Ukraina Siap Bertarung dengan Sekop jika Tak Ada Senjata Barat

Senin, 20 Juni 2022 - 18:37 WIB
loading...
Ukraina Siap Bertarung...
Anggota Pasukan Pertahanan Teritorial berjaga di pos pemeriksaan di Kiev, Ukraina, 3 Maret 2022. Foto/REUTERS/Mykola Tymchenko
A A A
KIEV - Ukraina akan terus berperang melawan Rusia bahkan jika tidak memiliki senjata apa pun. Jadi, Barat harus mempercepat pengiriman senjatanya ke Ukraina atau bertanggung jawab atas kematian pasukan Kiev.

Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina Dmitry Kuleba kepada media Jerman, Minggu (19/6/2022).

“Jika kita tidak mendapatkan senjata, baiklah. Kemudian kita akan bertarung dengan sekop. Tapi kami akan terus membela diri karena ini adalah perang untuk keberadaan kami,” papar Kuleba dalam wawancara dengan badan penyiar publik ARD.

Baca juga: Rakyat Kolombia Pilih Presiden Sayap Kiri untuk Pertama Kali

“Semakin cepat kita mendapatkan senjata, semakin cepat mereka dikirim, semakin baik mereka akan berguna bagi kami. Kalau mereka datang terlambat, kami akan tetap berterima kasih, tapi nanti akan banyak sampah, dan banyak orang akan meninggal saat itu,” ujar dia.

Baca juga: Mengejutkan, Lebih dari 800 Masjid Diserang di Jerman sejak 2014

Dia membuat pernyataan selama diskusi panel dengan pembawa acara talk show politik Anne Will.

Daftar tamu dalam acara itu juga termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan beberapa politisi dan pakar politik Jerman.

Kuleba mengatakan artileri Rusia mengalahkan Ukraina di Donbass 15 banding 1, mirip pernyataan yang dibuat beberapa pejabat senior Ukraina akhir-akhir ini.

“Kiev tidak bisa menang dengan ketidakseimbangan kekuatan seperti itu,” ungkap menteri luar negeri Ukraina itu.

“Politisi Barat, yang percaya Kiev harus membuat konsesi ke Rusia dan setuju menyelesaikan konflik dengan perjanjian damai karena situasi yang mengerikan di medan perang, salah,” papar Kuleba.

Ukraina memiliki beberapa persediaan militer terbesar di antara bekas republik Soviet ketika Uni Soviet bubar.

Sekarang Ukraina dikatakan kehilangan hingga setengah dari senjata beratnya saat berperang melawan Rusia dan sekutunya di Donbass.

Kiev telah memohon kepada Barat untuk mengirimkan senjata artileri, tank, dan jet tempur, tetapi hanya menerima sebagian kecil dari apa yang mereka minta.

Sekutu Ukraina mengatakan mereka khawatir Moskow dapat menganggap pengiriman senjata sebagai eskalasi yang serius, dan Moskow mungkin menganggap pemasok sebagai bagian dari permusuhan, klaim pejabat Barat.

Moskow memperingatkan setiap bantuan militer yang diberikan ke Ukraina meningkatkan dan memperpanjang konflik.

Rusia menuduh lawan-lawannya mengobarkan "perang sampai warga Ukraina terakhir" melawan Rusia.

Rusia menyerang negara tetangga pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Berpengalaman di Perang...
Berpengalaman di Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Jarak Jauh RQ-70 Dainn
Iran-AS Capai Kesepakatan...
Iran-AS Capai Kesepakatan Damai, Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon
Trump: Jika Iran Tak...
Trump: Jika Iran Tak Berperilaku Baik, Kita Akan Jatuhkan Bom di Kepala Mereka
Rekomendasi
Main Sinetron Stripping,...
Main Sinetron Stripping, Gisel Sempet Galau Pikirkan Gempi
Saat Messi Bersinar,...
Saat Messi Bersinar, Ronaldo Justru Tenggelam
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Berita Terkini
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Infografis
10 Negara dengan Pria...
10 Negara dengan Pria Tertampan di Dunia, Siap Bikin Jatuh Hati!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved