Diplomat China: Sanksi Tak Akan Munculkan Perdamaian di Ukraina
Jum'at, 13 Mei 2022 - 04:20 WIB
loading...
Diplomat China: Sanksi Tak Akan Munculkan Perdamaian di Ukraina. FOTO/Reuters
A
A
A
KIEV - Perwakilan China untuk PBB, Dai Bing pada Kamis (12/5/2022) mengatakan, sanksi tidak akan mengarah pada perdamaian di Ukraina , tetapi hanya akan berkontribusi pada krisis pangan dan energi.
"Sanksi tidak akan menjamin perdamaian, itu hanya akan mempercepat penyebaran krisis pangan dan bahan bakar," katanya pada pertemuan Dewan Keamanan PBB. "Akibatnya, anak-anak di seluruh dunia akan membayar harga tertinggi untuk ini," lanjutnya, seperti dikutip dari TASS.
Baca: Putin: Barat Siap Korbankan Dunia untuk Raih Dominasi Global
"Kami berharap Rusia dan Ukraina akan terus meningkatkan koordinasi dalam masalah kemanusiaan, serta melakukan segala kemungkinan untuk mengurangi konsekuensi kemanusiaan dari konflik tersebut," kata diplomat itu.
"Kami menyerukan Rusia dan Ukraina untuk kembali ke jalur negosiasi dan terus menciptakan kondisi politik untuk pemulihan perdamaian," tambahnya.
Pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus sebagai tanggapan atas permintaan bantuan dari kepala republik Donbass. Dia menekankan bahwa Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina, tetapi bertujuan untuk demiliterisasi dan de-Nazifikasi negara tersebut.
Baca: Mulai Terbiasa dengan Perang, Warga Kiev Pilih Kembali ke Rumah
"Sanksi tidak akan menjamin perdamaian, itu hanya akan mempercepat penyebaran krisis pangan dan bahan bakar," katanya pada pertemuan Dewan Keamanan PBB. "Akibatnya, anak-anak di seluruh dunia akan membayar harga tertinggi untuk ini," lanjutnya, seperti dikutip dari TASS.
Baca: Putin: Barat Siap Korbankan Dunia untuk Raih Dominasi Global
"Kami berharap Rusia dan Ukraina akan terus meningkatkan koordinasi dalam masalah kemanusiaan, serta melakukan segala kemungkinan untuk mengurangi konsekuensi kemanusiaan dari konflik tersebut," kata diplomat itu.
"Kami menyerukan Rusia dan Ukraina untuk kembali ke jalur negosiasi dan terus menciptakan kondisi politik untuk pemulihan perdamaian," tambahnya.
Pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus sebagai tanggapan atas permintaan bantuan dari kepala republik Donbass. Dia menekankan bahwa Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina, tetapi bertujuan untuk demiliterisasi dan de-Nazifikasi negara tersebut.
Baca: Mulai Terbiasa dengan Perang, Warga Kiev Pilih Kembali ke Rumah
Lihat Juga :