Iran Ajukan Satu Syarat untuk Berdialog dengan AS
Rabu, 24 Juni 2020 - 19:32 WIB
loading...
Presiden Iran Hassan Rouhani menuturkan, Iran siap berbicara jika Amerika Serikat terlebih dahulu meminta maaf atas keputusannya mundur dari kesepakatan nuklir. Foto/REUTERS
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran, Hassan Rouhani menuturkan, Teheran siap melakukan pembicaraan dengan Washington. Namun, Rouhani menuturkan, Iran siap berbicara jika Amerika Serikat (AS) terlebih dahulu meminta maaf atas keputusannya mundur dari kesepakatan nuklir.
Iran telah beberapa kali menolak untuk mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat, yang berusaha memaksa Teheran untuk menegosiasikan kesepakatan baru, kecuali jika Washington mencabut sanksi terhadap Teheran dan kembali ke perjanjian semula.
( Baca juga: Iran Bangun Pangkalan Militer Baru di Samudera Hindia )
Dalam sebuah tweet pada awal Juni, Presiden AS, Donald Trump mengulangi seruan Washington untuk membuat kesepakatan baru dengan Teheran yang bertujuan untuk membatasi kerja nuklir Teheran, membatasi program rudal balistiknya dan mengakhiri dekade perang proksi regionalnya.
"Kami tidak memiliki masalah dengan perundingan dengan AS, tetapi hanya jika Washington memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan nuklir, meminta maaf dan memberikan kompensasi Teheran atas penarikannya dari kesepakatan 2015," kata Rouhani.
"Tapi kita tahu, seruan untuk mengadakan pembicaraan dengan Teheran itu hanya kata-kata dan kebohongan," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Rabu (24/6/2020).
Sebagai balasan atas kebijakan 'tekanan maksimum' Washington, Iran secara bertahap mengurangi komitmen nuklirnya, sebuah proses yang menurut Teheran dapat dibalik jika negara Eropa yang menjadi bagian perjanjian nuklir melaksanakan janji-janji mereka untuk melindungi ekonomi Iran dari sanksi AS.
( Baca juga: Pandemi Covid-19 Sebabkan Kerawanan Pilkada 2020 Meningkat )
"Orang-orang Eropa telah gagal memenuhi janji-janji mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka," kata Rouhani.
Iran telah beberapa kali menolak untuk mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat, yang berusaha memaksa Teheran untuk menegosiasikan kesepakatan baru, kecuali jika Washington mencabut sanksi terhadap Teheran dan kembali ke perjanjian semula.
( Baca juga: Iran Bangun Pangkalan Militer Baru di Samudera Hindia )
Dalam sebuah tweet pada awal Juni, Presiden AS, Donald Trump mengulangi seruan Washington untuk membuat kesepakatan baru dengan Teheran yang bertujuan untuk membatasi kerja nuklir Teheran, membatasi program rudal balistiknya dan mengakhiri dekade perang proksi regionalnya.
"Kami tidak memiliki masalah dengan perundingan dengan AS, tetapi hanya jika Washington memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan nuklir, meminta maaf dan memberikan kompensasi Teheran atas penarikannya dari kesepakatan 2015," kata Rouhani.
"Tapi kita tahu, seruan untuk mengadakan pembicaraan dengan Teheran itu hanya kata-kata dan kebohongan," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Rabu (24/6/2020).
Sebagai balasan atas kebijakan 'tekanan maksimum' Washington, Iran secara bertahap mengurangi komitmen nuklirnya, sebuah proses yang menurut Teheran dapat dibalik jika negara Eropa yang menjadi bagian perjanjian nuklir melaksanakan janji-janji mereka untuk melindungi ekonomi Iran dari sanksi AS.
( Baca juga: Pandemi Covid-19 Sebabkan Kerawanan Pilkada 2020 Meningkat )
"Orang-orang Eropa telah gagal memenuhi janji-janji mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka," kata Rouhani.
(esn)
Lihat Juga :