Eks Komandan NATO Serukan Penghancuran Jembatan Terpanjang Eropa dengan Rudal Canggih AS

Sabtu, 09 Juli 2022 - 16:29 WIB
loading...
Eks Komandan NATO Serukan...
Mantan komandan NATO menyerukan Ukraina menghancurkan Jembatan Kerch penghubung Crimea dengan daratan Rusia setelah Kiev dipasok rudal Harpoon AS. Foto/Odessa-Journal.com
A A A
LONDON - Mantan komandan NATO, Jenderal Philip Breedlove, menyerukan penghancuran Jembatan Kerch dengan rudal canggih Harpoon Ukraina pasokan Amerika Serikat (AS). Jembatan itu menghubungkan Crimea dengan daratan Rusia .

Menurut Breedlove, Jembatan Kerch adalah target sah bagi militer Ukraina dalam perang melawan invasi Rusia.

Breedlove kepada The Times mengatakan Kiev sekarang memiliki kemampuan untuk mencoba dan menyerang jembatan itu dengan rudal anti-kapal Harpoon.

“Jembatan Kerch adalah target yang sah,” katanya."Sama sekali tidak mengejutkan saya bahwa Rusia khawatir tentang jembatan Kerch. Ini sangat penting bagi mereka," ujarnya.

"Sekarang Barat telah memberikan rudal Harpoon [kepada] Ukraina, saya pikir Rusia memiliki banyak alasan untuk khawatir tentang Ukraina meluncurkan serangan di jembatan," paparnya.

Baca juga: Ukraina Ancam Hancurkan Jembatan Terpanjang Eropa dengan Rudal Canggih AS

Breedlove mengeklaim serangan seperti itu dapat terwujud sebagai pembalasan terhadap Moskow yang memperketat blokade Angkatan Laut di Ukraina.

Rusia telah berulang kali menyatakan bahwa mereka siap untuk memberikan jalan yang aman untuk kapal-kapal kapal pembawa gandum dari Ukraina, menunjukkan bahwa serangan berat di pantai Ukraina dilakukan oleh militer Kiev, yang menjadi satu-satunya hambatan nyata untuk melanjutkan ekspor gandum melalui laut.

“Ada banyak pemimpin Barat dan mantan pemimpin seperti saya yang sedang berdiskusi sekarang tentang apa yang akan terjadi jika Rusia mulai menenggelamkan kapal gandum Ukraina atau jika blokade Angkatan Laut Rusia menjadi kinetik,” kata Breedlove.

"Beberapa orang yang saya ajak bicara mengatakan meruntuhkan Jembatan Kerch akan menjadi pukulan besar bagi Rusia. Jembatan Kerch adalah target yang sah," ujarnya, seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (9/7/2022).

Menurutnya, menghancurkan jembatan sepenuhnya akan membutuhkan operasi pengeboman khusus, namun membuatnya rusak untuk sementara harus menjadi tugas yang cukup sederhana.

"Semua jembatan memiliki titik lemah dan menghantamnya dapat membuat Jembatan Kerch tidak dapat digunakan untuk jangka waktu tertentu," imbuh jenderal tersebut, mengutip pelatihan insinyur sipilnya sebagai bukti keahlian.

Crimea memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia pada Maret 2014, menyusul kudeta Maidan yang didukung AS di Kiev. Namun, Kiev dan sekutu Barat-nya tidak bisa menerimanya dan menganggap wilayah itu dianeksasi Moskow.

Gagasan menghancurkan Jembatan Kerch sudah kerap disuarakan para pejabat tinggi Ukraina sejak Kiev menerima pasokan senjata canggih dari Barat. Sama seperti Breedlove, para pejabat Kiev menganggap jembatan itu sebagai target sah dalam perang.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Perjanjian Damai dengan...
Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
Rekomendasi
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Prabowo Gandeng Imperial...
Prabowo Gandeng Imperial College London Bangun 10 Universitas Kedokteran di Indonesia
Berita Terkini
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved