Biden Hidupkan Lagi UU Senjata era Perang Dunia II untuk Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 - 07:45 WIB
loading...
Biden Hidupkan Lagi...
Presiden AS Joe Biden memegang tangan Wakil Presiden Kamala Harris saat Senator Ben Cardin dan anggota DPR Victoria Spartz menunggu Biden menandatangani UU Lend-Lease Act of 2022 di Gedung Putih, Washington, 9 Mei 2022. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Senin (9/5/2022) menandatangani Lend-Lease Act of 2022 menjadi undang-undang (UU).

Undang-undang tersebut, yang sebelumnya digunakan untuk mempersenjatai Sekutu dalam Perang Dunia II, akan mempercepat pengiriman senjata AS ke Ukraina. Kehadiran UU itu disambut hangat di Kiev.

Berbicara ketika dia menandatangani undang-undang di Gedung Putih, Biden bersumpah untuk terus mempersenjatai Ukraina “dalam perjuangan mereka untuk membela negara dan demokrasi mereka.”

Baca juga: Zelensky Berbagi Gambar Prajurit dengan Lencana Nazi

Dia menambahkan, “Biaya pertarungan tidak murah tetapi menyerah pada agresi bahkan lebih mahal.”

Baca juga: WHO Krim 20 Unit Ambulans Segala Medan ke Ukraina

Undang-undang tersebut, yang disahkan Kongres bulan lalu dengan 417-10 suara di DPR dan tidak ada perbedaan pendapat di Senat, menangguhkan pembatasan jumlah senjata dan perlengkapan militer lainnya yang dapat dikirim Biden ke Ukraina atau "negara-negara Eropa Timur lainnya".

Baca juga: Analis Swiss: Embargo Minyak Uni Eropa Malah Menguntungkan Rusia

Meskipun demikian, UU itu menetapkan bahwa Ukraina selanjutnya harus membayar apa pun yang diterimanya.

Senjata yang dikirim berdasarkan Undang-undang ini terpisah dari bantuan militer senilai hampir USD4 miliar yang telah dikirim AS ke Ukraina sejak dimulainya operasi militer Rusia pada Februari.

UU itu juga terpisah dari bantuan militer senilai USD33 miliar yang baru-baru ini diminta presiden kepada Kongres untuk disetujui.

UU pinjaman-sewa yang asli diberlakukan oleh Presiden AS Franklin Delano Roosevelt pada Maret 1941, sembilan bulan sebelum AS memasuki Perang Dunia II dan berjumlah USD50,1 miliar (USD980 miliar pada 2022) pada September 1945.

Meskipun Sekutu, termasuk Uni Soviet, telah seharusnya membayar bantuan ini, AS juga menerima sewa pangkalan untuk militernya.

Kemampuan Kiev membayar AS saat ini dipertanyakan, mengingat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini meminta AS dan Uni Eropa (UE) sebesar USD7 miliar per bulan hanya untuk menjaga negaranya tetap bertahan.

Bahwa Biden memilih 9 Mei untuk menandatangani tindakan era Perang Dunia II kemungkinan besar disengaja, mengingat tanggal ini diperingati sebagai “Hari Kemenangan” setiap tahun di Rusia dan sejumlah negara bekas Soviet. Hari itu untuk memperingati kekalahan fasisme di akhir Perang Dunia II.

Biden mengacu pada kekalahan Nazi Jerman selama upacara penandatanganan pada Senin, tetapi tidak menyebutkan Hari Kemenangan.

Sebaliknya dia mencatat bahwa Komunitas Batubara dan Baja Eropa, yang berkembang menjadi Uni Eropa, dibentuk pada 9 Mei 1950.

Penandatanganan undang-undang tersebut disambut Kiev, dengan Zelensky menyatakannya sebagai “langkah bersejarah” yang akan membantu Ukraina dan AS “menang bersama lagi … seperti 77 tahun yang lalu.”

Meskipun Zelensky mengacu pada Perang Dunia II dalam pernyataannya, buku-buku sejarah negara modern sering menyebutnya sebagai “perang Jerman-Soviet”, dan kolaborator Nazi seperti Stepan Bandera sekarang menjadi pahlawan nasional di Ukraina.

Sebelumnya pada Senin, Zelensky menandai Hari Kemenangan dengan memposting foto seorang tentara Ukraina yang mengenakan lencana Nazi Waffen SS ke akun media sosialnya, sebelum menghapus gambar tersebut.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Arkeolog Arab Saudi...
Arkeolog Arab Saudi Temukan Prasasti Bertulis Khalifah Umar bin Khattab
Rekomendasi
BPDP Dorong UMKM Perkebunan...
BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas lewat Inovasi Produk
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Jangan Sampai Lolos!...
Jangan Sampai Lolos! BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Promo Gila-gilaan dari Rumah, Mobil, sampai Tiket Liburan
Berita Terkini
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
Infografis
Jerman Kehabisan Senjata...
Jerman Kehabisan Senjata untuk Dipasok ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved