Minta Turun Hujan, Wali Kota Ini Nikahi Buaya

Sabtu, 02 Juli 2022 - 01:45 WIB
loading...
Minta Turun Hujan, Wali Kota Ini Nikahi Buaya
Wali kota di Meksiko menikahi buaya berumur 7 tahun dalam upacara tradisional. Pernikahan tak biasa ini bagian dari ritual untuk meminta turun hujan. Foto/Ayuntamiento De San Pedro Huamelula
A A A
SAN PEDRO HUAMELULA - Seorang wali kota di Meksiko menikahi buaya dalam upacara tradisional yang penuh warna. Pernikahan ini bagian dari ritual untuk meminta alam menurunkan hujan.

Pernikahan ini diramaikan dengan musik tradisional dan orang-orang yang bersuka ria menari sambil memohon kepada pemimpin adat untuk mengesahkan pernikahan tersebut dengan adegan ciuman pasangan pengantin.

Wali Kota San Pedro Huamelula, Victor Hugo Sosa, mewajibkan lebih dari sekali selama pernikahan hari Kamis, membungkuk untuk mendaratkan bibirnya di moncong buaya kecil, yang telah diikat tertutup untuk menghindari gigitan yang tidak diinginkan.

Ritual pernikahan tak biasa ini kemungkinan berasal dari tradisi berabad-abad era pra-Hispanik di antara komunitas adat Chontal dan Huave negara bagian Oaxaca. Itu merupakan tradisi doa memohon karunia alam.

"Kami meminta hujan yang cukup kepada alam, untuk makanan yang cukup, sehingga kami memiliki ikan di sungai," kata Sosa, wali kota wilayah nelayan di pantai Pasifik yang beruap di Oaxaca.

Baca juga: Harga Daging Babi Naik, Warga Thailand Beralih ke Daging Buaya

Oaxaca, yang terletak di bagian selatan Meksiko yang miskin, bisa dibilang negara terkaya dalam budaya asli dan rumah bagi banyak kelompok yang dengan keras kepala mempertahankan bahasa dan tradisi mereka.

Ritual kuno di San Pedro Huamelula, yang sekarang bercampur dengan spiritualitas Katolik, melibatkan mendandani buaya atau caiman dengan gaun pengantin putih ditambah pakaian warna-warni lainnya.

Reptil berusia tujuh tahun, disebut sebagai "putri kecil", diyakini sebagai dewa yang mewakili Ibu Pertiwi, dan pernikahannya dengan pemimpin lokal melambangkan penyatuan manusia dengan dewa.

Saat terompet dibunyikan dan genderang memberikan irama yang meriah, penduduk setempat membawa pengantin buaya di tangan mereka melalui jalan-jalan desa saat para pria mengipasinya dengan topi mereka.

"Ini memberi saya begitu banyak kebahagiaan dan membuat saya bangga dengan akar saya," kata Elia Edith Aguilar, yang dikenal sebagai ibu baptis yang mengatur pernikahan.

Dia mengatakan bahwa dirinya merasa istimewa untuk dipercayakan untuk melaksanakan upacara, dan mencatat bahwa dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan dikenakan pengantin wanita.

"Ini tradisi yang sangat indah," ujarnya sambil tersenyum, seperti dikutip AFP, Jumat (1/7/2022).
(min)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1985 seconds (11.210#12.26)