftar negara-negara yang terlibat dalam "kebijakan atau pola" perdagangan manusia dan kerja paksa, atau yang pasukan keamanannya dan kelompok bersenjata yang didukung pemerintah merekrut atau menggunakan tentara anak.
Departemen Luar Negeri AS memasukkan daftar tersebut dalam laporan perdagangan manusia tahunannya, yang untuk pertama kalinya ditampilkan di bawah mandat kongres 2019 bagian “Perdagangan Orang yang Disponsori Negara”.
Baca: Putin Kunjungi Iran, AS: Betapa Terisolasinya Rusia
Rusia sering muncul di seluruh laporan karena invasi 24 Februari ke Ukraina, dan apa yang disebut dokumen itu sebagai kerentanan terhadap perdagangan jutaan pengungsi Ukraina di negara-negara tempat mereka melarikan diri.
"Jutaan orang Ukraina harus meninggalkan rumah mereka, beberapa meninggalkan negara itu sama sekali, sebagian besar hanya membawa apa yang bisa mereka bawa," kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam sebuah upacara saat dia mempresentasikan laporan tersebut, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (19/7/2022).
“Itu membuat mereka sangat rentan terhadap eksploitasi,” lanjut Blinken. Blinken mengatakan saat ini ada hampir 25 juta korban perdagangan manusia di seluruh dunia. Kedutaan Rusia di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar atas tuduhan laporan tersebut.
Selain Rusia, bagian sponsor negara yang baru mencantumkan Afghanistan, Burma, Kuba, Iran, Korea Utara, dan lima negara lain dengan "'kebijakan atau pola' perdagangan manusia yang terdokumentasi," kerja paksa di sektor-sektor yang berafiliasi dengan pemerintah, seksual perbudakan di kamp-kamp pemerintah atau yang mempekerjakan atau merekrut tentara anak.
Departemen Luar Negeri AS memasukkan daftar tersebut dalam laporan perdagangan manusia tahunannya, yang untuk pertama kalinya ditampilkan di bawah mandat kongres 2019 bagian “Perdagangan Orang yang Disponsori Negara”.
Baca: Putin Kunjungi Iran, AS: Betapa Terisolasinya Rusia
Rusia sering muncul di seluruh laporan karena invasi 24 Februari ke Ukraina, dan apa yang disebut dokumen itu sebagai kerentanan terhadap perdagangan jutaan pengungsi Ukraina di negara-negara tempat mereka melarikan diri.
"Jutaan orang Ukraina harus meninggalkan rumah mereka, beberapa meninggalkan negara itu sama sekali, sebagian besar hanya membawa apa yang bisa mereka bawa," kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam sebuah upacara saat dia mempresentasikan laporan tersebut, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (19/7/2022).
“Itu membuat mereka sangat rentan terhadap eksploitasi,” lanjut Blinken. Blinken mengatakan saat ini ada hampir 25 juta korban perdagangan manusia di seluruh dunia. Kedutaan Rusia di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar atas tuduhan laporan tersebut.
Selain Rusia, bagian sponsor negara yang baru mencantumkan Afghanistan, Burma, Kuba, Iran, Korea Utara, dan lima negara lain dengan "'kebijakan atau pola' perdagangan manusia yang terdokumentasi," kerja paksa di sektor-sektor yang berafiliasi dengan pemerintah, seksual perbudakan di kamp-kamp pemerintah atau yang mempekerjakan atau merekrut tentara anak.
Lihat Juga :